Keputusan Terakhir

228 99 212
                                        

Assalamualaikum
Budayakan follow sebelum baca!!
Bantu vote dan komentarnya ya♡
Happy reading, dears ...
♡♡♡


Sepanjang perjalanan pulang, Mikaila terus mengingat cerita teman-temannya dan mencoba menemukan titik terang untuk dirinya.

Malam hari usai makan malam,  Mikaila langsung menuju kamarnya. Walau belum dirasa kantuk, ia biarkan tubuhnya terlentang di kasur dengan mata yang masih melebar memandangi langit-langit kamarnya. Semakin malam semakin merasa gelisah dan membuatnya insomnia, ia pun selalu merubah posisi tidurnya.

***

Mikaila yang sedang terduduk di bebatuan besar diantara ombak yang membasahi tepi pantai mencoba menenangkan diri dan dengan memandangi alam yang luas.

Dari kejauhan, terlihat sosok lelaki paruh baya yang muncul secara tiba-tiba. Kedua alis Mikaila mengerut, ia terheran akan sosok kakek tua yang berjalan pelan ke arahnya dengan menggunakan tongkat. Mikaila terkejut, kakek itu tersenyum padanya kemudian mengusap pelupuk kepala cucunya.

"Abah," desah Mikaila, kemudian memeluk kakeknya.

"Apa kabar cucuku, kapan kau akan berkunjung ke rumahku? Abah rindu, cu," ucap abah.

"Wajahmu menunjukan kegelisahan yang amat mendalam, sesekali temui Aku dan utarakan apa yang sedang cucuku pikirkan," abah menyarankan.

Mikaila menangis tersedu-sedu, abah mengusap air matanya dengan tangannya yang lembut, abah tersenyum penuh makna. Detik kemudian abah melepaskan pelukannya dan melambaikan tangannya lalu perlahan menjauh dari pandangan Mikaila, abah pergi.

"Abaaahhh ...!" Teriak Mikaila.

Semua orang panik dan segera membangunkan Mikaila. Malika berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya dan Mike mencoba mencipratkan air ke wajahnya.

"Abaaahhh...!" Teriaknya sekali lagi.

Kali ini ia membuka matanya dan tubuhnya mendadak terduduk, nafasnya terengah engah. Mikaila melongo dan menatap heran  semua orang yang tengah mengelilinginya.

'Arghh ... ternyata cuma mimpi' decak Mikaila dalam hati

Semua orang memasang raut binarnya karena kecemasan mereka tidak berfaedah. Buktinya, Mikaila akhirnya terbangun dari mimpi buruknya.

"Syukurlah kakak terbangun," lirih Malika.

"Ada apa sih, malam-malam teriak gak jelas! Habis dikejar hantu!" Gertak Mike.

"Aku mimpi ketemu abah, Mike," pekik Mikaila.

"Abah?" Kata orang tuanya bersamaan.

Mikaila menghela nafas dan mulai menceritakan mimpinya.

"Berarti kamu harus ke makam abah, bapak akan mengantarmu esok hari," saran Zaini.

***

Keesokan harinya, Mikaila memenuhi keinginan abah, ia dan bapaknya mengunjungi makam abah dan bertakziah.

Keterlaluan memang, Mikaila mengunjungi makam abahnya hanya setahun sekali, yaitu pada hari raya lebaran bersama keluarga besarnya.

Usai bertakziah ke makam abah, Zaini mengajaknya ke rumah adiknya yang merupakan paman Mikaila, paman Fathan Andika. Mikaila ketakutan dan merasa enggan pergi kesana, namun bapaknya memaksa. Di sana mereka berbincang dan Mikaila pergi ke dapur menemui bibinya.

"Terimakasih, dik," ucap Zaini setelah menerima uang dari Fathan.

"Iya," jawab Fathan singkat. Jemarinya sibuk berhitung kemudian membuka lembaran buku agenda dan mencatat kasbon Zaini.

Asmara di Dinding AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang