Kun Fayakun

115 45 259
                                        

"Kun fayakun. Kun adalah mantra yang hanya bisa di pergunakan oleh-Nya. Manusia hanyalah pemeran, Allah lah penulis skenarionya."

🌠🌠🌠

Assalamu'alaikum, dears.
Nihu come back💓
Stay with me and happy reading.

Penuhi kolom komentar karena Nihu rindu moment itu😌

***

"Ukhti Zia, apa sekarang waktu yang tepat untuk menyampaikan amanat dari ukhti Tiffani dan ukhti Misthi?" tanya Sheema agak berbisik.

Ia dan lawan bicaranya menengadah ke langit seakan rembulan tersenyum hangat padanya.

"Hmm ... taffadhol ukh, quli al-haqq wa lau kaana muuroon," tanggap Zia.

Sheema tersenyum lebar kemudian bergegas pergi mencari Mikaila.

"Mikaila, ternyata anti di sini?"

Gadis itu terheran, "sejak tadi ana di sini, dan anti? apa kelasmu berakhir dan free?" tanya balik Mikaila.

"Dasar bodoh," decih Sheema.

Mikaila tersenyum dan mengalihkan pandangan kepada retina Sheema dan membuat keduanya saling beradu pandang.

"Beberapa menit lagi kelas ana ada sorogan lalaran nadhom al-maqsud. Karena time is money and al-waqtu ka as-saif, waktu luang ini mungkin tepat untuk ana menyampaikan amanat tadi siang," papar Sheema.

"Al-aann?"

"Na'am, ini amanat sekaligus janji ana juga 'kan? jangan bilang anti lupa lagi? gitu aja terus!" gerutu Sheema sembari memanyunkan bibirnya.

Mikaila tertawa kecil, gadis itu memang pelupa tapi sekali-kali ia memanfaatkan sifat yang terbilang buruk itu pada Sheema hingga mencapai titik terakhir Sheema yaitu  semakin kesal dan merutuki dirinya sendiri, Mikaila bertepuk tangan dalam hatinya.

"Ana ingat kok, katakan saja apa yang kalian bicarakan selama ana berkelana tanpa kabar dan pemberitahuan dari teman sekamar,"  desak Mikaila.

Sheema menghela nafasnya yang berat, ia menatap sinis teman di sampingnya.

Sheema mengulang apa yang di amanatkan kedua kakak senior itu kemudian Mikaila menanggapinya dengan anggukan pertanda faham.

"Jikalau anti sungkan atau sebenarnya emang malu tingkat overdosis, ana siap mengantarmu kapan saja," kata Sheema bersemangat.

Tak lama, gadis itu kembali ke kelasnya sementara Mikaila mengambil kitab-kitabnya di meja dan lekas kembali ke asrama menyusul teman sekelasnya yang sudah pergi lebih dulu.

***

Usai memenuhi kewajiban seorang tholibin dan santri, ketiga serangkai panutan anggota kamar Bani Ali itu menata kitab mereka di lemari masing-masing kemudian menghabiskan waktu yang tersisa untuk beristirahat sebelum terlelap dengan kembali ber-ghibah.

Membicarakan orang lain memang tidak di perbolehkan, akan tetapi bagi khalayak orang hal itu sangat sulit di hindari.

Mungkin di antara kita, membicarakan orang lain adalah sebuah rutinitas atau Hobby, rasanya tidak seru kalau ada moment kumpul sama teman-teman tapi tidak ada nuansa ghibah.

Asmara di Dinding AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang