Lova menyibak gorden jendela kamarnya, menatap keadaan luar dengan agak bosan. Gadis itu mendengkus, lalu menolehkan kepala ke belakang dimana ada Dante yang tengah duduk di meja belajarnya.
"Dan, jalan-jalan yuk!" seru gadis itu mengajak.
Dante yang sedang menulis pun jadi mendongakkan kepala, menatap ke arah gadis itu heran. "Kan lagi sakit, gimana sih. Istirahat aja sana, besok kan sekolah."
Lova mendecak, jadi menghentakkan kaki berjalan mendekati Dante. "Ayolah, gue udah baikan kok. Bosen tau tiduran mulu."
Dante menghela napas. Tak kuasa untuk menahan diri tak menuruti. Tapi ia sendiri sudah berjanji pada Jelena yang menitipkan Lova padanya.
"Nanti kalo dicariin moma lo gimana?" tanya Dante mempertimbangkan.
Gadis itu kini jadi cemberut. Memutar otak dan terus memikirkan cara untuk bisa keluar rumah dan mendapatkan izin dengan mudah.
"Gimana kalo kita pergi ke rumah lo aja," ujar Lova memberi ide.
Dante mengerutkan kening langsung menyela, "ngapain? udah disini aja!"
"Ya ngapain kek, sekalian jalan-jalan. Lagian juga gue belum pernah tuh diajak ke rumah lo. Gantian lah," kata Lova jadi agak memaksa. Gadis itu sudah keburu dilanda rasa bosan yang membuatnya sudah tak tahan lagi jika dibiarkan terus-menerus terkurung di dalam kamar. Biasanya minggu begini orang-orang harusnya libur kerja, tapi kedua orang tuanya malah kompak sibuk dan tak ada yang bisa meluangkan waktu seperti biasa.
Dan kini harapan Lova hanyalah Dante.
Cowok itu diam berpikir untuk mengambil keputusan. Ia merogoh ponsel dan mengetikkan sebuah pesan yang meminta izin pada Jelena untuk mengajak Lova pergi ke rumahnya. Juga setelah memberitahu lebih detail soal kondisi Lova sekarang, akhirnya Jelena memberi izin dan mempercayakan segalanya pada Dante.
"Ya udah kalo gitu lo siap-siap deh, gue tunggu di luar," pungkas Dante lalu keluar dari kamar Lova. Ia turun kebawah, menunggu Lova sambil duduk di sofa.
Dante tak pikir panjang soal mengajak Lova pergi ke rumahnya, karena pasti Theresa akan menyambutnya dengan senang hati. Wanita itu pasti akan senang jika mendapat teman baru karena sering kali Dante tinggal.
Tapi... karena sudah cukup lama sampai Dante lupa jika ada sosok Bastian yang sering kali suka tiba-tiba berkunjung ke rumahnya. Memang sih, sudah hampir sebulan ini Bastian tak pernah datang lagi dan Dante sangat bersyukur akan hal itu.
Namun, bagaimana jika nantinya lelaki itu tiba-tiba datang lagi saat Lova juga sedang ada disana. Apa yang harus Dante katakan pada Lova. Apa mungkin saja Lova sudah mengetahui sedikit tentang Baron yang akhir-akhir ini sering menampakkan diri di depan gadis itu?
Dante belum siap untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan tak pernah jelas ia ketahui kebenarannya. Tentang hubungan keluarga yang membingungkan. Bagaimana jika nanti Lova tiba-tiba menanyakan keberadaan papanya yang tak kunjung mau pulang ke rumah. Dante tau pasti jika hal itu bisa saja tak luput keluar dari mulut Lova.
Selama ini Dante cukup tertutup akan keluarganya. Ia perlu waktu untuk menyusun sebuah skenario agar tak terlalu gamblang menjelaskan tentang seperti apa keluarga yang ia miliki.
"Lova, pergi ke rumah gue kapan-kapan aja ya. Gimana kalo kita pergi ke gelato aja?" usul Dante segera. Ia berharap jika kali ini bisa memalingkan keinginan gadis itu.
"Gak mau ah, gue mau liat ikan di rumah lo yang lo bilang harganya nyampe milyaran itu," kata Lova tetap pada pendiriannya.
Dante mendengkus pasrah. Untuk kali ini ia sangat menyesal karena pernah menyombongkan peliharaan milik papanya yang bernilai fantasti itu pada Lova.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Gift
أدب الهواةCinta merupakan hadiah pemberian dari tuhan. Rasa yang ada di dalamnya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan. Kita tidak pernah tau, bahkan rasanya seperti tidak bisa memilih kepada siapa esok kita akan menjatuhkan rasa. Semuanya sudah diat...
