Malam itu, aspal kota yang dingin menjadi saksi bisu atas sebuah tragedi yang memahat duka begitu dalam. Langit tampak pekat, seolah ikut berkabung atas dua raga yang kini tengah bertaruh nyawa di bawah temaram lampu jalanan yang berkedip sekarat. Sirine ambulans meraung membelah sunyi, suaranya melengking menyakitkan telinga, membawa aroma kematian yang kental menuju gerbang putih Rumah Sakiit.
Kini, di ruang IGD yang dingin, Biru terkapar dalam kondisi yang menghancurkan hati siapa pun. Akibat menjadikan dirinya tameng hidup, punggung Biru mengalami trauma tumpul yang luar biasa hebat. Tulang belikatnya remuk, dan beberapa ruas tulang belakangnya bergeser akibat hantaman langsung ke pilar mobil saat kendaraan itu menghantam beton. Kepalanya mengalami pendarahan hebat. Pemuda 25 tahun itu tak sadarkan diri sepenuhnya. Napasnya terdengar berat dan tersumbat, suara gurgling yang mengerikan menandakan paru-parunya mulai terendam darah. Ia adalah benteng yang telah meruntuhkan dirinya sendiri hingga rata dengan tanah, hanya agar satu nyawa kecil di pelukannya memiliki peluang untuk terus bernapas.
Di sisi lain, Gilang terbaring dengan tubuh yang tampak begitu mungil dan rapuh di bawah sorot lampu neon yang menyilaukan. Meski Biru telah melindunginya dengan segenap nyawa, guncangan hebat dari kecelakaan tragis itu tetap meninggalkan luka dalam.yang mematikan.
"Pasien arrest! Siapkan defibrilator! Sekarang!" Teriakan dokter jaga membelah kepanikan di ruang resusitasi.
Garis di monitor jantung Gilang mendatar. Suaranya memekakkan telinga.
Suara itu panjang dan monoton, sebuah bunyi yang menandakan nyawa telah melompat keluar dari raganya. Tim medis melakukan kompresi dada, menekan tulang rusuk Gilang yang rapuh karena efek Thallasemia menahun. Satu kali ... dua kali ... tubuh Gilang berguncang di atas ranjang, namun matanya tetap terpejam rapat.
Raganya seolah sudah sangat rindu untuk pulang ke pelukan ibunya di keabadian, jauh dari rasa sakit dan caci maki yang selama ini menjadi makanannya sehari-hari. Namun, entah karena keajaiban atau karena sisa-sisa hangat dari pelukan Biru yang masih menempel di kulitnya, jantung itu kembali berdenyut secara ajaib.
Kejadian itu berulang hingga tiga kali dalam satu jam pertama. Gilang seolah sedang bermain di ambang pintu kematian, sebentar ia melangkah masuk ke dalam cahaya tenang, tapi kemudian ditarik paksa kembali ke dunia yang penuh luka ini. Sel darah merahnya yang sedikit tak mampu mengangkut cukup oksigen untuk melawan trauma hebat ini.
Ia bertahan ...
Namun nyawanya kini hanya bergantung pada helai benang tipis yang bisa putus oleh embusan napas sekali saja.
Di luar ruang IGD, lorong rumah sakit itu masih terasa sepi dan asing. Gita adalah orang pertama yang datang.
Saat melihat Biru membawa Gilang masuk ke mobil tadi, ia sudah berniat mengikuti dengan mobilnya. Namun, di menit-menit pertama ia merasa sangat ragu. Sampai akhirnya gadis itu mendengar suara dentuman yang amat kencang dari arah yang sama.
Darahnya berdesir hebat. Ia menggenggam ponsel di tangannya dengan gemetar. Ia melihat sendiri bagaimana kondisi kakak dan adiknya di dalam mobil yang ringsek itu. Dia pula yang pertama kali menelfon ambulance.
Di saat seperti ini, Gita masih ragu, gadis itu tak menangis dengan dramatis. Ia hanya ... diam, duduk menunduk di kursi tunggu itu dengan tubuh gemetar. Tangisnya hanya sebatas menjatuhkan titik air di ujung matanya. Terlihat kuat sekilas, namun di hatinya sangat hancur. Kalau saja tadi sore ia punya keberanian untuk menghampiri Biru, mungkin kejadiannya bisa berubah.
....
Keadaan di lorong rumah sakit sangat menegangkan. Sudah hampir 2 jam berlalu, tapi belum ada kabar apa pun dari dokter di dalam sana. Kabar mengenai kecelakaan Gilang dan Biru menyebar bak wabah, bahkan sudah masuk berita.
KAMU SEDANG MEMBACA
REDAM
Fanfiction"Kalau sebaik-baik takdir adalah kehidupan, dan sebaik-baik tujuan adalah mati di usia muda. Maka aku akan memilih opsi kedua." [ON GOING] Warn! Kekerasan, blood, bullying, depression, suicide! Child abuse! #1 choibeomgyu #1 tomorrowxtogether
