Sebatas Pelengkap Rasa

143 71 153
                                        

Assalamualaikum, Dears.

Absen dulu yuk sebelum lanjut baca kisah Mikaila, dengan jawab salam hihi.

Ketik username atau link judthor kalian di sini, biar bisa salfoll atau feedback.

Budayakan follow sebelum baca dan jangan lupa tinggalkan jejak. Beri vote dan feedback bisa membangkitkan energi Nihu biar semangat up nya, hehe.

Happy reading, dears.
♡♡♡

***

Langit sudah menampakkan sinar jingganya, pertanda matahari mulai terbenam. Mikaila yang hidup dalam khayalannya terperanjat kaget ketika seseorang memegang pundaknya, tampaknya ia sengaja membuyarkan lamunan Mikaila.

"Assalamu'alaikum ukhti, sadarlah. Gak baik melamun di jam segini, kalo kesambet siapa yang repot, hihi," ujar sesosok santri berpakaian serba putih yang kemudian berlalu meninggalkannya. Ia tertawa kecil dengan mulut yang ditutupi telapak tangannya.

Santri itu terasa asing dan tampak berbeda dalam pandangan Mikaila, tubuhnya yang di selimuti cahaya membuat Mikaila tertegun.

Mikaila segera mengedipkan matanya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Detik kemudian di kuceknya retina yang masih memerah itu.

Gadis itu terperanjat kaget ketika beratensi ke sekeliling ruangan kelas, ia baru tersadar kalau kehadiran sosok tadi hanyalah bunga tidur belaka.

'hoam ... ternyata aku hanya mimpi,' batinnya seraya menggeliatkan badannya.

"astaghfirullah, aku ketiduran! ini jam berapa, ya?" Panik Mikaila dengan bola mata yang membulat sempurna.

Kejutnya bertambah ketika mengecek arlojinya, Mikaila terkesiap lalu menghentakkan kakinya dan berdiri dari kursi yang ia duduki.

Gadis itu pergi ke luar kelas dan melihat suasana lingkungan asrama dari atas lantai tiga. Tampak santri yang sudah berlalu lalang memasuki majlis dengan mengenakan mukena mereka.

Mikaila segera berlari menuju kamarnya.

Setibanya di kamar, tampak Mishti sudah stand by di depan pintu kamar dengan menyilangkan kedua tangannya. Sorotan mata elangnya membuat Mikaila menelan salivanya berkali-kali, ekspresi wajah kantuknya hilang seketika kala beradu pandang dengan sang ketua kamar lebih lekat lagi.

"Kau darimana saja, Mikaila?" Tegas Misthi.

Yang di introgasi hanya diam saja dengan menampakkan raut wajah paniknya.

Mikaila berdiri mematung dengan kepala tertunduk. Ia tak berani menghadapi kemarahan ketua kamarnya itu.

"Jawab ana, Mikaila! Anti darimana saja, hah! Jam segini baru balik kamar. Apa anti lupa peraturan asrama?" Gertak Misthi.

Mikaila mulai membeo meski dengan nada gemetaran.

"Jam 17.30 seluruh santri sudah harus menghentikan waktu luang mereka dan kembali ke kamarnya untuk bersiap menunaikan ibadah sholat maghrib berjama'ah di majlis," papar Mikaila dengan nada merendah, ia pun mengangkat kepalanya dan kembali beradu pandang dengan Misthi.

Asmara di Dinding AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang