Dari Kata Menjadi Kita

192 77 297
                                        

"Orang bilang, pertemuan pertama adalah kebetulan belaka, pertemuan kedua adalah sebuah kepastian, pertemuan ketiga adalah suratan takdir. Namun, tidak ada pertemuan yang serba kebetulan, semua pasti sudah di gariskan oleh yang maha kuasa,"

●● Assalamu'alaikum ●●
☆☆ Happy reading ☆☆
●●●

Di penghujung semester, beberapa tahap lagi menuju ke tingkat yang lebih tinggi, dari tingkatan Ibtida--ula menuju wustho, dan dari tingkatan wustho menuju ulya.

Kemampuan dan bakat minat santri ditandai dengan berbagai varian kelas yang mereka tempati.

Untuk menentukan layak tidaknya santri naik tingkat, mereka akan melakukan beberapa test.

Bagi sekelompok ibtida yang akan naik tingkat ke tingkatan wustho, ada beberapa kelas yang memicu bakat dan minat santri dan terfokus di dalamnya. Di antaranya, kelas amtsilati, dan kelas qur'ani yang terbagi dua kelompok, kelompok qori' dan tahfidz.

Menjelang ujian akhir semester, hampir seluruh santri melakukan sistem kebut semalam, mereka belajar dengan giatnya. Suara bising yang berasal dari varian nadhom yang dilantunkan para santri terdengar berbeda dari biasanya, mereka melafalkan nadhom yang berasal dari kitab yang mereka kaji. Karena tiap tingkatan memiliki hapalan dan kajian yang berbeda-beda. But, no problem, perbedaan itu indah selama itu satu tujuan, bhineka tunggal ika.

"Mikaila, anti masih ingat pembahasan yang ini? tanya Anggita, gadis itu memperlihatkan beberapa kalimat arab yang belum dia fahami.

Bola mata Mikaila dengan dahi yang mengerut dengan telaten mengikuti arah tunjuk Anggita.

"Eum ... ini masih bab awal, mengapa anti bisa lupa? It's easy, Ini bagian termudah dalam dasar ilmu nahwu," ucap Mikaila.

"Ini dua pasal yang menjelaskan macam-macam i'rob, ciri-cirinya dan contohnya," terangnya kemudian.

"Ana hanya mengingat garis besarnya saja, dimana i'rob terbagi ke dalam empat macam, i'rob rofa, i'rob nasob, i'rob jer, dan i'rob jazm," tutur Anggita.

Mikaila mangut-mangut, ia mencoba mengingat kilas balik pembahasan bab kedua dan ketiga dalam kitab jurumiyah ini. Walau ia mengingatnya, Mikaila tak ingin salah dalam mengkaji ulang tanpa bimbingan guru ngajinya.

"Baabul al-i'robi, dalam bab ini merupakan penjelasan i'rob. Maa huwa al-i'robi?"

Anggita menyimak dengan seksama pembahasan Mikaila yang terbilang ringkas dan jelas itu. Ia mengangguk usai menela'ah dan memahami pengertian i'rob. Mikaila tersenyum dan melanjutkan penjelasannya.

"Sekarang, perhatikan beberapa kalimat ini," Mikaila menelunjukkan jemarinya dan mengarah pada beberapa kalimat berbahasa arab itu.

Anggita tersenyum lega karena sedikit bebannya akan keterlambatannya dalam memahami ajaran gurunya akhirnya terhempaskan. Ia pun dapat me-resume kembali penuturan temannya sampai pada titik 'fahimnaa'.

"Sebenarnya dua bab ini adalah bab favorit ana, sehingga ana super semangat walau mood agak sedikit kongslet, haha,' candanya usai mengakhiri pembahasan satu bab kitab jurumiyah tersebut.

"Sumpah, Mikaila. Ana masih gak percaya kalau santriawati dihadapan ana adalah seorang Mikaila!" Anggita berdecak kagum.

"Why?"

"Because, you're the best! you're the introvert girl. But now? I see, you're agent of change! Smarter, cleverer and I pround you. Ma'annajah, Mikaila!" kata-kata bernuansa asing tiba-tiba keluar dari mulut Anggita.

Asmara di Dinding AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang