Permintaan maaf

37 4 1
                                        

"Kau, tidak kah kau punya malu hah kau bukan meminta barang padaku, melainkan istriku! bisakah bersikap waras hah aku selalu sabar dengan ucapan mu tapi tidak untuk yang satu ini!" Aftar masih memukul keras wajah Abrisham hingga tangan lembut itu menghentikannya.

"Zaujii, tolong jaga amarahmu apakah Baginda Nabi pernah mengajarkan kekerasan untuk mencari jalan keluar, tolong jangan membuatku takut." Aftar pun menjauhkan tubuhnya dari Abrisham dan memeluk erat Adara.

"PERGI!!" Teriak Aftar dengan wajah menahan amarahnya.

"Kumohon Aftar, aku janji akan menganggap keluargamu dan dirimu sebagai Adikku, tapi dengan jaminan istrimu." mendengarnya Aftar hendak melayangkan pukulan lagi namun Adara menghentikannya.

"Cukup Kak Abrisham, kami masih menghormatimu, kumohon pergilah jangan membuat keributan disini, dan jaga perkataan mu karena tidak bagus untuk diucapkan." ucap Adara lembut, ia tidak mengerti dengan jalan pikir Abrisham, saat itu dengan mudahnya pria itu mencacinya tapi kini apa yang terlihat sangat mengejutkan.

"Itu bukan perkataan buruk, tapi kejujuran yang ingin aku utarakan Adara, mau kan kamu kembali denganku?" Mendapat tatapan tajam suaminya Adara menelan ludah.

"Apakah karena dengan bukti Kakak bisa percaya padaku, bagaimana jika bukti itu tidak pernah di cari Vira mungkin Kakak akan terus membenciku dan menganggapku wanita peselingkuh." Adara menghela nafas.

"Tidak kak maaf, suamiku sudah menjadi pilihanku saat semua orang pergi dan hanya dia yang mau menerimaku jadi maaf Kak tidak ada pintu terbuka untukmu di hatiku, hatiku sudah terisi penuh dengan nama suamiku saat ini, aku yakin Kakak akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." Abrisham menggeleng.

"Di dunia ini yang sepertimu sangat jarang Ra, dan bodohnya aku melepasmu padanya!" tunjuk Abrisham pada Aftar.

"Kau memang bodoh, bisa-bisanya membuang berlian hanya karena mendapat tawaran bongkahan batu yang belum tentu isinya berharga!" ujar Aftar membuat Abrisham merasa memang dirinya sangat buruk dalam memilih.

"Adara tidak adakah kesempatan bagiku?" tanya Abrisham.

"PERGI!!" Teriak Aftar.

"Adara...."

"Pergi Kak kumohon, jangan membuat emosi suamiku keluar kumohon." Abrisham mengepalkan tangan, hanya untuk Adik tirinya Adara memohon padanya cih ia tidak suka hal itu, dengan kesal Abrisham pergi.

"Suamiku..." tidak ada jawaban sama sekali dari Aftar membuat Adara was-was, ia mendongkak memegang jemari besar suaminya.

"Hiks...jangan diamkan aku hiks..." Aftar menoleh pada istrinya yang mulai menangis. "Jangan menangis, apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Aftar lembut dan di balas gelengan oleh Adara.

"Maaf jika aku ada salah." Ucap Adara sambil menunduk, Aftar mengangkat wajah istrinya mengecup kening mata dan hidung yang memerah.

"Enggak ada yang salah, aku hanya sedang meredam emosi maaf membuatmu ketakutan, aku hanya takut kamu berpaling padanya sedangkan aku masih setia disisimu." Adara menggeleng.

"Kan Adara udah bilang jika Adara hanya akan berbakti pada suami Adara, suamiku ragu pada ucapan istrinya?" Aftar menggeleng dan tersenyum.

"Hanya rasa takut, maka aku waspada awas saja jika benar kau melakukannya aku akan mengurung mu di sangkar emas!" Adara terkekeh mendengar itu. "Baiklah suami tampanku aku akan menurut atas perintahmu, yaudah yuk sekarang ke rumah Bunda." Aftar mengangguk.

"Nanti benarkan wajahmu itu, air matamu banyak, takutnya Bunda malah marah sama suami kamu, dikira kdrt." Adara terkekeh.

"Emang kdrt sih cuman beda arti, kekasih dara romantis tiada tara." mendengar itu Aftar terkekeh masih saja sehabis nangis Adara tertawa itulah yang ia suka dari istrinya random.

...

Bughh

Bughh

Seorang pria meninju samsak di depannya dengan brutal. "Dia bahkan menolakku karena lelaki gak ada apa-apanya!" kesal itulah yang sedang ia luapkan, perasaan emosi dan kekecewaan melebur menjadi satu.

Bughh

Bughh

"Liat saja apakah mereka masih bisa hidup jika aku hancurkan kepercayaan mereka." gumamnya menyeringai.

Kini Adara dan Aftar sudah ada di mansion Farhan, mereka masuk kesana disana disuguhkan tangis Bunda.

"Assalamualaikum..." ucap Adara dan Aftar bersamaan.

"Hiks...Adara..hiks...tolong cegah Vira!" Adara yang baru saja datang tiba-tiba mendapat permohonan dari Bundanya membuat ia kebingungan.

"Kenapa Bund?" tanya Adara.

"Adik kamu, Vira dia hiks..mau pergi lanjutin sekolah di Amrik." Adara menoleh pada Vira dan menatap serius, apakah Adiknya akan meninggalkan keluarganya saat baru kemarin ia menikah.

"Vira, sini kamu!" Tanvira mendekati Kakaknya dengan kesal Adara mencubit pinggang Vira hingga gadis itu mengaduh.

"Aww.. Kakak jahat banget sih cubit Adik sendiri!" ujar Vira kesal.

"Kamu ngapain sekolah keluar negri kan kamu belum lulus disini juga?" Vira memutar bola mata malas.

"Ya gapapa dong Kak, orang Vira yang sekolah lagian Vira udah mengundurkan diri dari kampus dengan alasan mau sekolah model ke luar negri, Ayah gak larang kok tanya aja." Adara menatap Farhan.

"Ayah tidak pernah memaksa anak Ayah kalau mau sekolah di manapun, asal dia semangat untuk menempuh pendidikannya,  Ayah gak akan larang." Adara berkacak pinggang.

"Ayah gak larang Vira buat sekolah itu bagus, tapi bagaimana dengan Vira yang sekolah di Amrik, Ayah lupa sekolah disana itu gak gampang, pergaulan mereka bebas, Ayah gak takut putri Ayah terluka atau dalam keadaan bahaya? apalagi Vira masih belasan tahun Yah!" ujar Adara kesal.

"Ayah percaya sama Vira, dia udah dewasa dalam memilih hal baik dan buruk." Adara memijat kepalanya yang pening.

"Vira, dengerin Kakak gak sebaiknya kamu menempuh pendidikan disana, kakak tau bagaimana perangai kamu, jadi Kakak mohon pikirkan lagi untuk memilih tempat menimba ilmu!" Vira menggeleng.

"Keputusan Vira udah bulat Kak, Amrik itu akan membentuk dan mengembangkan karakter Vira yang biasa ini, please percaya sama Vira." Adara menggeleng.

"Gak, Kakak gak setuju!! gimana pendapat kamu suami?" Aftar menghela nafas.

"Vira maafin Kakak ya, Kakak gak bermaksud ikut campur, tapi apakah tidak ada tempat selain Amrik? kamu bisa ke Turki atau bisa ke negara tetangga." Vira melipat kedua tangannya.

"Kenapa sih sama kalian, Ayah aja gak larang tuh bukannya Kakak bilang keputusan kepala rumah tangga adalah keputusan terbaik, kalau Kakak larang artinya Kakak memakan lidah sendiri." Adara menghela nafas.

"Kamu sama siapa disana?" tanya Adara.

"Mungkin sendiri, Salsa gak ada biaya untuk melanjutkan studi di luar negri jadi biarkan Vira meraih mimpi Vira Kak." Adara diam saja mendengar itu.

"Vira, Bunda gak mau kamu celaka di negara asing, Bunda kirim kamu sekolah di negara tetangga aja ya nak." Vira menggeleng.

"Udah sih jam berangkat Vira gak lama lagi, jadi kalian mau ikut anter atau enggak nih?" Adara membulatkan mata.

"SEKARANG??? YA AMPUN VIRA!!" Suara Adara membuat penghuni rumah tutup telinga.

"Kakak ih sadar diri, teriak gak beraturan gitu kucing aja langsung menggila mendengar suara Kakak, Udah ya Vira berangkat Assalamualaikum.." Vira pun menarik kopernya namun Bunda mencegah.

"Vira jangan pergi nak." Vira menggelengkan kepala.

"Bun tolong berikan Vira kesempatan membuktikan Vira layak jadi model please, Vira janji akan pulang cepat setelah selesai dengan mimpi Vira." Bunda pun melepas anaknya ia pergi ke dalam kamar dengan sedih.

"Vir, biar Kakak sama Kakak ipar kamu yang antar." Vira mengangguk.

TBC.

Bismillah Ku Memilih (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang