Mengapa senja lebih terlihat indah daripada fajar? Apakah perpisahan lebih mudah diingat daripada pertemuan?
~Ulya~
Assalamu'alaikum
Happy reading, Dears.
***
Sebuah penantian panjang yang dinantikan para santri pondok pesantren Nurul Islam Abadiyah akhirnya sudah didepan mata, acara akbar haflah akhirussanah akan segera digelar beberapa saat lagi dan para penyelenggara acara sedang berada difase sibuk-sibuknya. Mereka akan bekerja penuh agar acara berlangsung dengan lancar.
Di lain tempat, beberapa orang dalam satu mobil beserta rasa antusiasme-nya siap melajukan kendaraannya ke tanah pesantren, mereka tak menyangka akan menyaksikan acara akbar yang pastinya menyisakan kenangan dimasa yang akan datang. Karena tempat parkir kendaraan roda empat sudah penuh, beberapa anggota bidang keamanan mengarahkan mobil itu ke tempat yang tak jauh dari area pondok dan memarkirkannya di sana.
"Ini kartu undangannya," ucap pria paruh baya yang kemudian dipersilahkan mengisi daftar tamu.
"Terimakasih, pak. Selamat datang di lingkungan yayasan Pondok Pesatren NIA. Bapak dan keluarga akan kami antar menuju ruangan para tamu, " ucap sang penerima tamu, yang tak lain adalah panitia penyelenggara--santri.
"Mari, Pak, saya yang akan mengantarkan Bapak beserta keluarga," tawar anggota yang lain dengan ramah dan santun.
Acara gladi resik sedang berlangsung, keluarga yang baru tiba tersebut merotasikan pandangan mereka ke arah panggung dengan sebuah asa yang mereka simpan dalam hati.
***
"Kau terlihat bahagia, ada apa? gak seperti biasanya," heran Rama setelah mendapati sosok dihadapannya bertingkah aneh.
"Ah ... tidak, ini hanya perasaanmu saja." Sang jin memalingkan pandangannya.
"Tapi, kau benar-benar aneh akhir-akhir ini, Aamir Jinni. Ekhm, sepertinya kau menyembunyikan sesuatu. Ayolah katakan!" Desak Rama.
"Ahh ... sok tahu kau ini!"
"Ana bercanda. Lagian sejak kapan sahabat ghaib Rama ini menyembunyikan sesuatu?" Gurau Rama.
"Yang tidak memahami kebaikan dan keburukan, tidak akan bisa memahami Aamir Jinni."
"Maksudmu?"
"Sebenarnya aku menyembunyikan banyak hal darimu, tapi untuk hal ini ... aku malu mengatakannya," ucap sang jin yang tampak malu-malu. Wajah jelmaan manusianya memerah seperti udang rebus.
"Oh ... begitu ya, jadi selama ini ...."decak Rama.
Rama menoleh ke sembarang arah sambil melipat kedua tangannya di dada, tak lama ia memusatkan retinanya kepada arloji yang melingkari pergelangan tangannya.
"Baiklah, jika kau memang tidak ingin mengatakannya, pengacara ini harus pergi. Banyak pekerjaan yang menanti, acara gladi akan berantakan tanpa aku, dan aku tidak mungkin membiarkan gus Syauqi turun tangan," cicit Rama dengan raut wajah ditekuk.
"Pengacara?"
"Pengangguran banyak acara, hahaha." Gurau Rama dengan tawa yang berirama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Asmara di Dinding Asrama
Fanfiction~Prolog~ {{Aku adalah Aku}} Mikaila Asmarani Azzahra, nama indah pemberian orang tuanya itu memiliki kepribadian yang berbeda dari teman-temannya dan lingkungan yang mayoritas penduduknya ekstrovert. Introvert girl, julukan yang tepat buat karakter...
