Cuaca panas di hari senin menemani sibuknya pekerjaan yang terasa tak ada hentinya itu. Sepuluh menit yang lalu baru saja terlaksana sebuah meeting. Sebagai seorang sekretaris, Giri tinggal lebih lama di ruangan tersebut demi memastikan catatan hasil rapatnya sudah sempurna.
Di ruangan yang cukup luas itu hanya tinggal ia seorang diri, mungkin karena ia sudah bukan anak baru lagi jadi Joshua sudah tak lagi menemaninya. Sang direktur utama itu bahkan langsung keluar ruangan terlebih dulu dengan terburu-buru. Entah apa yang sudah terjadi, Giri cukup simpan saja rasa keponya itu.
Bahunya mulai terasa pegal, sejenak Giri memeriksa catatan tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruangannya beristirahat sejenak. Namun baru saat ia menutup kembali ruang meeting, Giri dikejutkan dengan seorang laki-laki bersetelan jas rapi menghampiri.
"Sekretarisnya pak Joshua, kan? tolong disampaikan ya, saya buru-buru. Terima kasih."
Laki-laki itu tak memberi kesempatan untuk Giri membalasnya dan langsung pergi begitu saja. Giri hanya menghela napas sebelum akhirnya lanjut melangkah pada tujuannya.
Ternyata Joshua sudah ada di ruangannya, lelaki itu terlihat sedang melakukan panggilan tapi raut wajahnya terlihat sedikit kesal.
Giri tak langsung menghampiri, ia memilih untuk kembali ke mejanya terlebih dulu untuk menyimpan alat tulisnya. Dari kejauhan hanya mengamati Joshua sampai lelaki itu selesai. Tak tau apa yang jadi bahasan, tapi Joshua dibuat menghela napas berkali-kali tanda jika lelaki itu sedang meredam amarahnya. Kadang Giri sering kali dibuat bingung dengan karakter Joshua yang sulit di tebak. Lelaki itu hanya akan menjadi diri sendiri di depan orang yang benar-benar ia kenal, sementara untuk Giri sendiri, Joshua belum begitu membuka diri.
Giri tak pernah tau bagaimana lelaki itu benar-benar marah jika tidak dihadapkan dengan Dika yang hanya mampu memancing emosinya. Giri tak pernah tau apa yang benar-benar Joshua suka dan apa yang benar-benar Joshua hindari saat memesan menu makanan, karena lelaki itu yang selalu bilang menyukai semua. Baru benar-benar tau soal sedihnya, dan betapa bingungnya Joshua ketika sudah di hadapkan dengan permasalahan yang ada sangkut pautnya dengan Lova. Selama bekerja, Joshua terkesan monoton dengan senyum yang selalu terukir sebagai daya tariknya.
Giri langsung bersiap begitu melihat Joshua menjauhkan ponsel dari telinganya. Segera wanita itu menghampiri atasannya untuk menyampaikan apa yang sudah diamanahkan.
Joshua hanya mengangkat kedua alis begitu melihat ada kertas terulur di hadapannya.
"Surat panggilan RUPS dari PT. Lintang," jelas Giri.
Joshua mengangguk, lalu beralih ke tempat duduknya karena merasa lelah. "Kapan? dimana?"
Giri kembali melihat surat tersebut untuk memastikan. "Minggu depan, lokasinya di gedung utama."
Jarinya mengetuk meja berirama, sedangkan kepalanya tengah sibuk mengingat. "Minggu depan.. Gedung utama...," gumam Joshua jadi manggut-manggut. "Berarti minggu depan kamu ikut saya keluar kota."
"Luar kota— kemana Pak?" tanya Giri memastikan.
Joshua mendongakkan kepala untuk melihat Giri dengan raut wajah penuh tanyanya. "Puncak, kamu urus dan siapin semuanya buat minggu depan."
Meskipun tujuannya tetap bekerja, tapi mata Giri langsung berbinar begitu mendengar nama itu. "Baik, Pak. Segera saya laksanakan," ucapnya begitu semangat. Niat hati ingin berbalik badan dan kembali ke tempatnya dengan aman. Namun yang ada wanita itu harus tertimpa musibah, kakinya terbentur meja hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Kamu gak apa-apa?"
Musibah tak selamanya memberi kesakitan. Apakagi Joshua yang kini menahan lengannya ditambah tatapan khawatir, bisa disebut dengan berkah dari sebuah musibah?
Jantung Giri langsung berhenti berdetak, ia hanya bisa menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Lain kali hati-hati." Suara lembutnya kembali menyapa yang mampu menenangkan hati.
"What are you doing Josh?"
Suara yang tiba-tiba datang itu membuat Giri sadar sepenuhnya. Karena bersamaan dengan kedatangan pemilik suara itu, tubuh Giri terasa terlempar karena Joshua yang mendorongnya meski pelan.
"She's my new secretary. Apa yang kamu lakuin disini?" ucap Joshua yang juga terkejut dengan kedatangan Jelena tiba-tiba, padahal saat di telepon tadi wanita itu bilang jika ia masih di kantor temannya.
"Tolong tinggalkan kami berdua, ada hal penting yang harus kami bicarakan," ujar Jelena ketus dengan pandangan kurang ramah yang di layangkan ke Giri.
Menurut untuk meninggalkan ruangan, hanya itulah yang bisa Giri lakukan meski hatinya mendadak dongkol melihat wanita yang terlihat cukup angkuh di pertemuan pertama mereka.
°°°
Suara yang cukup berbeda dengan gadis lain juga binar mata yang berhasil tertangkap sebelum akhirnya ia hilang kesadaran, semua mulai jelas di ingatan Baron. Ia sudah berhasil menemukan gadis itu yang ternyata selama ini tak begitu jauh dari jangkauannya.
"Gue gak nyangka kalo ternyata cewek itu Lova," ucap Wandra sambil memegang dagu sok serius.
"Di tambah dengan ibunya yang kebetulan juga bernama Jelena Caroline, lo langsung yakin kalo dia Angel lo?" sahut Ferdian menatap Baron dengan kening yang berkerut. "Yang namanya Jelena kan banyak, Bro!"
Baron diam, seperti biasa di jam istirahat begini memilih duduk di taman sambil tertidur dengan menengadahkan kepala. Biasanya ia selalu sendiri dengan keadaan sunyi, tapi tumben saja ketiga orang lain malah mengikutinya.
"Coba lo tanya ke Lova, dia inget gak sama lo. Orang yang pernah dia tolong," celetuk Dheril memberi saran.
"Persetan dia inget atau gak sama gue. Sesuai info yang gue dapet dari om Willy juga sekilas ingatan gue tentang cewek itu." Baron menghela napas, kemudian jadi menegakkan tubuh memandang teman-temannya serius. "Itu bener dia. Gak masalah dia gak ingat gue. Karena yang lebih penting, gue gak boleh lupa atas kebaikannya. Gue mau bales budi."
"Baron my best boy!" kata Wandra jadi terharu. Bahkan Dheril dan Ferdian yang ikut tersentuh langsung menepuk-nepuk bahu Baron merasa bangga.
"Apasih anjir, alay!" geram Baron karena lama-kelamaan dirasa bahunya bisa rontok karena ketiga cowok itu menepuknya dengan tenaga dalam. "Kalian harus bantu gue buat awasin dia."
Dheril reflek memundurkan diri merasa tak setuju. "Kok jadi kita?"
"Oh, jadi gamau?" ujar Baron langsung memasang wajah yang minta dikasihani sambil menunjuk ke tangan kiri yang masih digendong itu sebagai senjata utama. "Bantuin temen yang lagi susah tuh nambah pahala katanya."
"Gue gak terlalu maruk ama pahala Ron. Soalnya gue sering buat dosa bahkan tanpa sadar," curhat Ferdian. "Tapi gue bakal lakuin apapun demi nunjukin loyalitas gue sebagai temen," ucapnya sungguh-sungguh.
Baron geleng kepala tak percaya. Hatinya cukup tersentuh atas kata-kata yang terdengar agak puitis itu. "Ferdian my Bro!" Kemudian Baron langsung mengajak tos Ferdian yang nampak sumringah.
"Terus abis itu kita bakal ngapain aja?" tanya Wandra memastikan.
Baron memiringkan kepala sedikit untuk melihat ke bangku sebelah yang jaraknya tak begitu jauh darinya. "Awasin aja, tapi jangan terlalu keliatan. Kalo ada yang aneh baru deh bertindak. Inget buat bertindak atas komando dari gue aja, jangan lupa ngasih info kalo lagi gak sengaja ketemu dia."
"Anjir, lo jadiin gue agen Jogja?" seru Dheril tak terima.
"Agen Jogja apaan dah, Ril?" sahut Ferdian tak paham.
"Jogja... Jodoh orang gue yang jaga," jelas Dheril dengan dramatis.
"Sialan!" umpat Wandra seketika. "Jodoh juga belum tentu buat lo Ron! ngapa jadi kita yang repot?" protesnya.
Baron hanya terkekeh saja, lagi pula mau gimana lagi? ia bingung mau balas budi apa yang kiranya impas. Baron ingin dekat dengan gadis itu tapi tak mau buru-buru agar tak dicap orang aneh atau semacamnya. Serius, bahkan sudah janji juga ke tuhan kalau niatnya kali ini baik hanya ingin balas budi.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Gift
Fiksi PenggemarCinta merupakan hadiah pemberian dari tuhan. Rasa yang ada di dalamnya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan. Kita tidak pernah tau, bahkan rasanya seperti tidak bisa memilih kepada siapa esok kita akan menjatuhkan rasa. Semuanya sudah diat...
