Keputusan

25 1 0
                                        

Setelah seminggu pernikahan Abrisham, Adara dan Aftar tengah berdiskusi mengenai keputusan mereka untuk menetap di pondok.

"Umi, Abi jadi begini, Aftar dan Adara sudah sepakat untuk tinggal di pondok, mengingat jika kami tidak mungkin pulang pergi kesana setiap hari, apalagi Aftar yang belum ada pekerjaan tetap, Abi tenang setiap bulan Aftar akan kirim uang untuk pemenuhan kebutuhan kalian, Abi masih punya pondok yang masih bisa menghasilkan uang untuk kebutuhan sehari-harinya." Rian dan Lani saling memandang.

"Tidakkah kami terlalu merepotkan rumah tanggamu nak, seharusnya bahkan kami tidak menetap di rumahmu." ujar Rian.

"Abi dan Umi tidak perlu sungkan, kami sudah sepakat untuk itu, Abi dan Umi bahkan mendengar langsungkan dari mulut kami, Abi tidak perlu cemas kami akan datang setiap ada waktu luang kok." ucap Adara.

"Umi masih gak bisa melepas menantu Umi ini, apalagi ada cucu yang sudah Umi nantikan, bagaimana jika kamu lahiran disana dan kesulitan, Umi ingin kamu disini." Adara memeluk Lani.

"Umi gak usah khawatir, insyaalloh suami Adara ini akan selalu ada disaat Adara kesulitan, Umi bisa kok kesana untuk menjenguk cucu Umi, Adara juga sedikit lelah jika harus datang dan pergi ke pondok dengan membawa si debay." Lani menghela nafas.

"Baiklah jika itu sudah keputusan kalian, katakan pada Adikku jaga kesehatan menantu Umi! Dia selalu sibuk dengan orang lain dan melupakan keluarganya." mendengar itu Aftar terkekeh, memang Ahmed Adik dari Lani selalu lupa akan waktu jika menyangkut pesantren.

"Insyaallah Aftar akan ingat." Umi mengangguk setelah itu Adara dan Aftar pun izin pergi.

"Putra kita sudah dewasa ya Bi." Rian memeluk istrinya dari samping dan mengangguk.

"Kamu memang the best dalam mendidiknya." Rian pun mengecup kening istrinya, tidak pernah ia bayangkan berakhir dengan Lani wanita janda beranak 1 dan wanita yang begitu Sholehah, dulu ia yang jauh dari agama namun berkat bimbingan lembut istrinya kini ia lebih mengutamakan agama dari hal apapun, tak terkecuali dalam mengambil keputusan akan selalu ada istrinya disampingnya.

"Gimana yang udah nikah seminggu??" Goda Lisa namun Abrisham hanya menatap datar pada Mommy nya.

"Ya begitulah, biasanya tidur sendiri kini berdua." ucap Abrisham santai membuat Sisy bersemu malu.

"Kapan kamu kasih Kakek cicit?" mendengar itu Sisy langsung terbatuk-batuk karena merasa kaget atas apa yang diucapkan Ebrahim.

"Kenapa batuk sayang, tenang aja kami gak akan memaksa kamu dan Abrisham kok untuk segera memiliki momongan." Sisy hanya mengangguk kecil sebagai balasan.

"Untuk itu entahlah berdoa saja." ucap Abrisham masih dengan wajah santainya, ia segera pamit karena ada rapat penting pagi ini.

"Kamu mau kemana? baru seminggu sudah masuk kerja saja." cerca Ebrahim.

"Ayolah Kek bahkan karyawan ku membutuhkan atasannya, Sham tidak mau di cap sebagai bos yang seenaknya dan melepas tanggung jawab." Ebrahim menghela nafas dan mengangguk.

Setelah kepergian Abrisham Sisy pun pamit ke kamarnya, Lisa pun membereskan bekas sarapan mereka hingga ketukan sepatu membuat mereka menengok.

"Loh, kamu mau kemana Sy? bukannya kamu sudah tidak ada pekerjaan." Sisy mengangguk.

"Iya Mom, aku sudah berhenti tapi tidak dengan keseharianku, suamiku sudah kaya dan sangat disayangkan uangnya tidak aku pakai, aku kan istrinya dan sudah menjadi hak ku untuk menghabiskannya, Mom mau ikut?" Lisa menggelengkan kepala.

"Sebaiknya kamu pergi ke panti menggantikan Mom untuk memberi donasi kesana." Sisy menggeleng.

"Tidak bisa Mom, untuk yang satu itu lebih baik aku tetap berbelanja, pasti banyak anak banyak kuman yang menempel di tubuhku, dan aku membenci itu." Setelah kepergian Sisy, Lisa terkejut dengan sikap menantunya, Sisy sangat santun di awal-awal namun tidak dengan sekarang.

Abrisham kini tengah membuka banyak dokumen yang ia tinggalkan, hingga dering ponsel masuk ke ponselnya dan segera ia angkat.

"Ya Hallo?" mendapat jawaban dari sambungan itu Abrisham menyeringai.

"Kumpulkan semuanya dan setelah itu aku akan menghancurkannya." setelah itu Abrisham menutup ponselnya dan sesekali terkekeh misterius.

...

"Tidak baik meninggalkan suami di belakang wahai istriku." mendapati panggilan suaminya Adara menghela nafas.

"Kan sudah aku bilang tampan, aku ingin rujak!! tidak pedas kok hanya 5 cabai." Aftar menggeleng keras, bahkan semalam istrinya mengaduh sakit perut hanya karena memakan mie yang ditambah bubuk cabe sedikit.

"Ayolah kamu mau kan istri kamu jadi penurut, Zaujii yang baik hati ini kemauan anak kamu." Aftar tetap menggeleng lalu menarik istrinya hingga ada di rengkuhannya.

"Tidak ada tawar menawar jika itu masalah makanan yang pedas sayang, kamu hanya boleh makan makanan sehat yang dianjurkan dokter!" Adara menggeleng, makanan yang disarankan semuanya adalah list yang kurang ia minati.

"Tapi bayi kita inginnya itu hiks..." Aftar menghela nafas, dengan berat hati ia pun menuruti keinginan istri dan calon bayinya, benar saja satu porsi tak lama habis dimakan istrinya walau dengan paksaan hanya 1 cabai yang dipakai.

"Besok kita cek up lagi, dan jika bayi kita kenapa-napa maka Uma nya harus di hukum Aba!" Adara menggeleng kuat menjauhkan diri dari suaminya.

"Ekhem.." suara itu membuat mereka menoleh.

"Assalamualaikum pasutri masyaalloh.." mereka menoleh mendapati Ahmed mendekati mereka.

"Waalaikumsalam Paman, tumben Paman datang?" Ahmed menatap keponakannya sebal, jika ditanya karena apa bayangkan saja jika ia datang ia salah jika tidak datang keponakannya mengejeknya sombong, lalu ia harus memilih yang mana.

"Kau ini bagaimana, apakah keberadaan Paman tidak bagus untukmu?" Aftar terkekeh melihat wajah Pamannya yang menahan kesal.

"Suami kamu emang kurang kerjaan, tiap hari bikin darah Paman naik terus." Adara terkekeh.

"Paman tampan begitu tidak akan membuat Paman cepat tua jika marah." Ahmed terkekeh mendapat pujian dari istri keponakannya sedangkan Aftar menatap tajam istrinya karena berani memuji pria lain.

"Ini debay loh yang pingin memuji Paman." Ahmed mengangguk faham, jika ia mengatakan bahwa Adara yang memujinya mungkin perang sedarah akan terjadi hahaha.

"Baiklah, begini Paman kesini ingin memberikan kabar bahagia untuk kalian, jadi begini ada orang tua salah satu santri disini seorang pengusaha, ia berniat memberangkatkan 2 orang disini untuk haji kebetulan anaknya sangat menyayangi kamu Adara, ia selalu menceritakan kamu pada kedua orang tuanya jadi dengan jujur Paman sampaikan amanah ini, kalian berdua 3 bulan lagi bisa berangkat haji bersama." Mendengar itu Adara maupun Aftar terharu, Aftar sujud syukur impian yang belum tercapai karena saat itu masih sibuk dengan kuliahnya.

"Benar Paman?" tanya Aftar dengan rasa bahagia.

"Na'am." Aftar memeluk istrinya dan sebaliknya.

"Syukron, Syukron Yaa Rabb engkau telah mendengar doa ku selama ini." ia selalu berdoa semoga bisa menginjakkan kakinya ke tanah suci Mekah bersama sang istri dan ini kesempatan yang sudah ia tunggu.

"Masyaalloh yaa Alloh terimakasih engkau telah memberikan kami kesempatan mengunjungi tempat suci mu, tidak ada kabar sebahagia ini kecuali kami termasuk orang yang engkau amanah kan." gumam Aftar.

"Jadi persiapkan diri kalian, dan konsultasi mengenai kandungan Adara apakah masih bisa di bawa pergi atau tidak." Aftar mengangguk semangat.

TBC.

Bismillah Ku Memilih (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang