Setelah perpisahannya dengan Griska di tengah acara, Joshua jadi ikut berpamitan pada Hosea dan Kevan yang sempat menahannya. Karena sudah tak tahan lebih lama lagi disana, Joshua melontarkan seribu satu alasan sampai akhirnya bebas dan kembali ke hotel.
Kini ia menyusuri koridor yang sunyi, sejenak melirik arloji yang menunjukkan tepat pukul sembilan. Masih belum terlalu malam, tapi Joshua lebih ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tidur lebih cepat agar besok bisa bangun pagi dengan mudah.
Seharian ini cukup melelahkan baginya, hari-harinya tak pernah luput dari acara kantor. Besok pun ia masih diminta untuk datang ke proyek, semoga saja Giri bisa menemaninya.
Begitu mengingat tentang sekretarisnya itu, Joshua jadi terdiam ketika sudah sampai di depan pintu kamarnya. Ia menoleh pada pintu tertutup yang tepat berhadapan dengan dirinya. Bagaimana keadaan wanita itu setelah ia tinggal cukup lama? Joshua ingin memastikan, tapi ia merasa takut mengganggu dan berpikir jika Giri mungkin sudah terlelap. Dan akhirnya Joshua memilih untuk memasuki kamarnya sendiri.
Dilemparkan begitu saja kemeja blue sky yang tadi membalut tubuhnya, hingga kini ia berbaring dengan tubuh bagian atas yang terekspos. Matanya yang mulai memberat lama-lama jadi menyatu dan akhirnya terlelap begitu saja.
Namun belum sampai ia bertemu dengan mimpinya, Joshua segera di sadarkan. Lelaki itu mendecak, mengambil nafas sedalam mungkin dan mengumpulkan kembali kesadarannya hanya untuk melihat apa yang membuat seseorang nekat menggedor pintu kamarnya.
Pintu terbuka, kedua orang yang sama-sama berdiri di sisi pintu itu kompak tercengang. Joshua melihat Giri dengan wajah syok dan juga keringat dingin yang membanjiri dahi wanita itu.
Sedangkan Giri, ia tidak tau lagi harus berbuat apa. Jantung yang tadinya sudah dibuat deg-degan, kini malah ditambah kakinya yang seketika melemas. Joshua benar-benar bisa membunuhnya. Apa lelaki itu memang suka tidur dengan shirtless?
Tapi kenapa Giri harus melihatnya?Rasanya Giri ingin kembali saja tak jadi mengadu, tapi nyali wanita itu sudah terlanjur menciut.
Joshua masih terdiam disana menatapnya penuh tanya. Giri mengerjap juga meneguk ludah mencoba menguasai diri. "Maaf, saya gak bermaksud ganggu waktu tidur Pak Josh," terangnya dengan suara yang bergetar.
Joshua menoleh kanan-kiri sebelum akhirnya menarik Giri untuk masuk ke kamarnya.
"Kamu kenapa? masih sakit?" tanya Joshua yang membawa Giri duduk di sofa. Sedangkan ia berdiri dan berkacak pinggang menatap wanita itu.
Giri menggeleng, semakin mengeratkan pegangan pada selimut yang membalut tubuhnya. Wajahnya makin pucat ketika mengingat apa yang baru saja terjadi padanya. "Pak Josh barusan ada setan di kamar saya," lirihnya.
Hening beberapa saat, sebelum akhirnya Joshua menunduk dan mencondongkan tubuh. Mengikis jarak diantara mereka hingga membuat Giri membulatkan matanya terkejut. Joshua lanjut menempelkan tangannya pada dahi Giri. "Kamu itu cuma ngigo, mana ada setan." Joshua langsung menampik pernyataan Giri setelah tau jika sekarang wanita itu tengah demam tinggi.
"Saya juga gak terlalu percaya sama hal kayak gitu, cuma cewek itu udah dari dua jam yang lalu ngintip di jendela. Saya takut," ucap Giri menegaskan. Wajahnya juga jelas ketakutan bahkan sekarang sampai menitikan air mata.
Mau percaya tidak percaya tapi mereka memang benar adanya. Joshua tak mau mendebatkannya karena keadaan Giri yang kurang baik.
"Ya sudah kalo gitu kamu istirahat disini saja, saya mau ambil obat penurun panas." Joshua hanya bisa menenangkan. Ia kemudian pergi menuju lemari mengambil kaos dan obat untuk Giri.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Gift
FanfictieCinta merupakan hadiah pemberian dari tuhan. Rasa yang ada di dalamnya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan. Kita tidak pernah tau, bahkan rasanya seperti tidak bisa memilih kepada siapa esok kita akan menjatuhkan rasa. Semuanya sudah diat...
