Rindu Dan Sendu

40 7 0
                                        

"Berkisah untuk berpisah"

Setelah Kakek, harusnya Nenek adalah pemersatu keluarga kala lebaran, jika nenek juga tidak ada kumpul keluarga besarpun menjadi langka.

~Mikaila Asmarani Azzahra~

***

Mikaila menatap sendu bangunan yang sudah kumuh seraya bergelut dengan kenangan semu di masa lalu. Setibanya di rumah usai mengantarkan hidangan munggahan pada keluarga paman Fathan bersama adiknya, gadis itu menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya.

"Abah ... Mikaila rindu sama abah, rumah itu sudah tidak berpenghuni lagi, sementara ambu yang sering sakit-sakitan sekarang tinggal di rumah paman Fathan. Ambu menjadi rapuh usai kepergian abah, dan kini ambu semakin rapuh seiring berkurangnya usia." Tulis Mikaila dalam diary-nya.

Selayang pandang, Mikaila mengalihkan retinanya ke arah benda yang tergeletak, ia merotasikan manik mata yang berubah binar pada sebuah buku yang selama ini dia cari.

"Ternyata kau disini!" seru Mikaila pada benda mati itu.

Ia bangkit dari tempatnya duduk dan segera meraih buku bercover merah muda untuk disimpan kembali ke tempat yang aman tapi mudah dijangkau oleh dirinya.

"Kakak cari aku?" sahut Malika yang sudah berdiri didekat pintu kamar mereka. Mikaila terhenyak dan sontak mematung dengan bibir yang gemetaran.

"Ada apa, kak?" Malika melayangkan kedua kakinya dan berjalan perlahan hingga mencapai Mikaila.

"Anu, a-aku ...."

"Kau terlihat gugup begitu, kak, ada apa?" tanyanya kembali sambil memegang wajah Mikaila.

Gadis itu memalingkan wajahnya, "Ti-tidak apa-apa, apa kau sejak tadi disana? kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" protesnya dengan dalih mengalihkan perbincangan.

Malika tertawa mengejek, "ini kamarku juga, kak, jadi suka-suka aku dong," pungkasnya.

"Apa kau perlu sesuatu? atau jangan-jangan kau membutuhkan aku?" tanya Mikaila usai berhasil menstabilkan ekspresinya.

"Bukan aku, tapi mama. Kakak langsung menghilang begitu saja setelah sampai tanpa laporan dulu sama mama, bikin orang khawatir aja," celoteh Malika.

Mikaila menggaruk pelan bagian pelipisnya, "oh iya, ana lupa," cengirnya.

"Ente bahlul, kak!" cemooh Malika.

"Apa katamu?"

"Ngga jadi, kak, jadinya jamilun jamilatun,"

"Ya sudah, ayo kita temui mama," ajak Mikaila.

"Kita? Elu aja kali gua mah engga!" sewot Malika.

"Ah sudahlah!" Mikaila yang berdecak sebal akhirnya melengos meninggalkan Malika.

Malika mematung dengan manik mata yang berrotasi kesana kemari, kedua tangannya yang dilipat akhirnya bergerak menelusuri meja belajar milik Mikaila.

"Ada yang ngga beres, pasti kakak menyembunyikan sesuatu," gumamnya dalam hati.

***

Asmara di Dinding AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang