"Papap kalo sibuk terus begini, kita kapan bisa quality time nya? keburu Lova masuk sekolah!"
Joshua hanya bisa terdiam sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Memang benar adanya jika manusia hanya bisa berencana dan tuhan yang menentukan.
Harusnya besok bisa jadi hari liburnya, dimana giliran Lova menghabiskan waktu dengannya. Namun baik Lova dan Joshua, keduanya harus menelan kenyataan pahit. Joshua tak jadi libur yang menjadikannya tengah disidang oleh Lova sekarang.
"Sayang maaf ya, projectnya juga dadakan banget. Gimana kalo sekalian nanti akhir pekan aja?" ucap Joshua kembali merayu.
"Alah pasti itu cuma janji manis doang. Lama-lama, Lova mau ganti om Dika aja yang jadi Bapak aku gantiin Papap!"
Joshua syok bukan main. Segitunya?
Lelaki itu segera memeluk anak gadisnya dan kembali mengucapkan kata 'maaf' untuk kesekian kalinya. "Kamu boleh marah sama Papap, tapi plis jangan minta Dika buat ganti jadi bapak kamu."
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Lova sewot.
"Kamu gak pantes jadi anak Dika, gak mirip. Kamu kan miripnya cuma sama Papap," ujar Joshua beralasan.
"Tapi seenggaknya om Dika selalu ada buat Lova!"
"Dika selalu ada juga itu karena tugas dari Papap, jadi secara gak langsung ya tetep Papap yang selalu ada buat Lova."
Gadis itu jadi terdiam, tak tau harus berargumen apa lagi. Yang barusan dikatakan Joshua ada benarnya. Tapi serius, kali ini Lova hanya mengiginkan waktu bersama Joshua. Namun kenapa hal itu seperti cukup sulit untuk tercapai.
"Ya terus jadinya gimana, Pap?"
"Seperti yang tadi Papap bilang, Sayang."
Lova mencoba berdamai dengan mengangguki tawaran tersebut. "Oke, tapi Moma ikut ya."
Joshua mengernyit. "Kamu bilang ini quality time. Berarti antara kamu sama Papap kan?"
"Tapi, Pap. Aku juga kangen sama Moma."
Beban pikirnya jadi menambah, Joshua tak bisa melakukan itu. Apalagi teringat dengan Jelena yang memiliki maksud tertentu. Joshua tak ingin jika nantinya Jelena malah memanfaatkan keadaan.
"Kamu bisa pergi sama Moma besok, sorry i can't come with you. I will call yor moma to talk about this."
Lova pikir, dirinya sudah terlalu banyak menuntut. Raut wajah Joshua sudah tak secerah tadi. Lelaki itu langsung meninggalkannya dengan ponsel yang menempel di telinga. Permintaannya terdengar sederhana, tapi Joshua cukup dibuat menguras hati untuk mengabulkannya.
°°°
Lova kembali ke kamarnya. Gadis itu jadi termenung karena Joshua. Sekitar lima belas menit ia menunggu, Joshua kembali dengan membawa kabar jika besok Jelena akan datang dan menemaninya menghabiskan waktu. Setelahnya Joshua kembali meminta maaf, kemudian berpamitan pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Sebenarnya jika bisa, Lova sangat ingin pergi bertiga bisa terwujud kembali. Bukan hanya sebatas celetukan belaka. Namun akhir-akhir ini, seolah selalu ada saja alasannya untuk Joshua menghindar.
Papap, udah punya pacar kah?
Pikiran itu terlintas begitu saja dan segera dibuyarkan dengan ponselnya yang berdering.
"Moma?" sapanya begitu menjawab panggilan tersebut.
"Jadi pergi kemana besok?" tanya Jelena di seberang.
"Eum.. jujur, aku belum punya tempat tujuan."
"Oh, belom ada. Why?"
"Mom, memangnya besok moma bener-bener free?"
Jelena tak langsung menjawab, wanita itu diam tersentak. Joshua memberi tahunya mendadak, hingga ia terpaksa harus membatalkan acara yang sudah direncanakan karena tak tega mendengar Joshua yang memohon dan mengatasnamakan Lova. Selama ini Jelena sudah cukup egois, sekarang sudah waktunya bagi dirinya untuk memperbaiki diri. Lagipula ini juga demi tujuannya agar segera tercapai.
"Moma bisa kapan aja nemenin Lova," ucapnya meyakinkan. "Gimana kalo besok kita shopping, nonton, terus makan?" lanjutnya menyarankan.
"Boleh aja mom, udah lama juga aku gak shopping sama moma. Akhir-akhir ini, Lova seringnya belanja online," balas gadis itu diselingi dengan curhat.
Jelena jadi terkekeh. "Oke, pokoknya besok kita bakal have fun seharian."
"Oke mom, thanks ya udah mau luangin waktu buat Lova."
"My pleasure, Darling."
Telepon tersebut masih tersambung, tapi keduanya kompak terdiam. Sebenarnya Jelena sedang menunggu karena merasa Lova masih belum selesai pada pembicaraannya.
Sedangkan Lova sendiri sedang termenung merasa ragu. Gadis itu menggigit bibirnya, tak yakin jika bertanya akan mendapatkan jawabannya.
Namun Lova terus dihantui rasa penasaran. Ia meyakinkan diri untuk tak sungkan menanyakan hal tersebut, lagipula mereka berdua itu orang tuanya. Tak perlu ada yang di sembunyikan bukan?
"Eumm.. mom?" gadis itu kembali bersuara dengan perlahan.
"Ya, sayang. Kenapa?" sahut Jelena.
"Mom, tolong jawab jujur. Tadi papap ada bilang apa ya waktu minta moma buat nemenin aku besok?" tanya Lova pada akhirnya.
"Cuma hal biasa kok, kenapa?"
"Yakin?"
"Ya!"
Jawaban singkat itu lantas membuat Lova pesimis tak ingin melanjutkan, segera ia usir rasa penasaran itu.
"Lova, ada yang mau ditanyain lagi? sudah malam sebaiknya kamu cepet tidur."
"Iya mom, kalo gitu sampai ketemu besok ya. Good night."
"Good night my lovely."
Sebelum gadis itu bersiap untuk terlelap, Lova menyatukan kedua tangannya. Perlahan ia mengucapkan sebuah doa dalam hati.
"Semoga semua orang-orang terdekat Lova selalu dalam lindungan tuhan, terutama Papap. Semoga Papap sehat dan bahagia selalu."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Gift
FanfictionCinta merupakan hadiah pemberian dari tuhan. Rasa yang ada di dalamnya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan. Kita tidak pernah tau, bahkan rasanya seperti tidak bisa memilih kepada siapa esok kita akan menjatuhkan rasa. Semuanya sudah diat...
