Terik sinar matahari sore semakin membakar semangat murid-murid yang kini tengah berkumpul di lapangan basket SMA Diamond. Anak-anak dari ekskul basket memang selalu rajin latihan meskipun sedang tidak ada pertandingan yang mengharuskannya berlatih lebih giat. Karena mereka hanya ingin lebih menyalurkan hobi, berkumpul dan bermain bersama teman bisa cukup untuk menjadi sebuah hiburan.
Lova ikut berkumpul pada beberapa murid kelas sepuluh yang berbaris, di depan sana ada Wandra dan juga Zoa sebagai pengintruksi.
Terkhusus untuk anak-anak baru, Wandra mulai menjelaskan teknik yang benar untuk melakukan sebuah tembakan agar tepat masuk ring.
Setelah memberikan penjelasan sedikit, Wandra mulai meminta orang-orang yang berbaris itu untuk melakukan praktek satu-persatu.
Lova yang ada di barisan kelima cukup santai, ia sudah cukup tau tentang basket jadi praktek ini bukanlah hal yang susah. Ia hanya memperhatikan Zoa yang bertugas meniup pluit tanda agar siswa selanjutnya langsung melakukan tembakan. Begitu terus hingga pada akhirnya giliran Lova.
Mungkin gadis itu terlalu percaya diri akan kemampuannya sebagai pemula, meskipun tak masalah jika tembakannya tak tepat sasaran, tetap saja Lova sedikit kecewa.
"Udah ikut berapa kali pertemuan, kok nembak gitu aja masih gak bisa."
Lova langsung balik badan dengan kesal saat mendengar suara yang tak asing menyapa dari belakangnya.
"Lagi gak fokus aja!" ketus Lova sambil mengangkat tangan di dahi, merasa silau akibat matahari yang bersinar terang di belakang cowok itu.
Baron tersenyum remeh, ia buang muka sambil berkacak pinggang. "Coba sini ikut gue, mau gue tes lagi."
Terdengar cukup meledek, Lova jadi merasa tertantang oleh cowok yang berstatus ketua basket ini. Tanpa ragu ia mengikuti Baron menuju ring yang berada di sisi lain lapangan. Disana sudah ada dua bola basket, masing-masing orang mengambil alih bola tersebut.
"Coba gue mau tau gimana lo kalo dribble bola," titah Baron untuk permulaan.
Lova langsung melakukan apa yang di perintahkan. Gadis itu melakukannya cukup baik hingga membuat Baron manggut-manggut saat memperhatikan.
"Not bad," ucap Baron. "Kalo gitu sekarang lo perhatiin gue baik-baik."
Baron langsung menunjukkan keahliannya dalam bermain basket. Lova dengan serius memperhatikan penampilan cowok itu untuk pertama kalinya.
Iya pertama, meski sebelumnya sudah sering menonton permainan basket oleh tim putra sekolahnya, Lova tak pernah sekalipun melihat Baron. Karena semua mata selalu tertuju pada Wandra yang sangat bersinar dan menampakkan kharismanya di lapangan, selalu berhasil mengunci perhatian.
Sangat kejutan jika Baron tak kalah lihai dalam permainan. Meskipun baru mengetahui faktanya, tak ragu Lova percaya memang Baron layak atas posisinya.
"Nih, giliran lo!" Baron tanpa aba-aba langsung melempar bola ke arah Lova.
Untung reflek gadis itu bagus, bola langsung ia dekap sebelum bablas menghantam wajahnya.
Lova mendecak, meski kadang terlihat biasa saja, tapi terkadang merasa jika Baron suka berprilaku kasar. Tatapan mata yang tajam serta rahang yang terlihat tegas itu sangat mendukung.
(Cowok galak)
"Buruan!"
"Iya sabar!"
Lova mencobanya, sesuai apa yang ia tangkap dari permainan singkat Baron. Namun ternyata, mempraktekan itu tak semudah dengan apa yang sudah dilihat. Percobaan pertama meleset sedikit, percobaan berikutnya pun masih belum membuahkan hasil.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Gift
Fiksi PenggemarCinta merupakan hadiah pemberian dari tuhan. Rasa yang ada di dalamnya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan. Kita tidak pernah tau, bahkan rasanya seperti tidak bisa memilih kepada siapa esok kita akan menjatuhkan rasa. Semuanya sudah diat...
