14.

67 5 1
                                        

Jari lentik yang kini sibuk mengotak-atik sebuah kamera yang menjadi fokusnya, dengan bibir yang tanpa sadar sudah mengerucut ditambah tatapan setengah frustasi. Lova kembali mengarahkan kamera ke arah lapangan. Ada beberapa murid yang kini tengah bermain basket sebagai objek utamanya. Mendapat sebuah tugas dari eksul fotografi membuatnya memilih untuk pergi ke lapangan karena menurutnya akan banyak objek yang bisa ditemukan.

Namun sepertinya Lova salah sasaran, teknik timing yang belum sepenuhnya ia kuasai itu membuatnya tak cukup puas dengan beberapa hasil yang sudah di dapatkan.

"Gimana Va, udah dapet best fotonya?"

Lova terlonjak begitu mendengar suara dari belakangnya. Gadis itu sontak membalikkan tubuh untuk melihat cowok yang kini mengerutkan kening ke arahnya.

Lova menghembuskan napas pendek. Kemudian menyodorkan kamera DSLR ke arah Ayden yang menyambutnya. "Stress banget pengen keluar dari zona nyaman tapi belum se-jago itu," gerutu Lova.

Ayden jadi tertawa pelan. Melihat beberapa potret yang telah Lova ambil. Usahanya perlu diapresiasi meski masih harus belajar lebih giat lagi. Sebagai senior di ekskul fotografi, Ayden bertugas untuk memberi bimbingan kepada para Juniornya untuk tugas mendatang dengan tema 'kegiatan sekolah'.

"Pindah tempat aja yuk," ujar Ayden masih dengan kameranya.

"Yah, kenapa? disini kan lagi keren-kerennya," tolak Lova menunjuk ke arah murid yang masih bermain basket sebagai objek kebanggaannya.

Ayden hanya menatap malas gadis di hadapannya ini. Udah pendek hobinya ngeyel. "Lo belum jago. Ayo ikut gue kalo masih mau dapet nilai bagus.

Lova kalah telak, kemudian hanya membuntuti Ayden yang berjalan mendahuluinya dengan tenang.

Tibalah mereka di depan ruang perpustakaan. Baik Ayden juga Lova masih terdiam di depan pintu ruangan tersebut, bedanya Ayden sibuk kembali mengotak-atik kamera sedangkan Lova hanya diam sambil berpikir mungkinkah ruangan itu yang akan menjadi tempat tujuannya.

"Kameranya udah gue setting lagi, sekarang lo cari objeknya di dalem," kata Ayden mengintruksi sambil mengembalikan kamera ke tangan Lova. "Inget, buat se-natural mungkin."

Lova mengangguk saja meski tak habis pikir pada Ayden yang sudah memilihkan tempat, padahal di lapangan lebih menarik daripada perpustakaan.

Bersama dengan Ayden, Lova mulai memasuki ruangan yang selalu sunyi apalagi sekarang terlihat sepi. Hanya terlihat beberapa penjaga perpustakaan. Tak banyak murid yang melakukan aktivitas di ruangan ini hingga membuat Lova bingung dan reflek menoleh pada Ayden.

"Apanya yang mau di foto?" tanya Lova meminta pengarahan.

"Udah keliling dulu aja, ntar juga nemu," balas Ayden meyakinkan.

Perlahan Lova kembali menelusuri tiap rak tinggi berisi buku itu sambil mencari objek fotografinya. Hingga sampai di rak paling ujung, Lova reflek menghentikan langkah karena terkejut melihat keberadaan seseorang.

Namun ternyata orang itu lebih terkejut dengan kedatangan Lova yang tiba-tiba hingga membuatnya memundurkan lamgkah.

"Eh, Kak Wandra. Maaf ya ngagetin," ucap Lova dengan kikuk.

"Iya gapapa," balas Wandra tersenyum tipis. Kemudian cowok itu berbalik badan untuk kembali membaca buku di pojokan sambil berdiri.

Lova merutuki diri merasa malu. Ia langsung mempercepat langkah menuju Ayden yang tengah melihat buku tak jauh dari hadapannya.

"Kak Ayden!" ucapnya berbisik.

"Udah ketemu objeknya?"

Lova menggeleng putus asa dengan wajahnya yang sudah tak bersemangat. "Pindah tempat aja yuk, Kak!"

A GiftTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang