37.

38 3 0
                                        

Bahkan Joshua tak pernah menyangka hari ini benar-benar terjadi. Mungkin tak masalah jika melakukan dinner dengan wanita yang baru dikenal di luar sana, tapi kali ini bahkan untuk pertama kalinya, Joshua malah akan melakukan dinner di rumah wanita tersebut.

Joshua benar-benar datang setelah Griska mengirimkan alamat rumahnya. Dan secara naluri, Joshua sampai berdandan serapi mungkin. Lelaki itu jadi geli melihat penampilannya kini.

Namun lelaki itu malah berdiri ragu di depan pintu berwarna putih itu, tangannya agak memberat hanya untuk mengetuknya. Joshua jadi tak enak hati.

Tak kunjung membuat keputusan, lelaki itu malah memilih bergelut dengan hatinya yang merasa salah. Hingga tak sadar jika itu berjalan cukup lama sampai akhirnya dikejutkan dengan suara pintu yang ditarik dari dalam.

"Oh, kamu sudah datang? sejak kapan? kenapa gak ngetuk pintu?" Griska membuka lebar pintu tersebut hingga Joshua bisa melihatnya secara keseluruhan.

Lelaki itu terpana, dress polos warna lilac itu nampak sederhana tapi mampu membuat kesan elegant begitu melekat di tubuh proposional wanita itu.

Griska nampak begitu mempesona, cantiknya semakin berkali-kali lipat. Joshua segera menggeleng kecil atas apa yang kini malah memenuhi pikirannya. Ia menegaskan dalam hati. Tujuannya untuk datang tak lebih karena ingin menjalin hubungan kerja.

"Selamat malam," ucap Joshua yang akhirnya bersuara.

"Malam," sambut Griska dengan ramah. "Silahkan masuk."

Joshua mengangguk, jadi membuntuti saja di belakang. Matanya tak bisa untuk tak melihat kiri-kanan, hanya sekedar untuk melihat furniture ataupun guci mahal yang terpajang di sudut ruangan.

"Kamu duduk dulu saja, saya mau ambil sesutu di dapur," kata Griska berpamitan.

"Terima kasih," balas Joshua seraya tersenyum tipis. Ia lanjut duduk terlebih dulu di meja makan yang sudah tertata rapi oleh beraneka hidangan.

Joshua menyenderkan punggungnya pada kursi, ia mengamati sekitar. Merasakan betapa sepinya suasana di rumah sebesar ini. Namun kemudian jadi teringat, inilah yang juga ia rasakan selama ini.

Tak jauh di belakangnya, ia melihat sebuah figura terpajang di tembok. Joshua mendekat untuk melihat siapa saja orang di dalamnya. Hatinya jadi tersentuh melihat keharmonisan keluarga kecil Griska yang lengkap.

"Ini anak aku satu-satunya," ujar Griska yang tiba-tiba bersuara di belakang Joshua. Wanita itu menunjuk ke arah gadis yang tengah tersenyum disana, mungkin umurnya sepantaran dengan Lova. Lalu jarinya beralih menunjuk lelaki yang merangkulnya. "Kalau ini suami saya, dia sudah pergi dengan damai satu tahun yang lalu."

Seketika Joshua menatap sendu wanita yang kini berusaha untuk tetap terlihat tegar. "Are you now a single parent?"

Griska tersenyum canggung, wanita itu hanya membalas dengan anggukan kecil.

"Sorry, aku gak bermaksud untuk menanyakan hal itu." Entah untuk alasan apa, tiba-tiba jantungnya malah berdebar kencang. Ia hanya menatap punggung Griska yang kembali memasuki dapur.

"Mom, i'm home."

Joshua menoleh untuk mendapati sosok yang baru saja ia lihat dari foto. Gadis itu nampak cukup terkejut atas kehadirannya.

Namun kemudian, gadis itu malah tersenyum manis dan menghampirinya. "Hello, i'm Helen. Are you my mom's boyfriend?" tukas gadis itu selanjutnya dengan antusias.

Joshua mengerjap, dibuat salah tingkah begitu saja oleh pertanyaan random yang dilontarkan gadis seumuran Lova ini. "I'm.. Just her job partner," balasnya gugup.

A GiftTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang