Tenggelam

44 12 2
                                        

Assalamu'alaikum

"Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan."

Happy reading, Dears.

🥀🥀🥀

"Mendapatkan perlakuan buruk, sejatinya belum tentu bahwa kita adalah buruk. Tetapi bisa jadi karena memang prilaku orang itulah yang buruk."

~Mikaila Asmarani Azzahra~

***

Seperti guyonan Mike dalam perjalanan pulang beberapa hari yang lalu, sebuah candaan menjadi kenyataan. Itulah yang Mikaila rasakan setelah berhari-hari berada di rumah. Entah mengapa, setiap kali Mikaila memandangi nuansa kampung halamannya walau dari balik jendela, ia selalu teringat masa-masa itu. Masa yang membuat dirinya semakin tenggelam dalam kenangan masa lampau, pahit manis sepah dibuang.

Flashback

Masa kecil kurang bahagia, prakata itu cocok sebagai pembuka flashback itu. Seperti khalayak anak-anak lainnya, Mikaila juga sangat menyukai keramaian, namun ia kerapkali mengurungkan inginnya untuk sekedar bergabung dalam keramaian dan terlibat dalam permainan anak-anak semenjak dirinya dipatahkan dan dijatuhkan berkali-kali. Air matanya seringkali ia sembunyikan dan ditumpahkan dalam kesendirian.

Masa merah putih, Mikaila teramat tertutup, enggan memulai hubungan baru dan  menjadi anti sosial karena lingkungan mengubahnya menjadi seperti ini. Gadis itu tidak pernah terlibat dalam upacara hari senin karena ia tidak punyai bakat apapun terutama dalam hal keberanian dan publik speaking.

Tentang hari senin, disepanjang perjalanan selama enam tahun, Mikaila hanya berperan sebagai penonton semata. Walau badannya yang paling mungil dan sepantasnya berada dibarisan paling depan, akan tetapi ia selalu ditempatkan pada barisan paling belakang oleh sang ketua kelas sebagai pemimpin pasukan.

Terkadang, bukan salah ketua kelas yang tidak memperdulikan barisan teman-temannya, Mikailanya saja yang sering kali mengalah. Memiliki tabiat engga enakan ternyata ngga enak juga, ya.

"Hey Mika, tukeran posisi geh, aku pengen liat mereka mengibarkan bendera."

Mikaila hanya bertukar posisi, bukan nasib. Andai nasib bisa dengan mudah ditukar, mungkin gadis kecil itu sudah melakukannya sejak lama dan secara diam-diam.

"Mika, geser dikit dong! Gak keliatan tau!"

Seseorang mendorong Mikaila pelan dengan pergelangan tangannya, ia pun terpaksa bergeser ke belakang.

"Jangan coba-coba rebut barisan aku, ya, anak dungu kayak kamu mending di belakang aja tuh sama si onoh."

Ketika yang lain merasa terganggu karena Mikaila tiba-tiba ada didekatnya, ia tidak pernah sungkan berkata kasar dan mengusirnya dari dekatnya.

Endingnya, Mikaila hanya memandangi punggung teman-temannya dan menengadah ke atas dengan penuh penghormatan kala bendera merah putih sedang berkibar.

Ada masanya Mikaila berada dibarisan paling depan, yaitu pada saat-saat terakhir ketika mereka naik tingkat menjadi senior di sekolah. Saat kelas V dan VI, karena gadis kecil bodoh ini dianggap tidak berguna, akhirnya Mikaila tergabung dalam barisan paduan suara bersama teman-teman sekelasnya.

Asmara di Dinding AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang