38. Masalah Handuk

12.9K 1.4K 494
                                        

Karena terlambat update, ini 2 part dijadiin satu yaaaw. Tapi komennya semoga tetep rame doong. Soalnya ini manis-manis xixi. Kabar buruknya, draft abis jadi mungkin gak 2 hari sekali lagi. Tp tetap diusahakan yaa :)

Kasian kan Salsa sakit hati mulu. Giliran seneng-senengnya pelan-pelan🥰

🤼🤼

Albert tidak tahu pasti, apa yang bisa membuat hati Salsa lebih baik saat perempuan itu meminta, "Tolong bawa gue ke mana aja, asalkan jangan ke rumah atau toko."

Dan Albert sudah membawa ke berbagai tempat menenangkan. Tapi Salsa menolak turun dari mobil. Tahu bahwa Salsa kelelahan, Albert membawa ke apartemennya. Sekarang di sinilah mereka berada. Salsa yang terus berbaring di tempat tidur menghadapnya. Sedang ia memilih duduk di kursi yang diletakkan samping ranjang tepat di sisi kepala Salsa.

Albert kembali mengarahkan tangannya untuk mengusap wajah Salsa. Perempuan itu bertahan dengan mata terpejam, meski tangis belum juga berhenti. Hening di kamar semakin menambah jelas tangis Salsa yang sebenarnya tak begitu keras.

Albert perhatikan lekat Salsa yang memejam, dengan air mata yang sesekali masih turun. Ia menggerakkan kepalanya untuk semakin dekat, dan menyentuhkan pipinya di atas pipi Salsa. Rasa hangat segera menular padanya. Ia tidak menyangka apa yang ia lakukan justru mengundang isakan Salsa yang sedari tadi berusaha diredam.

"Salsa ...." Albert khawatir. Beberapa jam lalu Salsa masih sesenggukan dengan tangis keras, dan sudah sedikit tenang meski air mata belum juga berhenti, sekarang kembali lagi seperti di awal. "Lo bisa, lo kuat."

Salsa hanya butuh tempat bercerita, Albert yakin. Dan ia berharap keberadaannya mampu membuat Salsa lebih baik.

"Gue ...." Salsa meringis menahan sesak di dadanya. "Apa gue cuma ... beban buat Mama ya?"

Albert menggeleng. Ia membantu Salsa bangkit duduk agar lebih lega untuk menarik napas. Sejenak tatapannya mengarah ke jam di dinding. Pukul 2 siang, dan Salsa baru bercerita. Selama itu Salsa pasti sibuk dengan pemikiran dan perasaan sakitnya sendirian.

"Lo bukan beban." Albert menatap Salsa sembari menata bantal untuk sandaran. Ia dorong perlahan agar tubuh Salsa bersandar di sana. Albert duduk di tepi tempat tidur kali ini. "Apa Tante Widya bilang alasannya kenapa baru ngasih tau?"

Salsa terisak lagi, namun kali ini disertai kekehan. Wajah basah dengan mata sembap itu ia seka dengan lengannya sendiri. "Gue ... nggak mau nangis lagi."

"Nggak apa-apa kalo masih mau nangis." Albert meraih botol air mineral di meja dan mengarahkan ke Salsa. Saat sadar tangan Salsa sedikit gemetar, ia membantu agar Salsa bisa meneguk dengan mudah.

Lagi-lagi Albert bernapas lega lihat Salsa tidak menolak tawarannya.

"Gue capek nangis," keluh Salsa, menyadari air matanya belum berhenti meski ia ingin.

"Mungkin dengan cerita ke gue, bisa bikin lo lebih lega?" Albert tidak berniat memaksa.

"Tapi sambil nangis ceritanya?" Salsa benar-benar habis akal. Ia malu kalau dengan cerita justru tangisnya yang sudah mulai reda tadi justru menjadi.

"Gue tetep dengerin."

Salsa menoleh ke Albert, menatapnya begitu lama dari balik mata yang sembap dan pandangan yang kurang jelas. Kalau Albert sungguh tidak keberatan dengan tangisnya yang tidak berhenti begini, sedang hatinya ingin bercerita sedikit saja, maka akan ia lakukan. "Sebenernya ... gue seneng Mama udah nikah," gumam Salsa tiba-tiba, memutuskan benar-benar berbagi dengan Albert. "Gue cuma ... agak kaget kenapa Mama nggak jelasin padahal udah 3 tahun. Anak macam apa yang nggak tau kalau mamanya menikah?"

Terjebak Ex ZoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang