Sore itu Joshua keluar dari kamar dengan pakaian casualnya, tapi wajah lelaki itu terlihat sangat cemas. Dengan buru-buru ia membuka pintu kamar yang tepat berhadapan dengan kamarnya.
"Kamu kenapa?" tanyanya pada Giri yang sedang terbaring lemah di kasur.
Bahkan sambungan telepon diantara mereka belum terputus, Joshua juga masih menempelkan benda pipih itu di telinganya. Sebelumnya, Giri menelpon dan mengatakan jika tidak bisa ikut mendampinginya hadir dalam acara anniversary hotel Vansea, yang tak lain adalah milik Hosea dan Kevan.
"Perut saya sakit banget, Pak Josh. Biasa siklus bulanan," kata Giri yang terlihat begitu pucat.
"Ya sudah, kalo gitu saya gak usah hadir aja," putus Joshua secara sepihak.
Giri melotot, menatap lelaki yang mengenakan kemeja garis warna blue sky itu tak percaya. "Kenapa gitu, Pak? bukannya kemarin juga pak Hosea udah mohon-mohon supaya pak Josh dateng? gak setia kawan banget kalo gitu."
Joshua hanya meliriknya malas. "Terus kamu gimana?"
Kalimat singkat yang sangat mematikan. Giri langsung bungkam begitu Joshua menatapnya tanpa ekspresi yang bisa ditebak. Kalo boleh geer, Giri rasa Joshua lagi khawatir.
"Serius, gapapa. Pak Josh pergi aja, lagian saya udah gede bisa jaga diri sendiri," lirihnya sambil menunduk tak mau melihat reaksi Joshua.
Tanpa menunggu lama juga tanpa meninggalkan sepatah kata pun, Joshua langsung angkat kaki dari kamar Giri. Jika wanita itu sudah bilang demikian, ya sudah untuk apalagi memaksakan diri. Setidaknya ia sudah cukup peduli atas keadaan sekretarisnya itu, meskipun masih merasa tak tenang jika tetap berangkat sendirian.
Mungkin acaranya sudah dimulai, karena disini Joshua sudah berteman dekat dengan sang pemilik, jadi tak apa jika ia datang sedikit terlambat. Tiba-tiba jadi merasa tak minat begini untuk menghadairi acara yang ternyata sangat ramai.
Joshua mulai berjalan menyusuri orang-orang yang tengah berkelompok dan saling berbincang. Ia hanya melewatinya saja karena memang tak ada yang ia kenal. Tujuannya hanyalah pada tokoh utama pada acara ini. Setelah bertemu dan berucap basa-basi, Joshua berniat ingin langsung pamit pulang.
"Josh my Bro!"
Joshua langsung menoleh begitu mendengar suara lantang yang memanggil namanya. Sosok Hosea melambaikan tangan dengan heboh ke arahnya. Joshua tersenyum sekilas lalu menghampiri Hosea bersama gerombolannya.
"Mana Kevan?" tanya Joshua begitu sampai sambil menjabat tangan Hosea.
"Pamitan ke toilet barusan," bisik Hosea.
Joshua mengangguk saja, lalu memperhatikan keadaan sekitar yang semakin ramai. Apalagi ketika suara musik yang diputar makin memeriahkan suasana.
Tanpa disangka, justru Joshua tetap disana sampai menuju pada acara inti. Sekarang ia tengah melihat Kevan dan Hosea yang sedang naik panggung dan memberi sambutan, setelahnya mereka meminta para tamu untuk mengangkat gelasnya dan bersulang. Joshua tak mengikuti, karena menurut Hosea, minuman yang tersedia mengandung alkohol. Joshua sedang tak minat dengan itu.
"Diem aja lo, nyari cewek kek mumpung lagi pada di depan mata." Kevan menyikut lengan Joshua ketika melihat lelaki itu hanya diam tanpa minat di tengah ramainya suasana.
"Gak ada yang menarik," jawab Joshua singkat. Lalu menoleh ke arah panggung, dimana kini ada hiburan penampilan dari seorang penyanyi jazz.
Kevan terkekeh setelah meminum kembali winenya. Ia melihat Joshua dengan penuh ledek. "Bilang aja lo masih gamonin Jelena. Atau jangan-jangan lo udah gak demen cewek? ya udah nih ama Hose aja!"
KAMU SEDANG MEMBACA
A Gift
FanfictionCinta merupakan hadiah pemberian dari tuhan. Rasa yang ada di dalamnya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan. Kita tidak pernah tau, bahkan rasanya seperti tidak bisa memilih kepada siapa esok kita akan menjatuhkan rasa. Semuanya sudah diat...
