Sayup-sayup, kicauan burung menyambut kelopak mata yang perlahan terbuka. Kilatan cahaya yang menyilaukan memaksa sepasang netra itu kembali terpejam, seolah sudah berhari-hari lamanya tak melihat dunia.
Pemuda itu mengerjap pelan begitu mencoba lagi. Ia menatap langit-langit kamar yang terasa familier. Sejenak ia hanya terpaku, sebelum mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ini kamarnya. Namun, saat ia mencoba menghirup udara, entah mengapa dadanya terasa asing dan sedikit mencekik.
Perlahan ia bangkit, lalu tertegun menatap sebuah cermin besar di sudut ruangan, seingatnya, ia tidak pernah memasang cermin itu di sana. Ia melangkah mendekat, mematut dirinya pantulan kaca. Wajahnya tampak bersih berseri. Anehnya, tubuhnya terasa begitu ringan, segar, dan sepenuhnya sehat.
Ketukan di pintu seketika mengalihkan perhatiannya. Ia melangkah pelan untuk membukanya.
Begitu daun pintu terbuka, sosok seorang wanita cantik nan anggun langsung menyambutnya dengan senyuman cerah, memamerkan deretan gigi putih yang rapi. Pemuda di hadapannya hanya mampu terpaku. Logikanya berputar keras, ia tak ingat mengapa wajah wanita itu terasa begitu jauh, seolah sudah berabad-abad tidak ia lihat.
"Abi udah baikan, Nak?"
Jemari lentik wanita itu terulur, menyentuh dahi Biru untuk mengecek suhu tubuhnya, lalu turun mengusap pipinya dengan penuh kelembutan. Sentuhan itu terasa begitu nyata sekaligus semu. Tanpa bisa dicegah, leher Biru mengangguk kaku.
"Udah, Bu," jawabnya canggung.
"Kalau gitu, ayo ke bawah. Yang lain sudah nungguin kamu."
Biru kembali dibuat termangu saat wanita di depannya itu menggenggam jemarinya, menuntun langkahnya dengan penuh kehangatan yang telah lama hilang.
Sesampainya di meja makan, pemandangan di depannya membuat jantung Biru berdesir. Di sana sudah ada Ayah, dan ...
"Gilang?"
Tanpa sadar, Biru melepaskan genggaman tangan ibunya. Ia melangkah tergesa, setengah berlari menghampiri sosok remaja laki-laki di sana, lalu merengkuhnya dalam pelukan erat tanpa aba-aba. Bahunya bergetar. Ia mendekap Gilang seolah-olah ia telah merindukan dan menantikan kehadiran sang adik selama sisa hidupnya.
Gilang, yang saat itu sedang asyik menyantap nasi goreng, sontak tersedak. Ia keheranan setengah mati oleh tingkah aneh kakaknya.
"Lo kenapa sih, Bang? Jatuh dari tangga sampai dan kejedot kaki meja bikin lo jadi stres, ya?" tanya Gilang sambil berusaha melepaskan diri.
Biru tidak peduli. Ia melepas pelukannya, lalu menangkup wajah Gilang dengan kedua tangan, memeriksa setiap inci wajah sang adik dengan cemas. "Lo gapapa, kan? Ada yang luka? Nggak ada yang sakit?"
Merasa risi, Gilang mendengus kesal dan mengempas tangan Biru. "Ih, beneran sedeng ya lo?"
"Sudah, sudah, kok malah ribut," lerai Raina, ibu mereka, sambil tersenyum maklum dan meletakkan semangkuk lauk di meja.
Belum sempat kegaduhan itu mereda, Gita datang dengan langkah menghentak yang tidak santai. Lengkap dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya, ia menghampiri meja makan sambil mencebikkan bibir kesal.
"Gilang! Udah berapa kali gue bilang, jangan sembarangan masuk ke kamar gue!" semprot cewek itu berapi-api. Ia meradang karena sweater hitam kesayangannya mendadak hilang dari lemari.
Gilang yang dituduh langsung mendelik. "Apaan, sih? Nuduh-nuduh!"
"Lo yang pakai sweater hitam gue, kan? Ngaku nggak lo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
REDAM
Fiksi Penggemar"Kalau sebaik-baik takdir adalah kehidupan, dan sebaik-baik tujuan adalah mati di usia muda. Maka aku akan memilih opsi kedua." [ON GOING] Warn! Kekerasan, blood, bullying, depression, suicide! Child abuse! #1 choibeomgyu #1 tomorrowxtogether
