Rumah lama kediaman keluarga Hadi tidaklah sebesar di Jogja. Rumah berlantai dua dengan gerbang putih di depannya dibangun selama anak-anaknya memutuskan untuk bersekolah di ibukota. Dua tahun lalu setelah pernikahan Erland sebagai pernikahan pertama di antara keempat anaknya, mereka semua memutuskan pindah kembali ke Jogja, menempati rumah mewah sebagai kediaman induk keluarga.Rumah ini kembali ditempati hari ini setelah kedatangan Nia dan tiga anaknya, kecuali Hadi setelah mendapat kabar jika Nindia kecelakaan. Syukurlah rumah itu selalu bersih dan terawat, lantaran Nia meminta sepasang suami istri yang merupakan pembantu dulu untuk tetap menetap dan menjaganya.
Keempatnya saat ini tengah menikmati minuman sore di ruang keluarga sambil menunggu kepulangan Erland.
"Aku jadi rindu suasana rumah ini," ungkap Intan nostalgia. Saat pernikahan Reza, gadis itu memilih menginap di hotel.
"Kedatangan kita seperti nostalgia," sambung Igrand menyahut.
"Rumah ini banyak kenangannya, di tempat ini menjadi saksi pertama kali mama mengenal Nindia saat wanita itu datang." Nia berujar pelan, mata wanita tua itu tampak basah akan kesedihan mendalam terhadap menantunya.
Di antara keempat anaknya, Erland yang memutuskan menikah duluan. Sementara Araka masih sibuk mengurus gelar S2 waktu itu, sehingga rela dilanggar adiknya. Lagi pula dia tidak punya kekasih saat itu, beda dengan sekarang. Dosen dengan gelar magister itu sekarang telah berstatus sebagai tunangan seorang bidan di Jogja. Lalu Igrand, masih sibuk berpetualang dengan para wanita di luar sana. Dia tidak ingin terburu-buru menikah, karena menurutnya menikah itu tidak mudah. Terakhir Intan baru saja putus dengan seorang pilot yang telah menjalin kasih selama dua tahun belakangan ini.
"Jangan diingat lagi, Ma. Semua sudah terjadi," ucap Igrand.
"Kenapa tidak ada penjelasan dari Erland soal pernikahannya sampai sekarang. Dia hanya meminta kita untuk diam, tanpa ada alasan di balik kepergiannya ke Singapura."
Nia terlalu bersedih, sehingga tidak sadar jika ketiga anaknya saling berpandangan. Mereka merasa bersalah lantaran hanya diam, mengunci mulut dan tak bisa menjelaskan kejadian sebenarnya pada Nia. Hanya ketiganya serta Hadi yang tahu.
"Kalian sudah sampai?" Erland datang, membuat ketiganya merasa lebih tenang. Setidaknya Nia tidak perlu lagi membahas hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu, sementara pihak yang mengalami belum hadir di antara mereka.
Pria itu mencium pipi Nia, lalu duduk di samping ibunya.
"Bagaimana kabar Nindia?"
Erland tersenyum tipis, tahu jika semua pasang mata mengarah padanya menunggu jawaban. "Dia baik-baik saja, Ma."
"Syukurlah. Bagaimana kalau kita ke sana sekarang?" Dengan semangat Nia berseru, berbeda dengan Erland yang tampak menggeleng kecil.
"Ma, sebaiknya besok saja kita jenguk Mbak Nindia," usul Intan. Dari wajah kakaknya, dia bisa melihat ada yang tidak beres terjadi.
Nia menolak keras. "Sudah dua tahun mama tidak melihat Nindia, semenjak penikahan kalian itu, Erland! Entah apa yang terjadi sehingga Papa serta kalian semua melarang keras mama untuk tidak bertemu Nindia. Apa yang sebenarnya terjadi, hah?" teriak Nia marah.
Wanita itu terlahir sebagai seorang yang sangat penurut. Menikah dengan Hadi, semua larangan suami diturutinya, termasuk resign dari pekerjaannya sebagai model. Saat pernikahan Erland dan Nindia, dia termasuk wanita yang sangat berbahagia. Akhirnya keinginan memiliki menantu di keluarga itu terpenuhi. Akan tetapi, setelah menikah dia tidak tahu dengan alasan Hadi yang meminta semuanya kembali Ke Jogja, termasuk Erland. Dia selalu bertanya alasan kepulangan mereka dan juga kenapa Nindia tak bersama putranya? Hingga sekarang tidak ada jawaban sehingga dalam pemikiran Nia, pernikahan putranya sedang tidak baik-baik saja.
"Jadi, izinkanlah maka untuk bertemu wanita itu sekarang!"
*****
Kondisi Nindia sudah baik-baik saja. Ditemani Nando, wanita itu sibuk membaca buku yang dibelikan adiknya untuk mengusir rasa bosan. Sementara Nando di sofa sibuk bermain game. Agung baru saja keluar menjenguknya, kembali ke ruangan Santi untuk menemani istrinya.
"Lusa udah bisa pulang, Mbak," ujar Nando.
"Syukurlah. Mbak udah bosan banget di sini."
"Mbak Meta belum bisa jenguk, mereka ada tugas ke pelosok."
Nindia mengangguk. "Dia juga udah nelpon mbak tadi."
Lalu, keheningan kembali menyelimuti. Suara pintu dibuka, menolehkan sepasang kakak beradik itu. Raut wajah terkejut, tergambar jelas pada wajah Nando dan Nindia yang langsung terpaku tak percaya.
Di depannya sudah ada Nia yang sementara menangis, lalu Intan di belakangnya. Wanita yang diyakini sebagai mantan mertuanya itu maju mendekati brankar, Nindia masih diam sedang mencerna sesuatu dalam pikirannya sekarang.
"Nindia," panggil Nia pelan.
Nindia baru sadar jika Nia sudah di depannya sekarang. Wanita yang selalu ramah padanya kini terlihat lebih tua. Nindia bingung mengekspresikan perasaannya bagaimana sekarang. Doa ingin sekali memeluk Nia, mengatakan jika dia sangat merindukan sosok wanita itu. Sosok mertua baik yang selalu membuatnya merasa nyaman jika berkunjung ke rumah Erland.
"Nindia, mama merindukan kamu."
Air mata Nindia jatuh, di depannya Nia masih terisak.
"Boleh mama memeluk kamu, Sayang?"
Wanita bertubuh bak model itu memberikan anggukan kecil, sehingga sebuah pelukan langsung diberikan Nia. Keduanya sama-sama menyalurkan kerinduan dalam pelukan itu. Jujur, Nindia sayang sekali dengan Nia, terlepas dari perbuatan putranya yang telah menyakiti hati.
"Akhirnya, mama bertemu kamu selama dua tahun ini. Akhirnya mama masih diizinkan melihat menantu kesayangan keluarga."
Nindia memejamkan mata mendengar kata menantu yang keluar dari mulut Nia. Apakah wanita itu tidak tahu atau pura-pura tak tahu jika dia dan Erland sudah resmi bercerai? Permainan apa yang sedang dimainkan pria itu?
"Intan, kamu boleh keluar? Mama mau bicara sama Nindia dulu," punya Nia.
Intan mengangguk kaku, dia keluar diikuti Nando yang hanya diam. Saat di luar, Nando menarik tangan gadis itu menuji taman rumah sakit. Sedikit kasar, sehingga Intan meringis kesakitan.
"Maksud kamu apa?" tanya Nando geram.
"Apa?"
"Jangan pura-pura bodoh! Maksud kamu apa mempertemukan mereka? Bukankah hubungan keluarga kita sudah terputus sejak dua tahun lalu?"
Intan sedikit takut melihat mata Nando yang gelap akan amarah. Namun, menghadapi orang yang marah tanpa tahu kebenarannya tidak akan Intan sia-siakan. Tentu dia juga akan meladeni.
"Aku rasa Mama perlu bertemu menantunya!" balas Intan tak mau kalah.
"Menantu? Sudah gila kamu!"
Intan mendengkus. "Aku tidak gila! Mama wajar bertemu menantunya yang sedang sakit!"
"Mereka sudah bercerai, Intan! Kakak kamu yang bajingan itu udah menceraikan Mbak Nindia!" teriak Nando putus asa.
Wajah Intan pucat pasi. Cerai? Sejak kapan? Kakaknya tidak bercerita perihal itu? Ketiganya termasuk Hadi sama sekali tak pernah tahu menyangkut perceraian, selain alasan besar itu. Lagi pula dia tahu jika Erland pergi karena hal lain, yang dipaksa tanpa diizinkan untuk bicara kebenaran. Kakaknya tidak mungkin menceraikan Nindia, cinta sejatinya.
"En-enggak mungkin!"
Nando menaikkan sudut bibir, tersenyum miring. "Surat cerainya masih ada dan disimpan olehku. Mau lihat, heh?"
"Erland sama sekali tidak pernah menceraikan Nindia! Jika ada surat cerainya, bisa kamu tunjukkan?" Sebuah suara menginstrupsi, membuat keduanya menoleh cepat.
📍 Bagaimana, guys? Dah sampai part 10 aja sekarang?

KAMU SEDANG MEMBACA
Muara Rindu
Chick-LitStory 8 Jatuh cinta, menjalin kasih hingga menikah sebuah perjalanan panjang yang berakhir indah. Terlebih menikah dengan sosok pria yang merupakan cinta pertama dan sudah menjalin hubungan selama lima tahun. Lalu bagaimana jadinya jika hubungan pen...