Assalamualaikum, dears.
Budayakan follow sebelum baca dan bantu vote serta komentarnya setelah baca. Semoga suka dan ...
happy reading
♡♡♡
***
Hari telah berganti, waktu berjalan terlalu cepat bagi Mikaila, ia terus memandangi tiap sudut ruangan di rumahnya. Begitu banyak kenangan indah yang sulit untuk di lupakan, Mikaila mengingat semuanya.
Dari kejauhan, tampak anggota keluarganya tengah berkumpul di ruang tamu. Mereka berbincang hangat dengan anggota keluarga lainnya dari pihak ibu dan beberapa tetangga yang berkunjung ke rumahnya.
Mikaila dan Malika menjamu tamu mereka dengan membawakan hidangan seadanya. Walaupun begitu, keluarga para tamu tetap merasa senang. Semua orang beri semangat dan menyampaikan beberapa nasihat dan motivasi. Gadis pemurung itu merespond dengan anggukan semata seraya tersenyum.
***
"Sayang, kemarilah," panggil Elya.
Mikaila segera memenuhi panggilan ibunya.
"Coba kau periksa sekali lagi, semuanya sudah Mama siapkan, barangkali ada sesuatu yang ingin kau bawa?" Elya membuka dan menunjukkan isi koper Mikaila.
"Sebanyak ini?" Mikaila terkejut.
"Hey kak, Kau akan meninggalkan kami dalam jangka waktu yang lama. Jadi, semuanya harus benar-benar disiapkan," pungkas Mike.
Tiba-tiba Malika memeluk Mikaila dari belakang, dan kak Mike akan kesepian setelah kepergian kakak, hahaha" canda Malika, tawanya terdengar nyaring, Mike pun bermuka masam.
Zaini menghampiri ketiga anaknya, "gertaklah kakak kalian sepuas mungkin hingga ia duduk di pojokan dan menyembunyikan tangisnya di bawah bantal, ini adalah malam terakhir kita bersama Mikaila," gurau Zaini yang kemudian berujung haru.
Suasana malam yang mencekam bertambah sunyi, semua orang sedang meratapi kesedihan mereka.
Mikaila menatap semua orang, di pelupuk mata mereka terlihat air mata yang mengambang dan hendak terjatuh.
"Kalian tidak boleh menatapku seperti itu," isaknya.
Tak tahan menahan tangis, Keluarganya memasang raut wajah yang sama dengan deraian air mata.
Mikaila menyeka air matanya, kemudian berdiri tegak di tengah-tengah keluarganya. Mikaila bersedekap dada, "baiklah, Aku tidak akan pergi," pekiknya.
Mikaila memperlihatkan muka masamnya dan kembali menatap tajam kedua orang tuanya. Melihat Mikaila dan wajahnya yang cemberut, mereka berusaha menenangkan Mikaila.
"Apa maksudmu?" decak Elya.
"Jika kalian saja tidak ingin aku pergi dengan tenang, untuk apa aku pergi?" Keluh Mikaila.
"Ja-jangan dong, kak!" cegah Malika.
Mikaila tak menggubris lontaran semua orang. Seakan tidak peduli, Mikaila kembali memanyunkan bibirnya dan pergi begitu saja.
Semua orang berusaha mengejarnya dan mencoba meyakinkan Mikaila, sementara gadis itu malah mengunci pintu kamarnya dan mengurung diri di kamar.
Gadis itu memang keras kepala, ia tidak mau mendengarkan siapapun. Sekali ambil keputusan, tidak bisa di ganggu gugat, punyai pendirian yang teguh. Dan, Mikaila bukan orang yang tepat buat diajak bercanda.
Zaini dan Elya berusaha menasihati Mikaila di balik tembok kamarnya, namun Mikaila tetap pada pendiriannya. Setelah lelah membujuk Mikaila, akhirnya semua orang terdiam namun tak beranjak dari tempatnya berpijak. Keduanya menyandarkan punggungnya di tembok kamar Mikaila dan Malika.
KAMU SEDANG MEMBACA
Asmara di Dinding Asrama
Fanfiction~Prolog~ {{Aku adalah Aku}} Mikaila Asmarani Azzahra, nama indah pemberian orang tuanya itu memiliki kepribadian yang berbeda dari teman-temannya dan lingkungan yang mayoritas penduduknya ekstrovert. Introvert girl, julukan yang tepat buat karakter...
