Sahabat Ghaib

182 88 451
                                        


Assalamu'alaikum, Dears❤
Absen kehadiran para reader yuu hehe ...

Beri emot favorite kalian ya💋
Semoga suka ceritanya.

●●● Happy Reading ●●●

***
Setelah puas berinteraksi dengan dirinya sendiri, Rama kembali merebahkan badannya ke atas kasur yang hampir lusuh. Walau tempatnya itu tentu sudah ditiduri Al sementara kasurnya sendiri tak berpenghuni. Akan tetapi, dalam satu kedipan mata saja, Al sudah akan bersiap bergelayut manja diatas kasur miliknya. Sontak saja Rama langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tikar miliknya walau pada akhirnya gagal juga. Drama sebelum tidur memang selalu menjengkelkan.

"Al! Ana akan berdo'a pada Tuhan agar kelak tidak sekamar lagi dengan ente!" rutuknya.

Entah mengapa Aldevaro ini selalu tertidur dalam posisi yang seperti jarum jam, badannya terlalu lentur hingga membuat potret gaya tidurnya sepantasnya di abadikan jikalau bebas pegang handphone. Sementara Kaffa yang selalu mendengkur dan mengigau serta tidur dalam keadaan menganga, beruntunglah tidak ada cicak di dinding yang jatuh ke mulutnya.

Rama yang suka main malam bersama kerlipan bintang yang menemani rembulan kini merasa dirinya selalu kewalahan dalam memposisikan raganya yang butuh istirahat itu.

Akhirnya, Rama menggantikan posisi tidur Al yang semula dan menjadikan Kaffa sebagai gulingnya. Padahal tidur di tengah-tengah dua sekawan bukanlah ekspektasinya.

"Bismika Allahumma ahya wa bismika wa amuuut ...." lantunan dzikir dan do'a yang keluar dari mulut Rama tak pernah terlupakan sebelum tidur.

Selarut apapun Rama tidur, ia selalu bangun tepat waktu, yaitu disepertiga malam. Namun, malam ini sejak Rama terjaga dari rasa kantuknya, ia punyai firasat aneh dan mencekam. Apalagi sejak retinanya tersamarkan terhadap bayangan yang ia lihat beberapa waktu lalu. Bodohnya, pemuda ini malah menduga pemilik bayangan itu sudah pasti adalah para penjaga malam yang berkeliaran melakukan tugas jaga malamnya.

Seperti ada yang menepuk-nepuk pelan pergelangan tangannya, Rama sontak terbangun. Pemuda itu duduk bersandar di lemari Al dan merentangkan kedua kakinya, Rama menggeliatkan badannya dan mengucek kedua matanya.

'Rasanya pegal sekali, seluruh tubuh ini seakan tertindih dua beban berat disisi kanan dan kiri.' Begitu kira-kira rutukannya selepas baca do'a bangun tidur.

Pancaran cahaya putih menyilaukan retina Rama ketika ia perlahan membuka matanya, pemuda itu sontak menggunakan kedua punggung tangannya sebagai satir agar cahaya itu tidak menyakiti kedua matanya.

"Aww! sinar apa ini, mataku sakit sekali," jerit Rama.

Rama semakin merintih keperihan karena cahaya itu semakin menyakiti matanya dengan sinarnya yang semakin menyilaukan. Pemuda itu mulai merasa cemas dan bergidig ngeri karena sumber cahaya yang entah berasal dari mana semakin mendekat ke arahnya. Hal itu dirasa oleh Rama karena tubuhnya mulai mengeluarkan keringat berlebih.

"Ja-jangan mendekat, bisa-bisa aku tuna netra, to-tolooong! Rama semakin meronta.

"Assalamu'alaikum ya akhi," sebuah suara mengucapkan salam dengan alunan yang lembut, membuat Rama terdiam dan tenang sesaat.

"Wa-wa'alaikumsalam, man anta ya akhi?" tanya Rama ragu-ragu.

"Bukalah matamu, ini aku," lirih suara itu.

"Ti-tidak, kedua mataku bisa rusak nanti," tolak Rama.

"Man anta? Dan tolong singkirkan senter itu, cahayanya sangat menyilaukan!" lanjutnya.

Asmara di Dinding AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang