Hubungan Tanpa Ikatan

60 3 0
                                        

"Karena setiap orang hanya membentuk sebuah hubungan tanpa adanya suatu ikatan."

~Zaini Joshua Andika~

***

Sejak waktu dhuha, Zaini memang sudah pergi dari rumah. Elya sama sekali tidak cemaskan itu karena Zaini pasti pergi ke ladang. Namun, berbeda dengan hari ini. Sahutan salam yang pasti berasal dari suara Zaini baru terdengar setelah cakrawala menunjukkan sinar jingganya, bahkan sudah hampir maghrib.

"Mas, tumben kamu pulang senja sekali, memangnya dari mana?" tanya Elya sambil menyalami suaminya.

Zaini menatap sekeliling ruangan rumahnya, rupanya ketiga anaknya sudah duduk manis di sofa karena menantikan kedatangan tulang punggung keluarga mereka. Setelah senyum tulus lelaki paruh baya itu diperlihatkan, Zaini kembali beratensi kepada istrinya.

"Dari rumah Fathan, ada apa?" Zaini balik bertanya.

"Bukannya bapaknya Hilma lagi pergi, ya?"

Zaini terlihat kikuk usai mendengar lontaran mama, "hmm ... Iya, dan ... sebenarnya ... kebetulan aku juga diajak," ucapnya ragu-ragu.

"Kalian pergi kemana sampai se-sore ini? bukannya kita akan ...."

"Bapak ngga ngabarin kita kalau mau pergi sama keluarga paman Fathan?" Sambar Malika.

"Iya, Pak. Setahu Mike, bukannya besok acara munggahan keluarga besar, ya, terus kenapa paman Fathan pergi bersama keluarganya termasuk Bapak? dan ... apakah mereka sudah mengundang anggota keluarga yang lain?" timpal Mike, ia memang heran karena bang Fathur juga tidak memberitahukannya.

"Ada tiga kemungkinan, pertama karena ada liburan khusus keluarga dan kebetulan Bapak kita yang kurang piknik disana sehingga diajaklah bapak. Kedua, karena ada undangan munggahan teruntuk Bapak dan paman Fathan. Dan, yang ketiga ...." tutur Malika dengan nada menggantung.

"Ketiga apa, dek?" Akhirnya Mikaila ikut dalam ranah debat debut antar saudara.

"Ketiganya ... apa ya? nanti aja deh!" seru Malika yang nyatanya kehabisan kata-kata.

"Dasar Beo!" seru Mike.

"Banyak juga panggilan sayang buat Malika, makasih abangnya beo!" seru Malika dengan  tawa mengejek.

"Cih!" Mike berdecih.

Pasutri yang sudah dikaruniai anak-anak manis ini hanya saling bertukar pandang seraya geleng-geleng kepala melihat tingkah ketiganya. Bapak memijat keningnya dengan atensi dan pikiran yang sebenarnya. terfokuskan pada hal lain.

"Sayang, sudah dulu diskusinya, ya, kasian bapaknya kelelahan."

Mikaila dan kedua adiknya sontak menoleh kearah kedua orang tuanya, ketiganya akhirnya meminta maaf.

"Oh, iya, Pak. Memangnya paman Fathan ajak bapak kemana?" lagi-lagi Malika menanyai bapaknya.

"Iya, pak, kalian dari mana saja sejak pagi?" Mike menimpali.

"Sudahlah, bapak cape. Bapak butuh kopi hitam tanpa gula," keluh Zaini.

"Biar Mikaila aja yang bikin, Pak," tawar gadis itu. Bapak menoleh dan mengangguk lirih.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 29, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Asmara di Dinding AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang