Terpantau masih update tiap hari, gatau besok💆🏻♀️
Ramekeun gaksi. Kuyla :)
🤼🤼
"Anak Mama sudah sampai bandara?"
"Udah, Ma."
"Tadi Mama kirim sopir, dia nunggu di lobby area penjemputan, Al."
Albert masih menarik kopernya, berjalan di tengah banyak manusia yang juga saling mencari. Saat sampai di lobby, ia berhenti dan menatapi sekitar. Ramai.
Sedikit terganggu dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, ia akhirnya melepas dan mengancingkan di sweatshirt bagian dada. "Namanya siapa, Ma? Aku kenal?"
"Nggak kenal. Namanya Joko. Dia berangkat dari dua jam lalu. Tapi sudah Mama kasih nomor dan foto kamu tadi."
Albert mengangguki. Ia berpamitan untuk menutup panggilan dengan sang mama, sebelum memulai pencariannya lagi. Lobby terlalu luas. Ada beberapa deret kursi tunggu, lalu spot foto yang cukup ramai dengan tanda terminal gate kedatangan. Tapi mana mungkin si Joko itu di sana?
Lebih baik Albert duduk dulu. Ia kembali menarik koper dan berjalan ke salah satu kursi. Belum juga pantatnya mendarat di sana, sebuah teriakan cukup keras membuatnya membelalak. Saat disadari, sekitar juga ikut memandang ke sumber suara.
Dari spot foto yang sempat Albert duga tadi, berlarilah seorang lelaki mendekatinya. Senyum lebar tersungging lengkap dengan teriakan—yang mungkin tidak berniat diteriakkan tapi nyatanya begitu keras.
Mas Albert.
Begitulah teriakannya terdengar. Dua kali.
"Mas Albert!"
Jadi tiga kali.
Albert akhirnya melambaikan tangan meminta Joko mendekat, biar suara kerasnya tadi tidak menimbulkan bising sekitar.
"Benar Mas Albert?" tanya Joko masih meyakinkan.
"Iya," jawab Albert singkat. Karena tinggi badannya jauh dengan orang di hadapannya ini, Joko malah mendongak dan melongo, disusul decakan kagum serta gelengan kepala. Albert mengernyit melihat reaksi itu. "Kamu kenapa?"
Joko tersenyum lebar, masih mendongak karena kagum pada lelaki tinggi di hadapannya. "Matanya Mas Albert biru, itu pake softex ya?"
Awalnya Albert tidak tahu korelasi iris matanya dengan pembalut. Tapi saat satu pemikiran muncul, ia menghela napas lelah. "Softlens maksud kamu?"
Joko bingung. "Loh, udah ganti namanya?"
Albert tidak tahu kenapa mamanya mempekerjakan seseorang bernama Joko ini.
"Bener tadi kata Nyonya Valencia." Joko masih saja berkomentar meski Albert tidak menjawab. "Kalo bingung nyari Mas Albert, pokoknya cari aja bule paling ganteng."
Albert menunjuk wajahnya sendiri. "Gimana kamu bisa nilai wajah saya ganteng atau nggak padahal saya masih pake masker?"
Joko tertawa, izin meraih koper Albert dan dibolehkan. Mereka mulai berjalan ke arah parkiran. "Orang ganteng mau pake masker juga masih kelihatan."
"Saya serius."
"Ciri-cirinya udah pas, pake jumpsuit."
Albert menunduk. Decakannya terdengar keras. "Ini bukan jumpsuit."
"Oh, sweetheart?"
"Sweatshirt," ralat Albert. Meski merasa lelah tapi entah kenapa masih bisa meladeni ucapan tidak jelas Joko.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak Ex Zone
RomanceBertemu kembali dengan mantan setelah 9 tahun berpisah tidak pernah ada di bayangan Salsa, seorang pemilik Bee Florist. Mencoba move on dan menjalin hubungan dengan 3 lelaki berturut-turut nyatanya tidak berhasil membuatnya menata hati dengan benar...
