Pemandangan di pagi hari ini terasa begitu beda, seolah dibuat deja vu akan beberapa tahun lalu lamanya dengan kehangatan yang terasa sama. Tak seperti biasanya ada sosok wanita yang menemani kegiatan sarapannya, biasanya hanya seorang gadis bawel yang terus mengoceh mengusir keheningan di meja makan.
Kehadiran Jelena kembali di tengah-tengahnya kali ini atas kemauan Joshua sendiri. Bukan tanpa sebab tentunya, ada beberapa hal yang akan Joshua sampaikan.
"Aku jumat pagi berangkatnya, bisa kan?" ujar Joshua memastikan obrolan yang sudah mereka bahas sedikit lewat chat.
"Bisa, apapun harinya aku pasti bisa buat Lova," lanjut Jelena yang kini sibuk menuangkan orange jus untuk lelaki tersebut.
Joshua tersenyum tipis. "Syukur lah, aku seneng dengernya. Aku jadi gak perlu khawatir lagi buat ninggalin Lova."
Karena namanya disebut, sontak Lova jadi mengangkat sebelah alisnya. "Lova gak apa-apa kali, Pap! setiap hari Papap tinggal kerja aku gak kenapa napa tuh," sanggahnya.
"Iya kan kali ini beda sayang, Papap harus ke luar kota selama tiga hari. Kalo gak ada Moma, Papap bingung mau nitipin kamu kemana," ujar Joshua menjelaskan.
Lova hanya mengangguk paham sambil memajukan bibir bawahnya tak menyangka jika Joshua se-khawatir itu padanya, yang bahkan sudah cukup besar untuk tak terlalu dikhawatirkan. "Gampang sih, tinggal lempar aja aku ke rumah om Dika," guraunya.
Joshua langsung motot ke arah gadis itu. "Enak aja, kamu semenit bergaul sama Dika aja tingkahnya udah mulai aneh apalagi kalo dititipin tiga hari?!" tolak Joshua mentah-mentah.
Seketika tawa Lova pecah memenuhi ruang makan. Tawa riang itu mampu membawa suasana bahagia hingga orang yang menolehnya jadi tak sadar menarik senyumnya ikut bahagia.
"Udah-udah ketawanya, ayo lanjut sarapannya nanti pada telat lo," titah Jelena.
Dengan semangat Lova meraih peralatan makannya, menatap antusias pada nasi goreng yang tersaji di hadapannya. Setelah sekian lama akhirnya bisa sarapan dengan menu favorit yang langsung di masak oleh orang yang sangat ia rindukan kehadirannya untuk kembali melengkapi.
"Makasih tuhan, akhirnya Lova bisa sarapan nasi goreng buatan moma lagi," seru Lova sudah dramatis karena terharu.
Jelena hanya geleng-geleng kepala lalu melanjutkan sarapannya. Sedangkan Joshua memilih untuk memperhatikan sejenak gadis yang tengah lahap makan itu.
"Sayang, besok hari minggu kita jalan-jalan ya sebelum Papap ke luar kota," celetuk Joshua.
Namun kali ini tak sesuai ekspektasinya, Lova malah dengan mantap menggelengkan kepala. "Gak bisa Pap, Lova udah ada janji mau jalan-jalan sama Dante."
"Kamu... Sama Dante mulu ah! Papap jadi kesel," gerutu Joshua sudah memundurkan diri tak bersemangat. "Batalin! kamu perginya sama Papap aja."
Kini gelengan itu makin kencang dengan jari telunjuk yang diarahkan ke kana-kiri di hadapannya, pertanda tak setuju. "Kita udah terlanjur janji, jadi Lova gak bisa ingkar buat batalin gitu aja. Lagian Papap dadakan banget bilangnya. Lova kan punya planning lain."
Raut wajahnya sudah tak enak, di pagi hari ini sudah dibuat kesal karena penolakan mentah-mentah yang ia dapatkan. " Papap cemburu, sekarang prioritas kamu bukan Papap lagi."
Jelena yang mendengar rajukan itu otomatis menoleh Joshua sepenuhnya. Wanita itu mengerutkan kening pada Joshua yang benar-benar kesal. Jelena reflek menyikut lengan lelaki itu lalu berbisik, "Josh? masa kamu cemburu sama anak sendiri?"
Padahal dengan jelas Lova masih bisa mendengarnya. Gadis itu tak terlalu menghiraukannya, ia hanya mengendikkan bahu. "Daripada ngambek gak jelas, kenapa Papap gak ajak Moma aja, terus pergi berdua."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Gift
FanfictionCinta merupakan hadiah pemberian dari tuhan. Rasa yang ada di dalamnya itu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan. Kita tidak pernah tau, bahkan rasanya seperti tidak bisa memilih kepada siapa esok kita akan menjatuhkan rasa. Semuanya sudah diat...
