Perceraian

39 1 0
                                        

5 Tahun kemudian...

Brakkk

Prangg

"Kau!!" Teriak seorang pria dengan gemaan yang sangat terdengar mengerikan, menunjuk seorang wanita yang terduduk menangis.

"Kenapa?? kamu masih meragukanku hamil anakmu, bayangkan saja pernikahan kita sudah 5 tahun Abrisham!! kau masih mau menolak anakmu." Abrisham hanya diam.

"Mom, Kek masihkah kalian ingin melihatku tersiksa, kalian ingin anak dariku kan?" pertanyaan itu diangguki Lisa.

"Cukup Sham, sampai kapan kamu terbebas dari masa lalu, kini kamu punya Sisy istrimu." tekan Lisa.

"Heh, istri?? apa Mom tau bahkan selama ini aku tak pernah seinci pun menyentuhnya selama kami menikah!" Lisa membulatkan mata.

"Hiks...kamu lupa! saat itu kamu mabuk dan memperkosaku!" Abrisham tertawa keras mendengar itu, ia pun melempar sebuah amplop dan juga berkas yang di bawa tangan kanannya.

"Lihat semua bukti itu, tidak ku sangka kau itu wanita picik, kotor bahkan banyak pria yang sudah kau jadikan list sebagai mantanmu hah jal*ng!!" teriak Abrisham.

Lisa seketika langsung mengambil itu, membuka lembar demi lembar hingga ia syok dan jantungnya seketika sakit dan ia tumbang.

"Mommy!!" Abrisham segera membawa Lisa namun saat itu Sisy menahannya, dengan kasar Abrisham menepis tangan Sisy hingga terjungkal, Ebrahim yang ikut panik segera memanggilkan supir untuk mengantar mereka ke rumah sakit.

Di rumah sakit Lisa di bawa oleh beberapa suster, Abrisham menggenggam kuat tangannya guna menyalurkan emosinya, Ebrahim meneteskan air mata.

"Maafkan Kakek, Kakek salah memilih pasanganmu Sham, jika wanita itu memang sudah tidak bisa dipertahankan maka ceraikan dia sebelum hidupmu lebih hancur." Abrisham mengacak rambut kesal.

Ia mengambil ponselnya. "Ajukan surat perceraian ku dengan wanita ular itu, jika dia menolak maka ancam dengan apapun!" setelah itu Abrisham terduduk lemas di kursi tunggu, ia baru tau jika Lisa mengidap penyakit jantung, dan ia menyesal menyeret Lisa melihat kebusukan Sisy.

Tak beberapa lama keluarlah seorang dokter, ia nampak terdiam lalu menatap Abrisham yang sudah peka dengan kehadirannya.

"Katakan bagaimana kondisi Mommy?" tanya Abrisham.

"Mohon maaf, kami sudah melakukan semaksimal mungkin tetapi serangan jantung mendadak itu sangat berakibat fatal sehingga pasien tidak bisa di selamatkan." seketika dunia Abrisham hancur mendengarnya

"Innalilahi wa innailaihi roji'un." gumam Ebrahim dengan wajah sedihnya.

"APA TIDAK MUNGKIN!!" teriak Abrisham hendak memukul wajah dokter itu namun Ebrahim segera menghentikannya.

"Jangan melakukan hal gila Abrisham!" teriak Ebrahim.

"Kek, putri Kakek meninggal! Mommy ku hiks...ia meninggal." seketika Abrisham jatuh ke lantai karena penyesalan yang ia buat berakhir merenggang nyawanya sang Mommy.

Abrisham segera masuk ruangan melihat jasad Lisa terbaring kaku, bibirnya pucat tapi tidak menepis jika wajahnya masihlah cantik. "Mom,hiks..kenapa Mom pergi?bahkan Sham belum mewujudkan apa yang Mom inginkan, Mom ingin cucu?? aku akan membawanya beri waktu untukku paling tidak 1 Minggu tapi tolong bangunlah!" Abrisham mencoba menggerakkan badan Lisa, namun itu semua percuma, tidak ada kematian yang bisa di prediksi, sebagai manusia kita harus siap menghadapi kapan itu akan menghampiri kita, bahkan saat membaca cerita pun jika sudah takdir itu bukan mustahil.

"Abrisham, ikhlaskan Mommymu, setiap manusia pasti akan mengalami kematian, biarkan Mommy tenang di surga." Abrisham hanya terdiam dengan air matanya, tak pernah ia menangis kecuali tentang Mommy nya orang yang sejak kecil selalu berada di sisinya.

Abrisham pun pulang kerumahnya, ia segera menaiki mobil tak menggubris panggilan Kakeknya, ia sekarang tengah dalam kabut kegelapan, ia akan membunuh wanita itu.

Saat telah sampai Abrisham langsung masuk kedalam mansion mencari orang yang sedang diincarnya, tak lama ia melihat wanita itu tergeletak di lantai. "Hiks...apa keadaan Mommy baik-baik saja?" Bukan dijawab melainkan Abrisham menarik kuat rambut itu.

"Kau pembunuh!! bersiaplah untuk mati." Seketika Sisy bergetar takut, ia melihat Abrisham masuk gudang dan membawa gergaji, melihat itu Sisy ketakutan ia segera kabur dan Abrisham tentu akan mengejarnya.

"Tolong!!" teriak Sisy.

"Mau lari kemana b*tch segitu nyalimu, bukankah kau sudah berani membohongiku, bahkan memfitnahku, untung aku tidak sebodoh yang kau kira hahaha..." Sisy terus berlari tanpa arah ia sangat ketakutan.

"Aku janji kita akan cerai tapi kumohon jangan bunuh aku!" teriaknya.

"Hahaha, janji bercerai? apa kau tidak bercermin bahkan sebelum itu pun kau akan tetap aku ceraikan!" Abrisham hendak menerjang Sisy yang sudah di dekatnya namun bukannya mendapatkan wanita itu tubuhnya malah bertabrakan dengan seseorang di depannya.

Brukk

"Hiks...tolong aku, dia mau membunuhku hiks..." Mendengar permintaan tolong itu, gadis bercadar pink itu terdiam.

"Maaf, kenapa Anda ingin membunuhnya?" tanya gadis bercadar itu.

"Dia telah membunuh Mommyku dan akibatnya aku kehilangan Orang yang aku sayang untuk kedua kalinya, aku akan membunuhnya!" ucap Abrisham.

"Jangan bertindak bodoh Tuan, bahkan kau bisa menghilangkan nyawa orang, tidakkah kau sadar dengan begitu bukannya Mommymu senang, ia malah sedih melihat putranya berubah karena sepeninggalannya." Abrisham mendorong gadis itu hingga terjatuh.

"Arrgghhh persetan dengan ceramahmu, yang kuinginkan hanyalah nyawanya!" teriak Abrisham hendak melayangkan gergaji nya.

Namun gadis itu segera berdiri di depannya dengan mata tak gentar. "Pergilah biar dia aku yang urus!" Sisy mengangguk dan berlari menjauh.

"Kau ingin aku membunuhmu dulu, setelah itu baru dia?" Gertak Abrisham dengan wajah berapi.

"Silahkan, bunuh saya walau saya tengah menyelamatkan penjahat, setidaknya saya tenang karena saya mencoba mencegah perbuatan laknat yang Alloh benci!" Abrisham menyeringai.

"Aku sudah tidak bergairah membunuh, kau bebas dariku hari ini...." lalu ia mendekatkan wajahnya pada gadis bercadar itu.

"Tapi tidak denganmu, karena kau sudah ikut campur!" Abrisham segera pergi begitu saja setelah mengatakan itu, jantung gadis itu berdetak tidak karuan, apakah ia sedang dihadapkan oleh bahaya.

Setelah menyelesaikan urusan perceraiannya, dengan kejamnya Abrisham meminta denda pada keluarga Sisy sehingga kini wanita itu jatuh miskin, tapi itu setimpal dengan apa yang wanita itu perbuat dan Abrisham merasa puas setelah mendengar bahkan karena stres Sisy juga keguguran dan itu semakin membuat Abrisham bahagia.

Kini ia bekerja dengan normal kembali, ia sudah tidak perduli akan urusan yang lain, ia hanya akan menyibukkan dengan bekerja dan bekerja.

"Kak turut berduka atas kematian Mommy Lisa." ucap Aftar di sebrang telepon.

"Iya tidak apa, sudah takdir." ucap Abrisham.

"Maaf tidak hadir di acara pemakaman beliau karena Aftar masih di Kairo dan besok baru bisa pulang." Abrisham mengerti bahkan ia merasa sedikit iri karena Aftar selalu bahagia walau dalam keadaan apapun.

"Kalau begitu aku tutup, insyaallah aku akan berkunjung nanti ke mansion." Abrisham setuju ia juga belum bertemu keponakannya karena terakhir kali ia bertemu saat anak Aftar baru lahir di pesantren saat itu.

TBC.

Bismillah Ku Memilih (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang