34. Fragmen Luka Abadi

452 41 15
                                        

Manusia tak pernah punya kuasa atas apa pun yang semesta tentukan, garis takdir yang terukir di telapak tangan merupakan keadaan mutlak yang tak bisa dilanggar. Jika Tuhan telah berkehendak, hati yang sekeras batu pun bisa Dia hancurkan melalui tetesan air hujan. Konon, manusia hanyalah pemeran.
​Hati yang sekeras batu itu kini telah melunak. Tak pernah ada sedikit pun hari yang pria itu lewatkan tanpa berkelana di dalam kamar Gilang. Entah merapikan baju-baju di lemari, atau sekadar mendengarkan rekaman suara dari nyanyian Gilang yang tak kunjung rampung.

​Pria itu pun akan bergegas ke balkon kamar untuk sekadar mengintip saat terdengar suara sepeda motor dari luar, berharap sang putra datang, masuk ke pekarangan rumah sambil mengendarai motor bututnya. Sedangkan ia pun tahu, motor itu tak pernah lagi keluar garasi sejak kejadian kecelakaan waktu itu.

​Pria yang dulu dengan angkuhnya itu merasa dirinya takkan pernah menangis jika anak itu suatu saat pergi, kini bak menelan air ludahnya sendiri. Justru, anak yang selalu ia buang itu yang paling ia rindukan sekarang. Jika saja semesta mengizinkan, ia ingin diberi waktu lebih lama untuk menyayangi Gilang. Ia sampai tak sadar bahwa selama ini, Tuhan telah memberi amanah kepadanya selama 16 tahun lebih. Waktu yang amat lebih dari cukup.





​Suara ketukan dari luar tak mengusik pria itu sama sekali. Ia berdiri di balkon kamar Gilang sambil bersandar pada pagar yang setinggi pinggang itu dengan mata yang tak lepas dari jalanan kompleks perumahan elit itu tanpa berkedip.

​"Yah, Kakak belum pulang." ​Leo menoleh ke arah Dean sebelum mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat jam yang melingkar di sana. Sudah pukul 23.15.

​"Kakakmu pergi ke mana?" tanyanya, suaranya terdengar kering dan lelah.

​Dean menggeleng ribut sembari mengeratkan pegangan pada ponselnya yang layarnya masih menyala. Ia tak habis pikir ayahnya bahkan tak menyadari jika putrinya sejak pagi tak kelihatan.

"Aku gak tau, dia gak ngomong pergi ke mana," jawabnya jujur. Ia kemudian melihat ponselnya lagi dengan gurat kecemasan yang nyata. "Nomornya juga gak aktif, Yah."


​Leo membuang napasnya berat, bertambah lagi kekhawatirannya. Anak gadisnya belum pulang ke rumah. Pria itu bergegas ke luar kamar itu, diikuti Dean di belakangnya. Langkah kakinya yang berat menuruni tangga seolah membawa beban ribuan ton penyesalan yang tak pernah usai.







​Di ruang tengah, Bella duduk dengan punggung tegak, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya sebagai nyonya rumah. Namun, jemarinya yang terus memilin ujung taplak meja mengkhianati ketenangan palsunya. Di sana, di atas meja yang biasanya penuh dengan hidangan mewah, kini hanya ada selembar kertas hasil tes DNA yang mulai menguning karena terus-menerus dibaca oleh Leo.

​Angka 99,9% di sana adalah vonis mati bagi egonya.




Pria itu jalan begitu saja tanpa menghiraukan presensi sang istri di sana.

"Mau sampai kapan kamu diamin aku begini?" Ujaran itu memecah dinginnya tengah malam di ruangan temaram itu.

Wanita yang sudah memiliki garis keriput di beberapa titik di wajahnya itu menoleh dengan tatapan dingin, matanya memerah karena banyak menangis. Bekas luka di pipinya sudah tertutup samar termakan usia, menciptakan bekas jahitan di sana yang selamanya takkan pernah hilang meski harus melakukan operasi berkali-kali.

"Aku lagi gak mau berdebat, anak gadisku belum pulang," jawab Leo dingin tanpa menoleh. Ia berdiri di ambang pintu yang dibuka setengah, berharap ada sorot lampu atau derap langkah yang familiar datang dari sana. Di belakangnya ada Dean, hanya diam menatap kosong pada ubin di bawahnya. Wanita itu melirik Dean sekilas. Bahkan anak itu pun tak mau lagi berbicara padanya.

REDAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang