Tanvira kini sedang berada di kampusnya ia memang siswa baru sehingga harus mengejar target seperti Kakaknya lulus hanya dengan hanya 3 tahun belajar.
"Lo gak ikut bareng kita Vir, Lo tau kan kita mau memburu para Om berduit?" ujar teman satu bidangnya.
"Ah males gue, apalagi Lo tau keluarga gue kan? bisa kena mental gue kalau ke club tanpa izin mereka." ujar Tanvira sambil mencatat materi dosen.
"Alah gak berani kan Lo, cuman cari cogan doang, lagian Lo masih single aja, padahal udah cocok pacaran, gak terima tuh si Gilan?" tanya temannya.
"Ayolah Salsa Lo gak tau kan Gilan tuh bukan tipe gue, tipe gue tuh cowok berduit, tampan juga yang pasti digilai banyak cewek lah dia satu aja paling cuman yang ngejar cewek berbadan gempal." ucap Tanvira.
"Digilai banyak cewek, are you kidding me, kalau gitu Lo gak masalah dia Playboy?" Tanvira mengangkat bahu tidak perduli.
"Astaga punya temen gini amat, Lo gak kasihan sama muka Lo yang cantik ini, mana Lo kembang sekolah lagi." ucap Salsa dan hanya dihadiahi gelengan kepala temannya.
Tiba-tiba pengumuman meminta Tanvira untuk pergi ke ruang kepsek dan segera Tanvira pamit pada temannya walau ia pun tidak tau apa yang terjadi hingga ia dipanggil.
"Tanvira Ayah kamu menjemput kamu, katanya ada urusan mendadak!" Tanvira mengangguk dan segera menuju parkiran benar saja Ayahnya sudah standby di tempat, segera ia masuk mobil.
"Ayah kenapa tiba-tiba jemput Tanvira?" tanya Tanvira.
"Nanti juga tau, ada hal penting yang harus Ayah sampaikan pada kedua putri Ayah." Tanvira mengangguk mengerti.
...
Di kediaman Farhan.
"Kak, Bun ada apa?" Tanya Tanvira yang melihat Kakak dan Bundanya sudah duduk di sofa namun Fatin dan Adara hanya menggeleng tidak tau.
"Ekhem jadi gini, kenapa Ayah mengumpulkan dua putri Ayah karena Ayah ingin mengabarkan bahwa Ayah sudah menerima perjodohan dari dua keluarga." seketika keheningan melanda kediaman itu.
"APA!! AYAH MENJODOHKAN KAMI??" teriak Tanvira.
"Yah, kenapa gak bicara dulu sama Bunda anak-anak masih muda mereka masih punya dan berhak atas pilihan mereka!" Tanvira maupun Adara setuju, kenapa Ayahnya tiba-tiba berbicara hal yang tak pernah mereka sangka-sangka.
"Semalam Ayah dapat telepon dari Om Rian kalau dia mendapat kabar bahwa putranya kembali lebih awal ke negara ini, kebetulan untuk mempererat tali silaturahmi maka Om Rian berniat melamar putri Ayah, tidak sampai disitu pak Ebrahim selaku orang yang pernah berjasa membantu perekonomian kita juga nampaknya tertarik memperkenalkan salah satu putri Ayah pada cucunya." mendengar penjelasan itu Adara maupun Tanvira saling pandang.
"Yah, Tanvira masih 19 tahun loh walau bulan depan 20 tahun!" kesalnya.
"Maafkan Ayah, Ayah meminta Adara untuk memilih karena saat itu Ayah mendengar jika kalian ada yang bersekolah di luar negri maka mereka akan memberi waktu lebih lama mengenai perjodohan ini." Semua terdiam.
"Ayah gak adil, jadi kalau Kak Adara pergi melanjutkan sekolah keluar negeri, disini Vira yang terjebak! Vira udah sekolah disini karena gak mau jauh dari kalian, tapi apa? Ayah malah menjodohkan Vira! bagus Ayah bagus!!" Tanvira segera pergi ke kamarnya dengan wajah kecewa.
"Yah, Bunda kecewa sama keputusan Ayah!" Fatin pun pergi dengan wajah kecewa tersisa Adara dan Farhan.
"Apa kamu juga kecewa pada Ayah?" Adara mendongkak.
"Ayah gak salah, hanya situasi dimana Ayah mementingkan persaudaraan sehingga Ayah bingung mengambil keputusan, Ayah mau anak Ayah cepat pergi bersama suaminya? maka Adara tidak berhak menolak kemauan Ayah, Ayah kepala rumah tangga disini dan Adara bagian dari orang di dalamnya, jika keputusan sang pemimpin sudah bulat tidak ada salahnya Adara melakukannya, Adara ikhlas Ayah tapi untuk meyakinkan Vira memang sedikit sulit, tapi Adara akan mencoba meyakinkannya walau memang gadis seusianya pasti kaget mendengar itu." Farhan segera memeluk putrinya mendengar setiap tutur kata benar adanya secara tidak langsung ia akan melepas dua putrinya.
"Hiks...maafkan Ayah nak, Ayah bingung." Adara mengelus pundak Ayahnya setelah itu Adara pamit kedalam kamarnya, kebetulan kamar ia dan Adiknya berdua dengan ranjang terpisah.
Cklek.
"Ayah jahat, kenapa ayah egois!" teriak Tanvira.
Adara masuk dan menindih Tanvira hingga gadis itu sesak dan berteriak minta di bebaskan. "Itulah yang namanya jahat!" ucap Adara hanya dibalas tatapan kesal.
"Tau ahk, Vira kesal sama Ayah mana ada Ayah yang tega langsung menikahkan kedua putrinya bahkan diusia yang masih muda!" Tanvira melipat kedua tangannya setelah duduk bebas.
"Ayah melakukannya dalam keadaan bingung di satu sisi ia yakin kita menolak disisi lain demi kekeluargaan Ayah menyetujuinya, jika kamu diberi pilihan permen atau cokelat kamu pilih mana?" tanya Adara.
"Keduanya lah, permen kesukaan aku begitu juga Cokelat." ujar Tanvira.
"Itu yang ingin Ayah terima, antara keluarga Tuan Ebrahim dan Tuan Rian Ayah kesulitan menolaknya karena ia memang dekat dengan mereka jadi Kakak mohon jangan kecewakan Ayah." Tanvira mendengus sebal.
"Kakak sama saja egoisnya, Tanvira gak mau bersanding sama lelaki yang bukan Vira cintai!" Adara mengerti tapi ia pun ada diposisi yang sama.
"Hey dengerin! perjodohan bukan berarti jodoh, kan mereka hanya mencoba mencari kemungkinan, berjalan atau tidaknya hanya sang Maha Kuasa yang bisa memastikan, Ayah pasti tidak akan memaksa jika memang kita tidak menyukai mereka." Tanvira seketika mengerti dan mengangguk.
"Oke Vira setuju, tapi kalau bukan kriteria Vira, pasti langsung Vira tolak, secara pria itu harus seperti BTS yang tampan, kaya, banyak digilai wanita." Adara memutar bola matanya dan mencubit hidung sang adik. "Nikah sama mereka saja sekalian!" Tanvira nyengir kuda.
"Itu sih masih proses, makannya Vira mau jadi model mungkin saja kolaborasi sama mereka." Adara mengetuk jidat sang adik hingga mengaduh.
"Ishh Kakak kenapa pukul jidat Vira, jadi benjol kan!" kesalnya.
"Lebay, kena sengat tawon aja kamu gak lebay tuh!" Vira menatap sang kakak yang sepertinya mengejek. "Jelaslah waktu itu kan pingsan makannya gak mengaduh!" Jelas Tanvira dan dihadiahi tawa Adara.
"Udah makannya jangan banyak marah-marah, Kakak tau berat buat kita yang masih muda menjalankan perjodohan tapi disaat itu Alloh tau takdir apa yang akan membawa kita, berdoa saja semoga kamu nanti cowoknya sesuai kriteria." goda Adara.
"Kakak!!" kesal Tanvira membuat Adara kembali tertawa, menjahili Adiknya adalah salah satu hal yang menyenangkan, apalagi membicarakan pasangan hidupnya.
"Maaf, ouh ya Kakak mohon sama kamu Vir apapun kedepannya melangkahkan dengan mengucap Bismillah, insyaallah apapun rintangan dan keraguan yang ada dalam benak mu akan terselesaikan, Kakak mengerti semua bukanlah hal mudah karena jalan manusia memiliki keunikan masing-masing kisah kamu dan Kakak pasti akan berbeda suatu saat." Ucapan Adara seketika membuat Tanvira terdiam, apa mungkin itu terjadi.
TBC.
Yuk di komen bagi yang penasaran dengan alur ceritanya, akankah sesuai ekspektasi ataukah tidak sesuai dengan keinginan readers nantikan next chapt nya bersama Author IYStory 🥰....Salam dari Adara dan Tanvira
KAMU SEDANG MEMBACA
Bismillah Ku Memilih (END)
RomanceDiapit antar dua kemungkinan membuat dua saudara memiliki kesempatan memilih, namun takdir tidak bisa di elak karena mereka tetap harus menjalankan sebuah amanah keluarga. Adara kakak yang dewasa dan bijak dalam mengambil keputusan, sedangkan Tanvir...
