Kalo komennya rame nyampe 200, nanti langsung update lagi. Yuk cus☄️
🤼♂️🤼♂️
Satu kata. Malu!
Salsa bahkan refleks menyurukkan kepala di dada Albert. Tangannya mencengkeram jas lelaki itu di bagian punggung. Tidak peduli meski nanti mungkin menyebabkan kusut. Detak jantungnya kayaknya maraton di dalam sana. Salsa merasa napasnya makin sesak. Pertama, karena detik sebelum ini ia hampir membiarkan Albert menciumnya. Di bibir! Dan yang kedua, seolah tidak cukup dirundung malu, kepergok pula!
"Hai, Sal."
Astaga, Salsa memejam mendengar suara itu. Salsa rasakan tubuh yang sedang ia peluk erat—walau dibalas tidak seerat yang ia lakukan—sedikit bergetar saat terkekeh. Sialan, bisa-bisanya Albert mampu ketawa?
Juga ... Salsa membuka matanya, meski masih dalam dekapan dada Albert, saat mendapat usapan lembut di puncak kepalanya. Dengan sebuah bisikan, "Disapa Edward."
Sontak Salsa mendongak, menyebabkan dagunya bertabrakan dengan dada Albert dan lelaki itu menunduk. "Malu." Gerak bibirnya bergerak tanpa suara. Semoga Albert mengerti.
"Nggak apa-apa," bisik Albert, paham Salsa mengatakan apa.
"Lo nggak apa-apa, lah gue?" pekik Salsa tertahan, menyebabkan ada kekehan lain dari orang yang tidak jauh jaraknya dengan mereka. Mungkin Edward dengar.
"Cuma Edward, Sal." Albert mengecup singkat pucuk hidung Salsa dan merenggangkan pelukan. "Disapa balik, gih."
Salsa menggigit bibir bawahnya, demi mempersiapkan diri untuk balas menyapa seseorang yang telah ia kenal lama juga. Jadi setelah helaan kesekian, ia menoleh ke Edward yang sama bertumpu di railing.
"Halo, Kak," kata Salsa kikuk. Ia tidak melepas genggaman Albert. Tangannya terasa basah karena gugup, padahal udara malam cukup dingin.
"Apa kabar?" Edward menoleh ke Salsa setelah mengeluarkan vape dari saku jas.
Salsa mengangguk kaku. "Baik. Kak Edward baik juga?"
Edward tersenyum singkat. "Iya. Kalian beneran harus cari ruangan. Itu di lantai atas ada." Lalu tatapannya terarah ke Albert. "You got a condom, right?"
Albert membelalak dengar pertanyaan Edward yang tanpa filter.
Edward segera klarifikasi. "Maksudnya kalo belum ada, aku masih punya stok. Tapi nggak tau udah expired atau belum," kekehnya.
Salsa mengalihkan pandangan mendengar itu. Apa percakapan antara lelaki memang sefrontal ini?
"Kalian dicariin Mama sama Papa, disuruh dinner." Edward kembali menjelaskan niatnya menemukan lovebirds yang kepergok sedang bermesraan tadi. "Dinner dulu aja, Al."
Albert setuju kalau ini. Salsa juga pasti sudah lapar. "Kamu nggak?"
"Nanti. Mau ini dulu," tunjuk Edward ke rokok elektrik di tangannya. "Makanya kamu masuk aja sana. Kan nggak pernah tahan asap rokok."
Salsa mengernyit dengar penuturan Edward, tapi tidak bertanya lebih lanjut karena lebih dulu diajak Albert berjalan. Ia masih kurang fokus di tengah langkahnya sendiri.
"Maafin gue buat yang tadi ya, Sal." Albert mengatakannya dengan lirih, tanpa menghentikan gerak kaki mereka. Ia terdengar lega. "Syukurlah Edward dateng tepat waktu."
Tiba-tiba Salsa ingat apa yang terjadi sebelum ini. Tangannya sontak ia tarik dari genggaman Albert karena panik. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran Albert sekarang, bagaimana penilaian lelaki itu terhadap dirinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak Ex Zone
RomansaBertemu kembali dengan mantan setelah 9 tahun berpisah tidak pernah ada di bayangan Salsa, seorang pemilik Bee Florist. Mencoba move on dan menjalin hubungan dengan 3 lelaki berturut-turut nyatanya tidak berhasil membuatnya menata hati dengan benar...
