Suasana pagi hari yang sepi di tambah dinginnya angin yang berhembus memasuki ruang kelas. Di luar sana tengah hujan deras, karena itu hanya ada beberapa murid yang sudah duduk manis di tempatnya padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Lova berangkat cukup pagi karena hari ini memiliki jadwal piket, sedangkan di bangkunya sana ada Dante yang sedang menyalin tugas yang hari ini dikumpulkan.
Gadis itu mendengkus jadi tak semangat. Tak kunjung selesai menyapu deretan bangku yang menjadi bagiannya. Lova malah teralihkan pada hujan, hingga berkali-kali mengintip pada jendela hanya untuk melihat tetesan air itu jatuh ke tanah.
"Ya elah Dan, rajin bener lo nyalin PR di kelas. Nyontek gue."
Suara Justin membuatnya mengalihkan pandangan sejenak. Kemudian jadi tertarik menghampiri kedua cowok yang kini tengah berbagi jawaban.
"Tumben Just, udah dateng jam segini," kata Lova menyapa. "Kyla sama Eve mana?"
Justin menatap Lova dengan mata memberat. Tanda jika cowok itu sebenarnya masih belum siap bangun dari tidurnya untuk memulai hari. "Kalo gak inget tugas guru killer belum gue kerjain, mending gue puas-puasin tidur," sahut Justin kesal. Cowok itu lanjut menyangga kepala dengan tangan kirinya. "Si Kyla ama Eve gue tebak bakal telat sih kalo ujan begini. Bapaknya kan pada rempong."
Dante dan Lova kompak tertawa. Sangat tau bagaimana kelakuan orang tua kedua sahabatnya itu. Kalau Kyla, pasti pantang berangkat sebelum hujan reda. Padahal mereka punya mobil. Kalo Evelyn, terlalu banyak kemungkinan. Udaranya sedang dingin, mungkin cewek itu tengah dipaksa untuk pergi ke sekolah mengenakan jaket pilihan Hosea. Motif macan yang selalu jadi andalan, sebuah rancangan designer terkenal dari benua Eropa yang menjadi kebanggaannya.
"Guys, kalo gue minta tolong kira-kira bakal kalian tolongin gak?" Justin merubah posisinya, menangkup pipi dengan kedua tangannya. Menatap dua lawan bicaranya dengan serius.
"Sorry Just, gue sibuk," sahut Dante bercanda.
Namun Justin malah bawa perasaan, raut wajah cowok blesteran itu langsung mengkerut tak terima.
"Lo mau minta tolong apa emang?" ucap Lova yang menatap antusias.
"Tuh, emang Lova si bestie sesungguhnya." Justin kembali sumringah sambil merangkul Lova bahagia. "Kalo lo, terserah deh sana. Mau mangkal sendirian di lampu merah juga gue bodoamat," hardiknya pada Dante.
"Gue bercanda, udahan lo rangkul-rangkulannya!" Dante segera ambil tindakan, menggeplak tangan Justin agar terlepas dari bahu Lova.
Lova termundur, sekarang malah melihat kedua cowok yang siap baku hantam. "Gak usah berantem!" lerainya. "Justin, buruan jelasin mau lo."
Justin menyempatkan diri memeletkan lidah untuk meledek Dante. Cowok itu berdehem sebelum membicarakan hal serius.
"Gini guys, gue butuh kalian buat jadi kelompok gue di event amal nanti. Mau gak?"
"Oke, gue bakal bantu." Lova segera menyela dan menyetujui pembahasan yang bahkan belum sampai setengahnya.
"Eh, jangan main setuju-setuju aja. Kan masih belom jelas," kata Dante langsung memprotes keputusan gadis itu.
"Bukannya udah jelas, niat baik harus kita tolong lah," kata Lova jadi sewot.
Justin jadi garuk kepala melihat perdebatan yang ia timbulkan. "Guys, biarin gue lanjut ngomong lagi ya. Oke, calmdown," ujarnya segera mengambil alih perhatiannya. Setelah suasana kembali kondusif, ia kembali bersiap melanjutkan pembahasan. "Jadi, gue baru aja join street dance. Dan kebetulan tiga hari lagi kita bakalan adain acara amal dengan tampil di jalan. Gue butuh kalian karena gue kekurangan anggota."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Gift
Fiksi PenggemarCinta merupakan hadiah pemberian dari tuhan. Rasa yang ada di dalamnya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan. Kita tidak pernah tau, bahkan rasanya seperti tidak bisa memilih kepada siapa esok kita akan menjatuhkan rasa. Semuanya sudah diat...
