Bastian mendekat ke arah pintu, tetap saja ia tarik gagang pintu itu meski tau jika Baron benar-benar menguncinya. Bastian mendengkus keras, entah kenapa Baron bisa selicik itu.
Hanya Duma satu-satunya harapan untuk membantunya. Tapi tak tau lagi jika sang istri kali ini masih mau atau tidak berpihak padanya.
"Aku minta tolong banget, aku harus pergi karena ada kerjaan penting." Hanya dengan istrinya dan anaknya saja Bastian rela memohon seperti ini. Tapi dari seberang sana Duma tak kunjung memberikan jawaban.
"Bukannya kamu udah baca sendiri surat panggilan itu, aku harus pergi sekarang sayang. Aku bener-bener pergi buat kerja, tolong percaya sama aku." Bastian terus berusaha untuk merayu.
"Gimana aku harus percaya, sedangkan kamu sering banget ngecewain aku," lirih Duma.
Bastian tertohok, ia jadi makin kesal. Ia tak punya waktu lama lagi untuk merenungi segala kesalahan yang ia buat. Bahkan ia tak yakin seberapa banyak kepercayaan yang masih dimiliki Duma untuknya.
"Seenggaknya kamu udah tau sendiri tentang rapat itu, atau kalau perlu kamu telpon CEO Lintang buat pastiin." Bastian sudah frustasi. Lelaki itu mengacak rambutnya kasar dan pasrah saja. Apalagi telepon dimatikan secara sepihak oleh Duma begitu saja.
Sebagai salah satu pemegang saham, maka wajib bagi Bastian untuk menghadiri rapat tersebut. Rapatnya diadakan di kantor pusat dimana ia harus pergi keluar kota untuk menghadirinya.
Maka dari itu ia sudah was-was jika sampai pukul delapan nanti tak kunjung bisa keluar dari kamar ini.
Atau mungkin Bastian lompat saja dari lantai dua rumahnya?
Meski memiliki badan yang kekar, Bastian juga masih memiliki rasa takut. Nyawanya hanya satu, ia tak mau mati sia-sia apalagi hanya untuk menghadiri sebuah rapat.
Lelaki itu sudah terduduk di lantai, setelan kantor yang tadinya rapi itu sudah tak karuan. Ia terdiam, kini benar-benar merenung.
Tepatnya selama Duma sakit dan sekarang sedang dalam masa pemulihan, hidupnya benar-benar diatur oleh Baron. Pemuda itu benar-benar mengawasinya dan selalu mastikan kalau ia terus merawat Duma dengan baik. Sudah pasti tanpa diminta pun, Bastian sebagai seorang suami akan melakukan yang terbaik.
Namun tidak mudah bagi Bastian disaat melakukannya. Karena selama itu juga ia harus jeda menemui Theresa seperti biasa. Mereka hanya sekedar bertukar pesan untuk menanyakan kabar.
Rasanya sangat sulit menentukan siapa yang harus diprioritaskan karena keduanya sangat berarti di kehidupannya.
"Bas?"
Bastian mendongak, segera bangkit begitu mendengar suara Duma di luar. Ia reflek termundur saat mendengar suara kunci terputar.
Akhirnya pintu itu terbuka, menampakkan Duma yang kini menghampirinya.
"Sekuat apapun kamu berjanji dan beralasan, aku tau nantinya kamu pasti menyempatkan diri buat ketemu sama Theresa," tuduh Duma seketika.
"Aku janji, kali ini cuma mau pergi kerja. Aku bakal langsung pulang begitu semuanya selesai," kata Bastian sungguh-sungguh.
Duma menggigit bibirnya. Ia sangat tau bagaimana Bastian yang kini sedang bersungguh-sungguh meyakinkan. Duma selalu lemah akan lelaki itu, tak tega jika melihatnya sudah memohon dengan pasrah. Itulah masalahnya, hingga kadang tak sadar jika Bastian selalu mencari kesempatan atas rasa kasihannya.
"Kamu udah gak perlu bilang janji-janji lagi ke aku," ucap Duma yang kini menunduk menahan tangisnya. Ia meraih gagang pintu dan membukanya dengan lebar. "Kamu bisa pergi sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Gift
FanfictionCinta merupakan hadiah pemberian dari tuhan. Rasa yang ada di dalamnya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan. Kita tidak pernah tau, bahkan rasanya seperti tidak bisa memilih kepada siapa esok kita akan menjatuhkan rasa. Semuanya sudah diat...
