Warn!!!
Very long long part!!!
Koridor rumah sakit dilingkupi sunyi yang mencekam pada hari keempat pascakecelakaan maut itu. Aroma antiseptik yang tajam berbaur dengan hawa dingin yang menusuk tulang, seolah-olah ruangan itu sedang bersiap menyambut sebuah perpisahan.
Di atas kursi besi yang keras, Jaka, Shabin, dan Sena duduk membeku, menatap satu pintu yang sama. Kamar VIP tempat di mana sahabat mereka tengah dibelenggu.
Di tengah kepungan sunyi itu, ingatan Shabin mendadak melontar jauh ke belakang, menembus lorong waktu menuju tiga tahun lalu. Hari itu, halaman SMA dipenuhi riuh rendah ratusan anak manusia beratribut aneh khas masa orientasi siswa. Di sanalah semuanya bermula, di bawah terik matahari yang membakar kepala.
Gilang belia duduk sendirian di undakan koridor kelas, tampak planga-plongo memandangi keramaian dengan tatapan kosong. Cowok itu tidak punya teman, penampilannya tergolong cuek dengan ransel yang hanya disampirkan di satu bahu, dan wajahnya ditekuk datar. Ketika panitia OSIS meneriakkan instruksi lewat pengeras suara agar semua siswa baru membentuk kelompok berisi empat orang untuk acara penampilan bakat besok, Gilang bergeming. Ia hanya menatap sepatunya yang berdebu, pasrah menjadi jiwa yang terasing.
Sementara itu, Shabin, Sena, dan Jaka sudah berdiri membentuk lingkaran kecil. Shabin dan Sena tidak perlu pusing karena mereka sudah bertemam sejak SMP, sedangkan Jaka, si anak baru yang kelewat supel, berhasil menyusup ke dalam lingkaran mereka hanya dalam waktu lima menit berkat obrolan seputar ukuran sepatu bola.
"Kurang satu lagi nih. Ntar kita disuruh maju duluan sama OSIS galak itu," celetuk Sena sambil melirik senior berwajah ketus di ujung lapangan.
Shabin mengedarkan pandangan ke sekeliling selasar, sampai matanya menangkap sosok Gilang yang masih setia mematung seperti patung selamat datang yang kesepian.
Tanpa tendeng aling, Shabin melangkah lebar menghampirinya, meninggalkan Sena dan Jaka yang melongo.
Cowok itu berdiri tepat di depan Gilang, menghalangi sinar matahari yang menyengat mata. Gilang mendongak, menatap Shabin dengan sebelah alis terangkat, dingin, skeptis, dan sama sekali tidak ramah.
"Hoi," sapa Shabin kasual, memasukkan kedua tangan ke saku celana abu-abunya.
Gilang hanya berdehem pendek, "Ya?"
Shabin tidak menyerah dengan respons seadanya itu. Matanya tidak sengaja turun ke pergelangan tangan Gilang, melihat sebuah jam tangan digital berbentuk robot yang cukup mencolok. Otak usil Shabin langsung bekerja untuk mencairkan suasana.
"Jam tangan kamu bagus banget. Bisa berubah jadi robot beneran gak kalau dipencet?" tanya Shabin polos, sengaja memakai bahasa yang agak formal biar terdengar sopan, meski yang ada malah kelihatan ngeledek.
Gilang berkedip sekali, dua kali, tampaknya terkejut dengan pertanyaan random dari cowok asing di depannya.
"Enggak lah. Ini jam biasa," sahut Gilang. Suaranya agak ketus, namun benteng pertahanannya mulai goyah akibat rasa heran.
Shabin langsung nyengir lebar, merasa menang satu langkah. "Yaudah sih. Kenalan deh, nama gue Bintang. Panggil aja Shabin." Shabin mengulurkan tangannya. "Mau join kelompok kita nggak? Kurang satu nih buat tampil bakat. Daripada lo sendirian aja kayak orang ilang."
Gilang sempat ragu. Sifat cueknya mendesak untuk menolak, tapi melihat kepanikan massal di lapangan luar membuat ia akhirnya menghela napas pasrah. "Gilang," jawabnya singkat, menyambut uluran tangan Shabin sekilas lalu berdiri mengikuti langkah cowok itu menuju sisa anggota kelompoknya di bawah pohon kersen.
Sambil meluruskan kaki, Shabin yang emang dasarnya hobi ngobrol mulai membuka percakapan lagi. "Lo pendiam banget."
Gilang menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, matanya agak membuang arah dari tatapan intens Shabin. "Canggung aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
REDAM
Fanfiction"Kalau sebaik-baik takdir adalah kehidupan, dan sebaik-baik tujuan adalah mati di usia muda. Maka aku akan memilih opsi kedua." [ON GOING] Warn! Kekerasan, blood, bullying, depression, suicide! Child abuse! #1 choibeomgyu #1 tomorrowxtogether
