27.

40 3 0
                                        

Suara nyaring dari kaleng yang terus ditendang pelan itu ikut menemani setiap obrolan kecil yang terlontar. Meski sudah hafal bagaimana bunyi sanksi yang diterima jika ketahuan membuang sampah oleh guru ataupun anak osis, faktanya Dante masih kebal pada kegiatannya.

"Dante berisik! mau lo tendang sampe mana itu kaleng?" seru Lova akhirnya meledak karena cowok itu yang tak cukup sekali untuk paham.

Cowok itu akhirnya menghentikan langkah. Mendecak kesal menatap kaleng soda yang sudah penyok karena sebelumnya sudah ia injak. "Ya abis, gara-gara Zoa kita ga jadi pulang bareng."

Lova otomatis mendengkus pelan. "Kan udah gue bilang, next time masih bisa. Lagian lo ntar bakal dapet pahala tau kalo nolong tetangga yang kesusahan," kata Lova menasehati.

Dante hanya menoleh malas. Baginya, Zoa itu adalah tetangga yang menyebalkan. Gak ada angin gak ada hujan, pagi buta tadi sudah gedor-gedor rumah Dante seperti orang kesetanan. Untung saja Dante sudah bersiap, karena cewek itu yang tiba-tiba minta nebeng berangkat ke sekolah. Setelahnya nambah ikut pulang bersama karena motornya yang harus masuk bengkel dan tidak mendapat tebengan dari teman-teman lainnya. Dante yang berperan sebagai tetangganya pun langsung menjadi sasaran utama.

Padahal, jauh-jauh hari Dante sudah punya rencana dengan Lova yang akan pergi ke perpustakaan kota. Dante kesal karena Lova baru bisa pergi hari ini dan malah terancam gagal.

"Tau gak sih, padahal gue udah bayangin nanti pas pulangnya kita jajan burger sama cola di tempat biasa," ucap Dante kecewa.

Tak tau harus bereaksi apalagi, Lova juga sangat menyayangkan hal itu. Apa yang dikatakan Dante juga sudah terbayang di kepalanya. Biasanya di hari rabu sore mereka tak langsung pulang ke rumah, jalan-jalan sejenak sekedar keliling kota lalu berakhir di sebuah mall dengan menikmati burger dan segelas cola.

"Udah ah gak usah sedih, gue yang tadinya udah ikhlas jadi kepikiran," celetuk Lova.

"Iyakan, kalo hari rabu gak jalan-jalan tuh rasanya kayak kurang afdol," ucap Dante membenarkan. Cowok itu lalu melipat kedua tangannya di depan dada, ditatapnya gadis yang kini menoleh ke arah lainnya. Raut wajahnya tak terbaca jelas, tapi Dante tau kalau Lova juga sedang merasakan apa yang ia rasakan.

"Bikin janji lagi yuk, pokoknya hari minggu harus bisa. Karena hari libur, gue mau seharian sama lo. Gimana?" tawar Dante dengan semangat.

Lova mendecak, menatap Dante sebal. "Kalo lo maunya kayak gitu, lo harus bilang langsung ke Papap."

Semenjak tau jika hubungan pertemanan anak gadisnya menumbuhkan rasa lebih, Joshua sering kali membuat alasan agar Lova menurut padanya untuk tak terlalu menghabiskan waktu bersama Dante seperti dulu tanpa rasa curiga. Baru seminggu berjalan, Lova yang kini lebih sering menghabiskan waktu dengan Jelena karena kehendak Joshua tak bisa membohongi diri. Gadis itu sangat merindukan sosok Dante yang biasa ikut andil mengisi hari-harinya.

Dante merapatkan bibirnya. Mau bilang apa nanti? dia belum pernah melakukan hal tersebut. Ketemu Joshua untuk pertama kali aja sudah dibuat deg-degan setengah mati. Meskipun auranya sangat tenang dan friendly, tatapan matanya tidak bohong apalagi saat lelaki itu jelas memperingati.

Namun Dante sadar, jika confess langsung saja ia sudah melakukannya dengan berani, pasti meminta izin akan berjalan lancar dan mudah ia dapatkan.

Tetapi sosok Joshua bukan tipe yang mudah ditebak.

Dante merogoh saku celananya sejenak begitu merasakan ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan datang dengan nama Kyla yang terpampang disana.

"Kyla alay banget sih, masa gak berani keluar UKS cuma karena ada banyak cowok yang lagi nongkrong di depan ruangan?" ucap Dante sambil menunjukkan layar ponselnya ke Lova. "Lo mau ikut?"

Dengan cepat Lova menggelengkan kepala. "Gue tunggu di kantin aja," ucapnya mantap.

Dante hanya mengangguk. Ia menunduk untuk mengambil kaleng penyok tadi untuk dibuang ke tempat sampah sebelum akhirnya berpisah dengan Lova.

Dengan santai ia berjalan melewati koridor perpustakaan untuk kemudian berbelok ke kiri menuju UKS tempat Kyla berada. Dua langkah menuju belokan, tubuhnya hampir saja tersungkur karena tak melihat jika ada kaki yang sengaja terpasang dan menjegalnya.

"Punya mata gak sih lo? enak banget nginjek kaki orang sembarangan?" ujar Baron langsung sewot. Mendekati Dante dengan tatapan menantang.

"Brengsek!" umpat Dante tertahan. Tak mau kalah, ia sambut tatapan itu tak kalah garang. "Ngapain gue injek kaki lo kalau gue masih bisa buat patahin sekalian?"

Baron mendecih. "Kok lo lama-lama kayak bapak gue sih? sama-sama nyebelin, brengsek pula. Oh, atau jangan-jangan justru bapak lo lebih brengsek dari bapak gue?" kata Baron mulai memancing amarah. "Yang mana sih bapak lo? kepo deh gue."

Tanpa bersuara, Dante langsung mendorong tubuh jangkung itu sampai terbentur tembok.

Baron yang agak terkejut jadi meringis pelan merasakan nyeri di punggungnya. "Berani lo sama gue?" murkanya. Tatapan kesalnya beradu dengan Dante yang siap untuk menghajarnya dengan kedua tangan cukup membuatnya was-was. "Gue gak yakin lo bakal berani nyentuh gue apalagi setelah lo ingat kalau temen lo itu udah join ekskul basket."

Mendengarnya membuat Dante melebarkan mata. Bagaimana ia bisa lupa dengan Lova, dan cowok yang kini tengah menyeringai di depannya adalah ketua dari ekskul tersebut.

"Atau lo mau berubah pikiran dengan ikut join ekskul gue? aduh tapi sayang banget. Khusus buat lo, ekskul basket gak nerima anggota baru," kata Baron memperingati.

Kedua tangannya yang semula mencengkram erat bahu Baron, perlahan terlepas karena Dante berhasil menguasai diri.

"Gue bisa ngelawan lo kalau sampai lo berani ganggu dia!" ancam Dante. "Miris aja gue ngeliat keadaan lo yang sekarang cuma bisa ngandelin mulut buat nindas orang."

Baron cukup tertohok, melihat tangan yang masih saja harus memakai armsling terkadang membuat kepercayaan dirinya menurun. Apalagi sekarang dengan jelas dan baru pertama kalinya Baron dengar langsung jika dirinya direndahkan.

"Gue gak selemah yang lo liat!" Baron maju langsung menarik dasi Dante begitu kencang hingga cowok itu merasa tercekik. "Minta maaf lo brengsek!"

Baron mudah murka, apalagi kalau merasa harga dirinya direndahkan. Cowok itu tak segan memberi pelajaran yang sangat bermakna kepada orang yang berani merendahkannya.

Namun Dante tak goyah, ia masih punya dua tangan yang jelas bisa melawan Baron dengan mudah meskipun cowok itu tengah berusaha sekuat tenaga untuk membunuhnya detik itu juga.

"STOPPPP!"

Penggaris berbahan besi seketika melayang menampar pipi keduanya hingga meninggalkan bekas merah disana. Baik Dante dan Baron kompak menjauhkan diri, mengusap pipi yang tiba-tiba terasa panas.

"Bisa-bisanya berantem di pojokan, dikira gak ada yang liat apa?!" amuk Zoa yang berhasil memergoki keduanya. "Bubar sekarang kalo emang susah dimintain buat baikan!" ucapnya menggebu.

Dan sesuai dugaannya, keadaan langsung sunyi karena kedua cowok itu yang kompak pergi berlawanan arah. Seperti biasa, tanpa kata semuanya berakhir seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Zoa khawatir, jika dalam waktu dekat salah satu dari mereka benar-benar mati tanpa alasan yang jelas.





A GiftTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang