13. Maaf dan Terima Kasih

11.1K 1.5K 288
                                        

Akhirnya nongol lagi ☺️

Wattpad-nya gantistatus gak bisa dibuka hampir seminggu ini wkwk. Jadi sekarang karena udah normal, bolehlah bagi komennya soalnya kangen balesin komen hahaha (banyakmaooo baru juga muncul, dasar)

Salahin wattpad aja yang down (🫦 jangan dong)

(Emotikon berantem)

________

"Di sini aja, Jok."

"Kenapa di sini, Bos?"

Albert belum menjawab. Ia mengarahkan pandangan ke kanan, menembus kaca mobil. Sudah beberapa hari ini ia melihat keanehan di jalan raya tepat depan Bee Florist. Maka dari itu ia gunakan mobil lain dan terparkir di seberang jalan kali ini, tidak seperti biasanya.

"Dari dua hari lalu ada yang liatin Bee Florist," gumam Albert, sebenarnya berniat meyakinkan diri sendiri. Tapi jika Joko mendengar maka itu caranya untuk mencari tahu apakah sopirnya melihat keanehan yang sama.

"Dua orang pakai baju hitam dan topi, duduk di ujung jalan masuk ke Bee Florist sampai hampir pagi, Bos."

Albert rasakan debaran dadanya makin kuat. Jika tidak hanya ia yang merasai keanehan itu, tapi Joko juga dan justru menyebutkan ciri-ciri serupa, maka Albert yakin ini memang berbahaya.

"Apa kemungkinan suruhannya Hans, Bos?"

Tidak perlu waktu lama untuk Albert menggeleng sebagai jawaban. Matanya tidak lepas dari dua orang di seberang sana. Bergerak selangkah pun ia intai seolah takut kehilangan jejak.

"Hans cukup gila jabatan, Jok. Saya tau," gumam Albert sebagai jawaban yang sempat tertunda beberapa saat. "Dia nggak akan berani. Baginya lebih penting jabatan daripada Salsa. Kalau dia nekat, dia tau konsekuensinya. Jadi bukan dia."

Bukan tanpa alasan Albert mengatakan demikian. Ia sudah mencari tahu bagaimana kinerja Hans di kantor, yang meski selalu berulah dengan memalsukan surat sakit maupun mudah depresi pada jabatannya, tapi Albert yakin Hans sangat gila dengan pangkat.

"Mereka nggak keliatan sembunyi, tapi nggak begitu menampakkan diri." Joko mengambil kesimpulan.

"Iya." Albert masih memandangi dua orang di seberang.

Ini bahkan sudah jam dua pagi. Ia menelepon mamanya Salsa malam tadi dan bertanya apa ada lembur. Jawaban yang diberikan membuatnya ada di sini sekarang. Lagi-lagi ada lembur. Semua florist perempuan. Lelaki hanya bertugas mengangkut barang produksi, itu pun tadi sore.

Albert masih belum tahu kenapa Salsa tidak juga berinisiatif membuat pos keamanan di depan. Meski Bee Florist berada di tempat sangat strategis karena di depan jalan raya yang ramai hampir sepanjang siang dan malam, namun Albert khawatir.

Penataan dari jalan menuju tempat parkir baginya terlalu jauh. Bagian depan Bee Florist hanya dibatasi gerbang panjang setinggi satu meter. Tidak ada pagar maupun tembok kecuali bagian kanan kiri saja. Apalagi saat lampu dimatikan seperti sekarang, akses pandang seseorang dari jalan raya tidak akan sampai ke sana.

Jika terjadi suatu hal di depan Bee Florist pun, tidak akan ada seseorang yang tahu meski telah menengok dari jalanan. Kecuali berjalan mendekat beberapa langkah. Berhubung Albert dan Joko sudah mengincar dua orang aneh sejak beberapa hari lalu itulah yang membuatnya bisa tahu. Kalau Albert tidak segera turun dari mobil, ia tidak bisa lihat persis apa yang dua orang itu lakukan.

Meski ada dua pohon tabebuya di sudut kanan kiri pelataran dan berwarna kuning terang, tetap tidak menyelamatkan kegelapan di sana. Padahal jika Salsa bisa lebih berhati-hati, perempuan itu harusnya menyalakan penerangan saja.

Terjebak Ex ZoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang