Karena insiden tak terduga, kini suara bising dari hairdryer memenuhi ruangan yang hanya terdapat dua orang di dalamnya. Keduanya kompak diam tapi dengan suasana hati yang tentu berbeda.
Gerakan tangannya saat mengarahkan hairdrayer ke jas hitam itu mulai tergesa begitu tak sengaja melirik jam di pergelangan tangan. Lima belas menit telah berlalu, harusnya mereka sudah di jalan menuju tempat rapat. Namun dengan bodohnya Giri malah menumpahkan ice americano yang ia pesan sebelum memasuki hotel. Jalannya tak hati-hati hingga mengotori jas milik Joshua yang hanya terkejut saat kejadian.
Bahkan lelaki itu tak terlalu mempermasalahkan, tadinya justru nekat ingin lamgsung berangkat saja dengan keadaan pakaiannya yang kotor. Bahkan kemeja putih yang dilapisi jas hitam itu terkena nodanya. Tapi bisa-bisanya Joshua bilang, "udah, gak apa-apa."
Justru hal itulah yang makin membuat Giri merasa bersalah. Untuk kali ini saja ia bertindak menarik Joshua agar mau mengganti pakaiannya. Mau jadi apa coba, seorang direktur utama Hong Group datang ke sebuah rapat penting dengan keadaan yang kotor?
Lelaki itu setelahnya tak banyak bicara, ia hanya kembali memeriksa berkas-berkas yang sudah Giri siapkan dengan rapi. Masih tak ada niatan sedikitpun untuk mengganti kemejanya dengan yang bersih.
Wajah seriusnya terlihat fokus pada lembar demi lembar hingga keningnya berkerut. Namun jika sudah terkejut, lelaki itu terlihat sangat lucu.
Giri dengan iseng mengarahkan hairdryer ke arah Joshua ketika sudah selesai dengan jas hitamnya.
"Pak Josh kenapa masih belum siap-siap? kita bisa telat nanti!" pekik Giri jadi bawel tak terkendali, wanita itu sudah terlampau geregetan.
Joshua hanya memandangnya, menutup map yang ia pegang lalu meletakkannya di atas ranjang. Dengan gerakan santai ia mengendurkan dasi warna navy yang melingkar di kerah kemejanya.
"Saya ke kamar mandi dulu, tolong carikan kemejanya ya. Apa aja, yang penting warnanya netral," titah Joshua dan berlalu begitu saja.
Tak banyak yang bisa Giri lakukan ketika memang begini tugasnya, apalagi jika berpergian keluar kota. Ini yang pertama kali untuk Giri, dan diawal bisa dibilang tidak berjalan dengan lancar. Jadi sebagai gantinya, ia harus bisa melakukan yang terbaik. Mempersiapkan segala kebutuhan bosnya.
Suara pintu kamar mandi terbuka, Giri reflek berbalik badan karena ingin menyampaikan sesuatu pada Joshua sebelum keluar kamar.
"Udah?" Namun malah Joshua yang memulai obrolan. Bahkan kini dengan santainya berjalan mendekati Giri.
Giri mematung di tempat, entah sudah yang keberapa kali ia mengerjap cepat dengan bola mata yang melebar. Ia rasa jantungnya berdetak kian melambat hingga rasanya pasokan udara di sekitarnya makin menipis.
Kenapa lelaki itu seolah tak sadar diri? apa baik keluar dari kamar mandi dengan tampilan kaos singlet yang membalut tubuhnya.
Wanita mana yang seketika tak terpesona dengan tubuhnya yang terbilang cukup atletis.
"Kamu kenapa? kok tiba-tiba bengong gitu. Kesurupan?" celetuk Joshua, dengan entengnya mengambil alih kemeja navy yang tadinya Giri genggang erat, sampai meninggalkan kerutan di bagian kedua lengan atasnya.
Iya, Giri kesurupan!
Kesurupan cuma karena melihat otot lengan Joshua yang tidak pernah ia sangka. Makin susah sih kalau sudah begini. Yakin masih jomblo aja padahal bentukannya sudah se-perfect ini?
Mau bagaimana pun, Joshua tetaplah manusia biasa. Untuk berpindah hati itu bukanlah soal mudah. Meski sudah tak ada lagi cinta, ia tak menampik jika selama ini hatinya hanya ada di tiga orang. Ibunya, Jelena, dan Lova.
°°°
"Terima kasih atas kehadirannya, dengan ini saya nyatakan jika rapat telah berakhir."
Siang itu akhirnya rapat usai dan ditutup langsung oleh komisaris dari PT. Lintang selaku penyelenggara. Perlahan-lahan para pejabat tinggi perusahaan lain yang menghadiri rapat itu mulai berpamitan meninggalkan ruangan.
Joshua menahan diri, ia hanya memperhatikan gerak-gerik sosok orang yang duduk di kursi ujung. Sedari tadi orang itu yang menjadi fokusnya, Joshua sangat bersyukur karena akhirnya dipertemukan disaat seperti ini, tepat saat ia sedang memiliki sebuah rencana.
"Pak Bastian!" Joshua langsung menyerukan namanya. Ia ikut berdiri begitu melihat lelaki itu bangkit dari duduknya.
Yang punya nama cukup terlonjak, apalagi saat mengetahui siapa yang memanggilnya. Bastian cukup tau soal orang yang kini tengah menghampirinya dengan wajah ramah meskipun baru pertama kali bertemu.
"Senang akhirnya bisa bertemu anda." Joshua langsung mengulurkan tangannya.
Tanpa ragu pun Bastian segera menjabatnya. "Saya pun demikian," balasnya. Kemudian menarik tangannya kembali bersikap penuh wibawa. "Apa kabar Pak Joshua?"
Joshua mengukir senyumannya. "Sangat baik. Bagaimana dengan anda?"
Bastian hanya tersenyum canggung sebagai balasan. Lelaki itu selanjutnya merangkul Joshua untuk bersama-sama meninggalkan ruangan rapat.
"Pasti bukan tanpa maksud kan anda menyapa saya terlebih dulu?" tuduh Bastian begitu mereka berjalan beriringan menuju lift.
Joshua terkekeh. Sedikit terkejut saja saat ada orang yang baru ia temui sudah bisa menebak kebiasaannya. "Saya punya sesuatu yang menarik. Ayo pergi ke kafetaria dulu untuk membahasnya."
Bastian sempat tertegun. Tapi karena merasa yang ia hadapi bukan sosok yang suka bertele-tele, maka dengan segera Bastian menyanggupi. Ia masih bisa pulang tepat waktu meski harus menyisakan sedikit waktunya untuk mendengarkan tawaran collab yang diajukan oleh Joshua.
"Untuk kali ini saya sangat ingin menggandeng anda untuk proyek resort ini," ucap Joshua bersungguh-sungguh.
Bastian mengganguk pelan, tentu ia sangat tergiur dengan tawaran itu. Apalagi yang akan menggandengnya adalah salah satu perusahaan properti terbesar di negeri ini.
Membuat dan merancang desain bangunan adalah bidangnya sebagai seorang arsitek yang sedang naik daun. Karena ini masih rencana mentah, akhirnya Bastian menjabat tangan Joshua sebagai tanda awal jika ia sudah menyanggupi sebuah kerja sama.
Pertemuan singkat itu akhirnya berakhir sangat cepat. Bastian juga tidak bisa langsung bertindak untuk menerjemahkan keinginan Joshua yang baru menyampaikan sekilas tentang resort impiannya itu. Pikirannya juga sudah terlanjur kalang kabut. Saat pembicaraan, ia sempat izin sejenak pada Joshua hanya untuk melihat notif pesan yang dikirimkan oleh Willy.
Kondisi Duma kembali memburuk, ia harus segera pulang selagi Baron belum mengetahui kebenarannya.
A/n
Meskipun sudah terlambat
Tapi.....
HAPPY NEW YEAR GAISSSSSS
Bagaimana dengan awal tahun ini semoga selalu menyenangkan. Ayo manifesting segala hal baik untuk tahun ini. Bahagia selalu❤❤❤❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
A Gift
FanfictionCinta merupakan hadiah pemberian dari tuhan. Rasa yang ada di dalamnya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan. Kita tidak pernah tau, bahkan rasanya seperti tidak bisa memilih kepada siapa esok kita akan menjatuhkan rasa. Semuanya sudah diat...
