Assalamu'alaikum
Happy reading dears
♡♡♡
***
Malam puncak dan acara inti haflah akhirussanah yaitu prosesi wisuda santriawan dan santriawati tingkat ulya akan berlangsung beberapa saat lagi, tepatnya pada pukul 23.30 tengah malam ini. Acara yang digelar sejak ba'da isya akhirnya akan sampai pada puncaknya. Setelah acara selingan santri terakhir yaitu seni musik hadroh, pemandu acara mulai menyampaikan kalimat penutupnya dan mempersilahkan moderator acara inti sekaligus pamit undur diri.
"Aku merasa gugup," lirih Salsa dengan ranum yang gemetaran.
"Kau juga? padahal kita hanya memenuhi panggilan dan mengambil map dan kalung itu," remeh Tantri usai mendengar keluhan yang sama dari temannya yang lain.
"Ente mengejekku?"
"Semua orang mengalaminya, mengapa ente terkejut, Tri?" sela Misthi yang membela Salsa.
"Tidak, hanya berasumsi saja. Dan, untuk orang-orang yang pernah beranggotakan OSIP seperti kalian seharusnya tidak mengalami hal seperti ini. Mereka sering naik panggung untuk berceramah dan tidak pernah kalah telak dalam berargumen."
"Aku tahu, tapi ini berbeda. Lihatlah di sudut sana, keluarga kita sedang membanjiri tempat ini dengan air mata kebahagiaan, penantian dan kerinduan akan moment ini akhirnya terbayar tuntas. Hanya saja, pundakku merasa berat sebelah."
Gelak tawa terdengar nyaring di deretan para calon wisudawati dengan pakaian yang senada itu. Mereka duduk manis dan ditempatkan di barisan special. Seperti Misthi dan temannya, seluruh santri yang akan dimutakhorijkan saling mengungkapkan berbagai cita rasa yang dibumbui kenangan manis akan hal yang telah mereka lalui.
"Ah ... sial!" kesal Sheema dari tempat lain, tepatnya bersama para santri yang mengenakan kostum beragam.
"Ada apa?" sahut Mikaila.
"Ana kira langsung ke inti acara, eh malah selingan lagi," rutuk Sheema.
"Sabar. Eh, tapi ... apa ada sesuatu yang masuk ke matamu?" Mikaila menatap Sheema dengan raut serius.
Sheema mengucek matanya, "ahh ... tidak. Limadza?" Gadis itu mengubah posisi duduknya dan kembali menatap lekat bola mata Mikaila.
"Matamu memerah, biar ana tiup," gadis itu mendekatkan wajahnya dan fokus pada kedua mata Sheema.
"Mikaila ...." lirih Sheema. Gadis itu sebenarnya menunjukkan raut wajah kantuknya. Namun, Mikaila fokus meniupi kedua mata merahnya.
"Sudah selesai, matamu akan kembali normal," final Mikaila dengan menarik ujung bibirnya.
Sheema tersenyum datar kemudian memalingkan wajahnya, "Teman macam apa yang tuhan kirimkan kepadaku?" umpat Sheema, Mikaila membungkam mulutnya menahan tawa.
"Anti berbicara sesuatu?"
"Gak, ana sudah melihat dengan normal. Hembusan angin yang menyejukkan mataku membuat para wasnan berhenti mengipasi kedua mataku," dengus Sheema.
Mikaila tidak sebodoh itu, ia peka akan banyak hal yang Sheema tunjukkan sejak tadi, hanya saja ia ingin mencoba meniru gelagat Sheema yang kadang-kadang iseng padanya, lebih tepatnya balas dendam.
Melihat raut melelahkan yang dipamerkan Sheema, Mikaila mengakhiri dramanya. Ia mengajak Sheema ke asrama dengan dalih mengganti pakaian mereka karena setengah jam yang lalu keduanya turut berpartisipasi menampilkan seni peran. Peran Iblis yang Sheema lakoni membuat kostumnya memberatkan kepala, tubuh dan wajahnya. Mikaila merasa enteng karena peran yang ia lakoni adalah iqlima.
KAMU SEDANG MEMBACA
Asmara di Dinding Asrama
Fiksi Penggemar~Prolog~ {{Aku adalah Aku}} Mikaila Asmarani Azzahra, nama indah pemberian orang tuanya itu memiliki kepribadian yang berbeda dari teman-temannya dan lingkungan yang mayoritas penduduknya ekstrovert. Introvert girl, julukan yang tepat buat karakter...
