30.

120 7 2
                                        

Joshua menunduk, sengaja menghindar untuk tak menatap Jelena yang kini tengah memakaikannya dasi. Meski sudah ditolak berkali-kali, tetap saja ujung-ujungnya Joshua yang mengalah dari wanita itu.

Bahkan saat matahari belum bersinar cerah, Jelena sudah datang ke rumah dan sibuk menyiapkan semuanya. Wanita itu selalu melakukan yang terbaik, tapi tak ada yang bisa Joshua lakukan selain menghargai segala usahanya.

Joshua tau, meski terlihat tulus, wanita itu sebenarnya ingin mendapatkan sesuatu.

Hatinya!

Yang sudah jelas Joshua kubur dalam-dalam. Bahkan jika itu tumbuh kembali, Joshua tak akan pernah membiarkannya memenuhi ruang hatinya yang sudah lama kosong.

"Kamu perginya sama siapa?" Tangan Jelena kini terulur untuk merapikan kerah kemeja.

"Udah pasti sama sekretaris aku lah," jawab Joshua. Ia berbalik badan untuk menuju ke cermin dan memperhatikan penampilannya.

"Hanya berdua?" sewot Jelena. Ia segera menghampiri Joshua sedikit tak terima. "Kenapa gak sama Dika aja sih, kenapa harus sama dia?"

Joshua mengerutkan kening. Ia ambil arloji hitam yang terletak di atas nakas, tanpa menoleh ia lanjut menjawab, "karena sekretaris aku itu Giri bukan Dika. Jadi aku perginya sama dia," terangnya. "What's wrong with you?"

"Josh, jujur sama aku!" Jelena maju sambil mencengkram kuat lelaki itu. "Do you like her?" tanyanya serius.

Joshua melongo tak menyangka. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan. "Ngawur!"

"Lebih tepatnya, dia yang suka kamu?" Jelena masih saja menuduh. Seolah merasa tak puas karena tak berhasil memancing Joshua untuk menjelaskan.

"Gak ada yang lebih dari hubungan kerja," terang Joshua.

Jelena segera mengangguk. Merasa jika tak ada untungnya jika terus memaksakan di keadaan yang kurang tepat. "Semoga selalu seperti itu. Karena aku masih mengharapkan kita."

Karena sudah muak dengan pembicaraan yang pasti berujung di titik yang sama, akhirnya Joshua memilih untuk keluar kamar lebih dulu sambil menggeret kopernya.

"Sayang, sudah belum? Papap mau berangkat nih?" teriak Joshua begitu akan menuruni tangga dan melihat pintu kamar Lova yang masih tertutup.

Pintu segera terbuka menampilkan sang penghuni kamar yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. "Pap, Lova gak jadi bareng ya. Nanti Dante yang jemput."

Joshua jadi mendengkus sebal. "Dante terus!" gerutunya.

Lova hanya memajukan bibir bawah meledeknya. Sekarang jadi punya hiburan baru karena Joshua gampang sensi sekali dengar nama Dante yang dengan semangat ia ucapkan.

Sampai di depan rumah, mereka di sambut oleh Dika dan Giri yang baru sampai.

Joshua balik badan hanya untuk melihat Jelena yang tengah berjalan menghampirinya dengan santai. "Titip Lova ya. Nanti kalo ada apa-apa kamu bisa bilang ke Dika," ujarnya berpesan.

"Hm, don't worry," jawab Jelena singkat. Seketika terasa perubahan sikap pada wanita itu yang kini terkesan dingin.

"Sayang, Papap pergi dulu ya. Awas aja jangan sampe susah dihubungin, nanti Papap gak bolehin temenan lagi sama si Dante itu," ujar Joshua tertuju pada Lova yang kini sudah membulatkan matanya.

"Udah gede ya sekarang, gaya banget yang udah punya pacar." Dika yang sudah tak tahan menahan gatalnya lidah akhirnya nyeletuk ikut meledek.

Hingga mampu membuat pipi si gadis yang menjadi sasaran memerah karena malu. "Ih, bapak-bapak ini emang nyebelin ya. Orang gak ada yang pacaran juga!" sanggah Lova menegaskan.

"Hati-hati ya Josh."

Tanpa dipungkiri, di tengah panasnya suasana karena Lova yang tengah kesal, kini ditambahi oleh Jelena yang mendekat lalu mencium pipi Joshua tanpa permisi. Semua yang melihat jelas terkejut, Joshua yang hanya bisa mematung sedangkan Lova menutup mulutnya tak percaya meskipun akhirnya memekik girang.

Karena itu semakin membawanya ke dalam mimpi, dimana akhir-akhir ini ia dibuat senang karena keluarganya seolah terasa utuh kembali.

°°°

Di sebuah cermin besar di hadapannya kini, dengan jelas Baron bisa melihat pantulan dirinya yang terlihat mengenaskan.

Sudah seminggu armsling ini ia kenakan, dan selama itu pula Baron semakin merasa bahwa dirinya tak berguna. Bagaimana ceritanya, dimana seorang laki-laki yang harusnya melindungi perempuan tapi malah sebaliknya.

Untung saja Lova tidak sampai gagar otak. Baron jadi mendecih ketika mengingat betapa bodohnya gadis itu yang beralasan ingin melindunginya hingga rela terbentur bola basket.

Sebagai cowok yang tampilannya saja garang tapi hatinya selembut puding susu, jelas ucapannya itu mampu menyenggol hati mungil Baron. Dan dengan niat yang sudah bulat, Baron perlahan mengeluarkan tangannya dari armsling dan menggerakkannya perlahan.

Mulai hari ini, Baron ingin kembali bangkit menjadi dirinya yang sebelumnya. Baron sudah bertekad jika hari ini harus berganti, ia sudah bukan Baron yang lemah.

"Baron?"

Baron menoleh hanya untuk melihat mamanya yang kini terkejut menatapnya.

"Kenapa dilepas? memangnya kamu beneran udah sembuh?" tanya wanita itu khawatir.

"Udah kok Ma. Oh iya, kunci motor Baron mana? hari ini Baron mau bawa motor ke sekolah," ujar Baron sambil mengulurkan tangan kanannya meminta apa yang baru saja ia ucapkan.

"Papa kamu yang pegang. Dia pasti gak bakalan ngasih gitu aja ke kamu, karena kamu juga baru sembuh," kata mama mengingatkan.

Baron menghela napas pelan, ia memutar bola matanya. "Dimana papa sekarang?" tanya Baron sambil berjalan keluar kamarnya.

Pemuda itu terus berjalan sampai ke kamar kedua orang tuanya, mengabaikan teriakan mama yang sedari tadi mengingatkannya untuk tidak nekat.

Namun tak ada gunanya melarang seseorang berkepala batu dan berhati keras seperti Baron. Ia bahkan terus melangkah sampai akhirnya masuk ke kamar dan berhadapan dengan Bastian yang kini sudah menatapnya penuh tanya.

"Mau apa kamu?" tanya Bastian yang kini tengah sibuk merapikan penampilannya.

"Harusnya saya yang tanya, mau apa anda dandan se-rapi ini?" ketus Baron seperti biasa sudah tak ada rasa takutnya.

"Mau apa lagi? kerja lah!" sahut Bastian tak kalah ketus.

"Udah gak usah kerja, kan udah kaya," sahut Baron. "Bukannya akhir-akhir ini keadaan sudah agak membaik ya? anda jangan coba-coba nyari perkara lagi. Saya gak bakal tinggal diam!" imbuhnya jadi mengancam.

"Papa gak punya banyak waktu buat ngeladenin ocehan kamu itu, bilang aja apa mau kamu. Papa harus berangkat kerja," tegas Bastian.

Baron mendecih, menyenderkan tubuh pada tembok dan menunduk menatap kuku jarinya. "Seperti yang anda lihat sekarang, dan saya sangat tau kalau yang mulia Bastian tidak akan semudah itu memberikan apa yang saya mau."

Bastian jadi memperhatikan Baron, lelaki itu jadi mengangguk kecil begitu tau apa yang berbeda dengan pemuda itu. "Biar Papa aja yang anter kamu ke sekolah."

Baron segera menegakkan tubuh, bergerak cepat untuk meraih kunci kamar dan segera keluar. "Saya tau kalo anda pasti akan mencari kesempatan. Jangan harap untuk keluar rumah gitu aja, saya hanya mau anda benar-benar merenungi diri dan memperbaiki hubungan dengan mama," pinta Baron yang menyisakan celah sedikit pada pintu hanya untuk melihat reaksi Bastian. "Tolong jangan rusak kepercayaan saya lagi, Pa!"

Pintu akhirnya tertutup sempurna diakhiri dengan bunyi kunci yang terputar dua kali. Baron pun tak menyangka jika bisa bertindak se-keterlaluan ini hanya untuk mengharapkan keadaan keluarga yang bisa membaik. Meski tak pernah tau apakah tindakannya ini akan membuahkan hasil atau berujung sia-sia.


A GiftTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang