16.

57 4 0
                                        

Giri menengok ke kaca di belakangnya yang menampilkan suasana luar gedung di hari yang mulai menggelap. Wanita itu tersadar, melirik sekilas ke arah jam dinding. Mejanya sudah rapi, tinggal menyampirkan tas hitam ke bahu untuk selanjutnya pergi meninggalkan ruangan.

Namun rencananya itu urung begitu matanya tak sengaja melihat pojok ruangan. Di atas sofa itu, sudah sejak siang tadi Joshua merebahkan diri disana dengan lengan kiri yang menutupi wajah. Entah apa yang sudah terjadi. Terakhir kali Giri lihat Joshua yang memeluk seorang Wanita, setelah itu Joshua jadi murung dan memilih merebahkan diri. Giri tak ingin kepo dan mengganggunya. Tapi rasanya sangat tidak sopan jika pulang tanpa berpamitan pada Joshua.

Meski ragu, wanita itu sudah bertekad dan mendekat. Sudah siap jika nanti mendapatkan amukan dari Joshua, Giri hanya cukup mengucapkan minta maaf setelahnya.

"Pak, Josh! udah sore. Bapak gak pulang?" seru Giri sedikit meninggikan suaranya.

Namun tak ada tanda-tanda dari Joshua yang mendengarnya. Pria itu masih pada posisinya. Hal itu malah makin membuat gigih untuk berusaha membangunkannya.

"Pak Josh!"

"Pak Josh bangun! udah malem." Hingga di sisa-sisa kesabarannya, akhirnya Giri tak tahan untuk tak mengguncang tubuh pria itu agar terbangun.

Joshua bergerak, perlahan menurunkan tangan dari wajahnya. Matanya belum sepenuhnya terbuka karena masih membiasakan dengan cahaya.

"Kenapa kamu masih disini? udah malem," ucap Joshua setelah sadar sepenuhnya.

"Pak Josh sendiri gak pulang?" tanya Giri. Entah kenapa perasaannya jadi khawatir begitu melihat Joshua yang baru bangun dari tidurnya. Matanya sembab, mungkin hanya prediksi Giri saja yang menduga kalau sebelumnya pria itu telah menangis?

Joshua memejamkan mata sejenak, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. "Saya mau lembur," lirihnya.

Giri menautkan alis. "Bapak serius? tapi keliatannya pak Josh capek banget."

Tak hanya terlihat lelah, bahkan pria itu teihat sangat tidak baik-baik saja.

"Saya gak bisa pulang ke rumah sekarang, mau lembur aja," jelas Joshua.

Nada bicaranya terdengar dingin seolah tak ingin diajak bicara lagi. Giri diam tak mau terlalu ingin tau banyak. Wanita itu hanya mengangguk. Haruskah ia tetap pulang ke rumah atau ikut lembur menemani Joshua? siapa tau saja nanti Joshua membutuhkan bantuannya agar lebih cepat menyelesaikan pekerjaan.

"Kalo gitu saya amblilin minum dulu ya, Pak," tawar Giri meskipun tak mendapat respon Joshua. Wanita itu berdiri untuk melangkah menuju dispenser mengambil segelas air putih untuk Joshua.

Begitu gelas terisi penuh, Giri yang hendak berbalik badan dikejutkan dengan pintu ruangan yang terbuka. Begitu melihat sekilas siapa yang datang, Giri langsung menghampiri Dika dan menahannya di ambang pintu.

"Kok lo belom pulang?" tanya Dika yang heran karena melihat Giri yang biasanya pulang tepat waktu.

"Sstt! ngomongnya pelan-pelan!" sentak Giri sambil menaruh telunjuk di depan bibirnya. "Gue rasa.. Gue gak bisa pulang gitu aja waktu pak Josh bilang mau lembur. Apalagi kondisinya bikin khawatir," terangnya.

Dika langsung menarik senyum miringnya. Menatap Giri penuh selidik. "Jadi lo udah mulai naksir Joshua ya?" tuduhnya.

Giri melotot, tangan kirinya yang sedang menganggur langsung diangkat untuk melayangkan sebuah tamparan di pipi Dika. "Lo tuh emang jago banget ya kalo bikin fitnah!" pekiknya tak terima.

"Emang anying lo ye, gak ada sopan-sopannya ama atasan. Masih untung kita ada ikatan keluarga," kesal Dika yang merasakan panas di pipinya. Gak seberapa sih, cuma Giri tuh udah terlalu sering nampar dia seenak jidat. Sepertinya wanita ini butuh lebih banyak diberitahu soal pentingnya sopan santun terhadap yang lebih tua. "Udah ah minggir, gue mau liat kondisi bestie gue dulu."

A GiftTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang