Pantas punggungku berat sebelah, ternyata beban yang aku pikul terlalu berat__beban kehidupan.
~Rania Safhira~
.
.
.
Assalamu'alaikum, dears.
Nihu come back
Thanks buat reader setia yang membersamai ceritaku sampai part ini💕
Dan ...
Selamat menikmati suguhan asmara versi anak asrama selanjutnya ...
Banyak konflik banyak rezeki, wkwk.
Happy reading🤗
.
.
.
***
(...)
"Ternyata ... akhi Fahmi adalah saksi bisu tragedi yang menimpamu beberapa bulan silam, dan mengapa anti tidak bercerita?" kejut Asma.
"Ini salahku. Akan tetapi, Fahmi tidak mengetahui segalanya. Usai kepulangannya berkunjung ke kotaku, semuanya terungkap. Seluruh anggota keluarga menjadi shock termasuk ana," timpal Rani.
"Entah sejak kapan ana terlibat kepada suatu hal yang belum pernah ana alami ...."
Rani hanya mengangguk setelah mencerna cerita Asma.
"... ana minta maaf karena terlalu dhoifah dalam menjaga rahasia ini. Ana tidak sanggup menyimpannya berlama-lama dan ... sendirian saja. Kau jahat, kau membuatku memikul beban yang tidak seharusnya ana pikul, Rani," tutur Asma seraya terisak dan tertatih.
"Ana yang salah, ana terlalu egois karena ana terlalu mempercayai anti ..." decak Rani.
"Maksudmu?"
"Gak ada maksud, ana hanya bercanda." Rani tersenyum datar.
Kedua sahabat itu memandangi tamu undangan, yaitu sanak keluarga Rani dan juga melihat temannya yang lain. Semuanya sudah terlelap kecuali mereka.
Keluarga Asma belum berkunjung sehingga ia berbagi tikarnya dengan Rani dan ibunya, sementara Ayahnya Rani dengan beralas tikar milik putrinya tidur bersama kaum ayah santriawati lainnya di tempat yang di sediakan oleh panitia penyelenggara, salah satunya majlis ta'lim.
"Ini sudah larut malam, sebaiknya kita tidur," desah Asma yang matanya mulai menyipit.
"Baiklah, matamu memerah. Tidurlah, ana belum mengantuk," tolak Rani.
"Ana rihlah duluan ya, hehe. Selamat malam."
"Selamat malam."
Setelah Asma menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut dan terlelap di dalamnya, Rani melanjutkan perenungannya di balkon depan asrama.
"Apakah aku berbuat lancang ya robb? Aku harap kau mengampuniku. Sungguh, kau sebaik-baiknya pengampun. Allahummaghfirlii ...." lirih Rani dibawah sinar rembulan yang menenangkan.
Tetesan bening yang berasal dari matanya mengalir perlahan hingga deras membasahi pipinya yang membuat indera penglihatan Rani sembab dan pandangan kabur. Rani mengucek matanya dan kembali menengadah ke langit.
"Rani baik-baik saja 'kan, tuhan? Lalu, mengapa air mata ini menetes tanpa alasan?" Keluhnya.
Rani mengusap wajahnya yang dingin kemudian gegas menuju kamarnya dan menutup pintu asrama.
Di pandangnya dua orang putri tidur di dekatnya dengan senyum yang terpatri di wajahnya.
"Maafkan aku," lirihnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Asmara di Dinding Asrama
Fanfiction~Prolog~ {{Aku adalah Aku}} Mikaila Asmarani Azzahra, nama indah pemberian orang tuanya itu memiliki kepribadian yang berbeda dari teman-temannya dan lingkungan yang mayoritas penduduknya ekstrovert. Introvert girl, julukan yang tepat buat karakter...
