Akhirnya double up juga 😭
Tapi jangan lupa ramein yang ini yaa 🥰
🤼🤼
"Jalang kamu, Sal!"
Salsa tahu sakitnya belum akan sembuh sebelum bisa mengenyahkan Hans dari hidupnya.
Makian itu membuat Salsa memejamkan mata, mengusir denyut sakit yang muncul. Dalam hatinya, ia berusaha menenangkan. Ini sudah biasa. Tanpa dikatakan bahwa ia jalang pun, dulu ia diperlakukan demikian. Dan ini memang sudah biasa ia rasakan. Sakitnya pasti bisa ia lalui.
"Apa perlu aku dobrak pintu ini dan paksa kamu nemuin aku di sini hah? Jawab!"
"Aku lebih nggak akan mau kalo caramu kasar, Hans."
"Kamu harus dikasarin tau nggak? Sok jual mahal!"
Cukup, Salsa rasa ini sudah terlalu menyakitkan. Ia bisa membayangkan kemarahan Hans pasti akan menyebut bahwa dirinya rusak, tidak lagi berharga, kotor, dan lainnya. Salsa masih menyayangi dirinya sendiri, jadi lebih memilih menghindari hal yang membuatnya sakit lebih parah.
Salsa memasukkan ponsel ke saku dengan tangan yang masih gemetar. Namun ia berusaha tenang dan menuju ruang produksi. Gedoran yang saat ini disertai teriakan seperti orang gila, membuat karyawannya makin panik.
"Kalo dia nekat gimana?"
"Gue takut banget kalo dia ngamuk."
"Apa gue hubungi bokap aja biar dijemput ya?"
"Jangan, entar Kak Salsa yang disalahin dan lo disuruh resign."
Bagi Salsa, itu adalah kegagalannya sebagai seorang bos. Memastikan keamanan dan kenyamanan karyawan saja ia gagal.
"Maafin saya," sesal Salsa. Ia masih berpikir bagaimana cara untuk membuat gedoran itu terhenti. Makin lama makin memekakkan telinga. Beban yang ia tanggung lebih berat karena rasa bersalah akan karyawannya jika sampai ada apa-apa. "Saya coba hubungi bagian keamanan dulu."
Salsa menekan-nekan tombol di ponselnya. Tapi belum juga ia sempat menelepon seseorang, gedoran itu berhenti. Ia cekatan mengamati cctv. Tidak ada yang terlihat. Hans sudah tidak ada di area yang terlihat di cctv.
"Apa udah pergi orangnya?"
"Jangan-jangan dia cuma jebak."
"Iya, bisa aja bikin kita lengah terus tiba-tiba udah masuk."
"Lo bikin gue takut banget, astaga."
"Bentar," kata Salsa menengahi perdebatan itu. Ia mengamati ponsel lagi. Kali ini ada seseorang yang terlihat di depan pintu. Tapi bukan Hans.
"Astaga, kaget!" Itu adalah teriakan dari salah satu karyawannya saat gedoran kembali terdengar, namun tidak sekeras sebelumnya. Ini lebih pelan dan intensitasnya juga tak terlalu sering.
"Tenang dulu ya," kata Salsa. Ia harus memastikan satu hal. Kernyitan di dahinya muncul saat seseorang di cctv terlihat menengok ke kanan kiri. Lalu tatapan itu terarah tepat padanya, melambaikan tangan. Mungkin tahu ada cctv di sana. "Ada Albert."
"Akhirnya, makhluk Mars!!!"
"Gue hampir jantungan."
"Emang bener makhluk Mars tuh penyelamat Bumi."
"Bukan pahlawan kesiangan, tapi pahlawan kediniharian."
Salsa masih tertegun. Kenapa dalam sekejap, ramai akan kekhawatiran tadi justru berubah jadi kekehan dan tawa? Apa karyawannya tidak tahu bahwa Albert juga sebahaya itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak Ex Zone
RomantizmBertemu kembali dengan mantan setelah 9 tahun berpisah tidak pernah ada di bayangan Salsa, seorang pemilik Bee Florist. Mencoba move on dan menjalin hubungan dengan 3 lelaki berturut-turut nyatanya tidak berhasil membuatnya menata hati dengan benar...
