37. Di Ujung Jalan (END)

434 33 11
                                        

Warn!
4k+ words!




Berhari-hari Bella hanya mengurung diri di dalam kamar, menenggelamkan eksistensinya dalam keheningan yang mencekam. Ia buta akan bagaimana keadaan Biru dan Gilang di rumah sakit, sebab Leo pun bagai ditelan bumi dan tak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini.

Di dalam istana megah yang kini menjelma bagai kuburan tak berpenghuni, hanya tersisa dirinya dan Dean yang sesekali mengetuk pintu kamarnya dengan sisa kepedulian yang sunyi. Atau Mbok Lani, yang datang dengan langkah kaki terjaga hanya untuk mengantarkan sepiring makan malam yang kerap kali berakhir mendingin tanpa tersentuh.

Semua realitas ini bagai mimpi buruk yang enggan usai bagi Bella. Jiwanya mendadak dihantui oleh melodi rasa bersalah yang teramat pekat. Berkali-kali bayang-bayang Raina menyusup ke dalam alam mimpinya, datang dengan tatapan penuh murka untuk memakinya, bahkan dengan beringas berusaha mencekik dan membunuhnya.

Wajah Bella yang biasanya molek dan cantik dipoles jajaran kosmetik mahal, kini tampak kusam, layu, dan tak terurus. Ia benar-benar berada di ambang batas kewarasannya. Rambutnya yang legam kini kusut terurai tak beraturan, mencuat ke segala arah, sementara kantung hitam di bawah matanya tampak begitu besar dan legam, melukiskan bagaimana kelamnya malam-malam yang ia lewati tanpa sedetik pun terpejam.

Ia duduk meringkuk di tepian ranjang sambil memeluk erat kedua lututnya. Sendirian, Bella benar-benar dibuat hampir gila oleh teror isi kepalanya sendiri.
Namun, di kala sepercik alam sadarnya mendadak muncul menembus kabut depresi, ia baru menyadari suatu kejanggalan. Sudah beberapa hari ini desas-desus ketukan halus Dean di pintu kamarnya tak lagi terdengar. Tak ada lagi suara sang putra yang menanyakan keadaannya. Mungkinkah anak itu ikut menginap di rumah sakit?

Dengan sisa-sisa tenaga yang bertumpu pada raganya yang ringkih, Bella berjalan gontai menyeret langkah menuju pintu kamar. Begitu kenop pintu berputar dan terbuka, ia langsung disambut oleh atmosfer rumah yang gelap gulita, dingin, dan senyap.

"Dean?"

Suaranya yang serak meluncur, menggema pilu membelah lorong rumah yang pekat dan kelam itu.

"Dek?"

Tak ada sahutan. Keheningan malam seolah menertawakan panggilannya. Yang terdengar kembali hanyalah pantulan suaranya sendiri dan detak monoton dari jarum jam dinding yang terasa kian memburu.
Ia kemudian melangkah keluar, meraba dinding dengan jemari yang bergetar hebat. Diputarnya stop kontak hingga pendar lampu seketika menghidupkan ruang, lalu ia berjalan cepat menuju kamar sang putra.

Pintu dibuka, dan hatinya mencelos seketika. Kosong. Tempat tidur di dalam kamar itu tertata teramat rapi, berbalut sprei tanpa lekukan, seolah tak pernah lagi dipakai untuk merebahkan raga.

Namun, tepat di atas meja belajar yang bersih, mata Bella menangkap siluet ponsel pintar dan dompet kulit anak itu yang tergeletak berdampingan dengan posisi yang janggal.

"Dean?" Ia kembali memanggil, berharap sang anak hanya pergi ke kamar mandi. Namun, tetap tak ada sahutan.

Tapi, sesuatu yang terselip di antara dompet dan ponsel itu --secarik kertas putih dengan pulpen yang masih tergeletak melintang di atasnya-- sukses menyita seluruh perhatian Bella. Napasnya mendadak tercekat.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meraih benda mati yang terasa seberat timah tersebut, lalu mulai membaca larik demi larik tulisan tangan sang anak.



Untuk Ayah, Bunda, dan semua orang di rumah.

Maaf. Hanya kata itu yang tersisa di kepala Dean saat menulis surat ini. Maaf karena selama ini Dean udah jadi anak dan saudara yang berengsek.

REDAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang