Pernikahan

52 5 5
                                        

Didalam kamar itu kini suasananya sedang ramai karena sang Tuan rumah akan melakukan persiapan pernikahan putri pertamanya.

"Ekhem yang udah mau jadi pengantin orang." goda Vira membuat Adara blush, Fatin yang melihat kedua putrinya saling menggoda merasa senang karena secara tidak langsung ia berhasil mendidik putrinya tanpa dendam atau hal lainnya.

"Anak Bunda udah mau nikah lagi ya, padahal Bunda kayak baru kemarin melahirkan kamu sayang." Adara terkekeh mendengar penuturan jenaka Bundanya.

"Ouh ya? kalau Bunda rasa Kak Adara kaya kemarin baru dilahirkan terus sekarang Vira rasanya kaya apa, kaya belum ada?" mendengar ucapan random Adiknya itu Adara mencubit hidung Adiknya.

"Kalau ngomong sama orang tua itu yang baik, jangan main jawab aja, Bunda cuman merasa tidak percaya saja Kakak sudah mau menikah makannya ngomong gitu!" ucap Adara dibalas tawa Vira.

Tak lama datang seseorang. "Assalamualaikum Bunda, maaf mengganggu waktunya, ini ada hena yang bisa dipakai Adara untuk acara pernikahan nanti." Aftar sedikit curi pandang pada Adara yang masih menunduk di tempat seketika Fatin sadar dan Fatin segera mendorong Aftar keluar dan menutup pintu kamar.

"Ouh ini makasih ya, harusnya Umi kamu larang kamu kesini, kok malah nyuruh kamu gak baik yang mau nikah ketemu, kata orang dulu harus di pingit biar rindu." Aftar seketika merona mendengarnya.

"Bunda berlebihan, Aftar gak rindu kok." Fatin pun menyenggol lengan calon menantunya.

"Ah masa, padahal tadi curi pandang kok." Aftar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Emm yasudah Aftar pamit ya Bun, Assalamualaikum." Fatin terkekeh melihat calon menantunya salting seperti itu, untung calon menantu, kalau bukan Fatin sudah menendangnya karena gemas.

"Bund kenapa kak Aftar di usir sih liat Kak Adara jadi sedih." ucap Vira dengan wajah memelas membuat Adara melotot ke arahnya.

Adara menatap tajam adiknya sedangkan Vira tersenyum jail. "Apaan sih itu mulut gak bisa ditutup dasar Adik hoax, ehh astagfirullah.." Vira tertawa melihat salah tingkah Kakaknya.

"Udah mau jadi pengantin dilarang ngomong kasar ya!" Adara memutar bola mata malas.

"Bunda mau turun dulu simpan ini, Vira kamu bantu Kakak kamu beresin barang-barang dia ya!" Vira mengangguk dan hormat seperti sedang berdiri di depan jenderal.

"Eh apa, kok diberesin sih Bun, Bunda berniat ngusir Adara??" tanya Adara kecewa sedangkan Fatin terkekeh melihat kepolosan putri tertuanya.

"Apaan sih mendrama sekali, orang Kakak kan mau ikut suami ya pasti bawa baju masa mau bra sama cd aja ehh astagfirullah." Fatin tertawa mendengarnya sedangkan Adara memukul tubuh adiknya saking kesal.

"Jangan ngomong asal kamu Vir mau aku kirim ke jurang terdalam eh astagfirullah." Kenapa disini keduanya malah selalu salah berbicara apa mereka memang selalu menularkan perkataan.

"Sudah ah Bunda turun dulu, yang baik ya calon pengantin." Adara mendengar godaan Bundanya malu sendiri. "BUNDAAA!" Fatin tertawa dan ditambah Vira semakin membuat Adara malu.

...

Trakk

Sebuah kartu nikah terlempar di atas meja dengan kasar. "Aku tidak akan datang di pernikahan orang miskin dan penghianat!" Lisa berkacak pinggang dan menjewer telinga putranya.

"Sudah melakukan kesalahan masih saja sok benar, ikut kesana atau Mom asing kan kamu ke Turki bersama paman kamu!" ancam Lisa.

"Apaan sih Mom, bisanya ngancam terus." kesal Abrisham pada Lisa yang selalu menyalahkannya, apakah bukti yang ia bawa belum cukup membuat keluarganya mengerti.

Bismillah Ku Memilih (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang