Titik terbaik mencintai adalah membiarkannya taat.
Jangan usik dia, jangan ganggu keimanannya.
Cukup do'akan dia semakin taat, semakin dekat dengan sang pemilik cinta, Allahu Robbi.
Biarkan Allah yang arahkan dia untuk memilihmu sebagai partnernya ke surga.
~Tubagus Ramadhan Ali Assyaqoti~
Assalamu'alaikum
●● Happy reading, Dears ●●
***
Kegiatan angkat mengangkat lemari dan packing berjama'ah terkhusus para demisioner dan kakak pembina baru akhirnya tuntas dilakukan.
Setelah sekian purnama, akhirnya anak kelas tiga yang akan mutakhorij beberapa bulan lagi kini bisa berkumpul dan bersua. Tidak ada lagi perbedaan di antara mereka, tidak ada lagi permusuhan, pertikaian, saling jatah dan jatuh, dan saling ghibah satu sama lain. Mereka saling melepas rindu, suasana menjadi sendu.
Perbedaan itu terjadi semenjak anggota terpilih bergabung dalam Organisasi Santri Intra Pesantren. Seperti sudah tradisi dari dulu, bebepara anak kelas tiga yang mayoritas penikmat pampletan dan takziran serta tidak terpilih menjadi aparat OSIP memusuhi teman mereka sendiri, yaitu ketua hingga anggota roisah.
Ujian terberat yang dilakoni anak kelas tiga yang menjadi ketua kamar mereka adalah harus mendapati semprotan, sindiran, dan lainnya. Hal yang paling menyedihkan dan tidak sanggup menyaksikannya adalah ketika teman satu angkatannya sendiri harus mereka takzir sesuai ketetapan dan point hukuman yang mereka lakukan selama di pondok. Tingkat takziran santri tergantung pelanggaran yang mereka perbuat.
Yang pacaran terkena pamplet, hukuman paling fleksibel hingga rumit dan merupakan takziran level tertinggi. Pertunjukan itu seperti ajang pemilihan the best couple sampai ke titik paling menyebalkan, PUTUS.
Yang surat menyurat akan mendapatkan malu tingkat kemaluan. Jika terdengar kasus seperti ini, para aparat dan pembimbing OSIP mengadakan razia secara diam-diam. Pada acara gabungan seperti muhadloroh dan mudzakaroh, ketua bagian keamanan bersama anggotanya beraksi, mereka menggeledah seluruh kamar dan memeriksa lemari penghuninya satu per satu secara lebih teliti. Sementara seluruh santri yang dikumpulkan secara gabungan di dalam majlis tidak menyadari adanya razia. Beberapa hari di waktu yang tepat barulah mereka mengumpulkan barang bukti dihadapan semua santri yang membuat mereka semua heboh dan membuat pelakunya cemas tingkat tinggi.
Menariknya, usai aparat OSIP membacakan tiap lembaran kertas bertuliskan sajak cinta ala santri bucinisme, bersamaan dengan itu tiap santri yang tercantum dalam surat akhirnya mengakui tulisannya. Ia dipaksa maju ke depan dan memanggil target atau gebetannya. Pasangan itu akan membacakan balasan surat mereka dihadapan satu sama lain yang disaksikan seluruh santri.
Terkhusus perokok, pezina, pecandu narkoba, pria bertato, dan penyuka gaya rambut ala-ala punk, terlalu gondrong, dan berwarna warni. Takziran semacam itu terasa berat di lakukan oleh santri. Mereka harus rela melepaskan rambut kesayangannya untuk digunduli, sampai kena skors bahkan dikeluarkan secara tidak hormat sesuai perbuatan yang mereka lakukan.
Yang makmum masbuk dapati bonus double hapalan. Yang tidak mengikuti sholat berjama'ah di asrama masing-masing atau di majlis dapat kecupan--takziran mesra dari ketua kamar mereka atau sang ketos--ketua OSIP.
Yang memakai rok atau celana kala pengajian dan memakai aksesoris berlebihan serta ber make up, takziran berupa make up tak wajar ala jeng kelin, vampire, momonon, dan lainnya atau kostum ala rois roisah menjadi tontonan penghibur para santri. Terdakwa biasanya mengunjungi semua komplek asrama dengan kostum yang mereka kenakan selama tujuh hari, hanya untuk menawari takziran ringan demi dapati tandatangan sang OSIP.
KAMU SEDANG MEMBACA
Asmara di Dinding Asrama
Fiksi Penggemar~Prolog~ {{Aku adalah Aku}} Mikaila Asmarani Azzahra, nama indah pemberian orang tuanya itu memiliki kepribadian yang berbeda dari teman-temannya dan lingkungan yang mayoritas penduduknya ekstrovert. Introvert girl, julukan yang tepat buat karakter...
