Assalamu'alaikum dears,
Happy reading and enjoy with me.
***
Semua persiapan sudah di lakukan, akan tetapi duka santri ulya yang menduduki kelas paling akhir semakin mencekam.
Fahmi yang menyaksikannya merasa iba, ia tidak sanggup berlama-lama bungkam dan menghindar dari pertanyaan para santri tentang Rani. Selain kelima temannya, tidak ada yang tahu alasan kuat kepergian Rani selama ini. Bahkan, tidak ada yang menyadari kemana pemuda itu berkelana selama satu bulan di lingkungan bebas.
"Bang," lirih Ammar.
"Ammar, kau kemari?"
"Tentu saja, sejak beberapa hari setelah abang berani mengungkap semuanya ... abang terlihat murung," desah Ammar.
"Ana gak apa-apa, Mar. Kamu jangan sok tahu ahh."
Ammar tersenyum miring, "argh ... ana bukan sok tahu, bang. ana memang tahu. Firasat ana gak pernah kepeleset," ujar Ammar.
"Kau pergilah, ana sedang ingin sendiri, titip salam kepada ketua kamar bani ali ya," Fahmi memohon dengan tatapan sayu.
Ammar tak bisa berkutik, akhirnya ia mengalah dan pergi meninggalkan seniornya.
"Bang, ana ke sini sekalian mau ngasih kulluhum. Beberapa jam lalu saudara ana datang menjenguk. Di makan ya, bang," pesan Ammar.
Ia langsung menaruh plastik kantong berwarna gelap berisi makanan khas rumahan itu ke dekat Fahmi. Pria itu menatap bungkusan yang Ammar letakan seraya tersenyum pertanda berterimakasih.
Ammar faham arti senyum sekilas itu, tak ingin mengganggu pelamunan abang seniornya, Ammar beri isyarat pamit undur diri. Fahmi mengangguk lirih.
'Ana sudah berjanji dan ana harus tepati,' batinnya sepeninggal Ammar
Fahmi kembali melanjutkan pelamunannya dan melayangkan pikirannya ke beberapa bulan ke belakang, kenyataan pahit yang sulit di hempaskan.
Flashback on ...
Detak jantung Fahmi seolah terhenti ketika Ayahnya Rani memandanginya dengan tatapan penuh amarah. Ia juga bingung dengan apa yang dokter sampaikan pada pria paruh baya itu terkait kondisi Rani sehingga pak Rendi selaku ayahnya Rani berubah sinis dan bersikap dingin padanya.
Diamnya pertanda amarah, itu yang sering Rani ceritakan terkait ayahnya, dan itupun terlihat dari raut wajah dengan sorotan matanya yang tajam. Entah apa kesalahan Fahmi hingga ayah dari gadis pujaannya tampak marah.
"Apa kata dokter, Pa?" desak bu Nia, ibunda Rani.
"I-iya pak, a-apa kata dokter," ucap Fahmi terbata-bata.
Fahmi teramat mencemaskan Rani, ia ingin tahu jawaban ayahnya Rani. Namun, pria itu malah mengabaikan pemuda di dekatnya dan mengalihkan pandangan ke retina sang istri.
Bu Nia bangkit dari tempatnya duduk di dekat Rani yang masih terbaring lelap . Ia mendekat ke arah suami dan pemuda itu lalu menggoyang-goyangkan tubuh pak Rendy karena sejak tadi tak berkata sepatah kata pun. Tak lama, ia beratensi ke arah Fahmi.
"Bukankah ... kau sejak tadi di sini, Nak Fahmi?"
"Ketika ibu call Rani, anak ibu baru di tangani dokter."
KAMU SEDANG MEMBACA
Asmara di Dinding Asrama
أدب الهواة~Prolog~ {{Aku adalah Aku}} Mikaila Asmarani Azzahra, nama indah pemberian orang tuanya itu memiliki kepribadian yang berbeda dari teman-temannya dan lingkungan yang mayoritas penduduknya ekstrovert. Introvert girl, julukan yang tepat buat karakter...
