Part ini panjang. Mau dibagi dua tapi komennya entar jomplang kek kemarin wkwk.
Ini jadiin satu aja yaa. Happy reading🥰
🤼♂️🤼♂️
Denting tanda pintu terbuka.
Salsa mengangkat pandangan. Mendapati seorang wanita masuk menggendong anaknya.
Denting tanda pintu terbuka lagi.
Salsa mengangkat pandangan lagi. Mendapati dua cewek sekitar belasan tahun masuk melihati display buket.
Denting tanda pintu terbuka untuk kesekian kali.
Salsa mengarahkan pandangan, kali ini dengan sudut matanya. Takut kecewa. Dan benar saja, saat ada sepasang cowok-cewek masuk ke toko, ia mendesah pasrah.
"Kenapa, Sal?"
Salsa masih menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Meski tahu sebenarnya Mira bertanya tidak serius. Itu bentuk keheranan menyadari kalau Salsa terlihat resah. Demi apa pun, baru dua hari Albert tidak mengunjungi tokonya, tapi Salsa sudah kayak cacing kepanasan.
"Percobaan bikin long lasting rose-nya belum jadi?" tanya Mira.
Sekarang Salsa sadar, kalau ternyata Mira bukan bertanya sambil lalu. Karena temannya itu justru menunggunya menjawab, dengan kerutan di dahi menandakan kekhawatiran.
"Bukan," jawab Salsa, kembali menegakkan tubuh. Ia memberi waktu pada Mira saat ada seseorang yang berjalan ke arah mereka dan memesan beberapa buket.
Salsa fokus ke laptopnya, melihati email yang masuk. Semuanya menawarkan kerja sama. Beberapa di antaranya adalah sebuah hotel yang membutuhkan jasa penata bunga. Biasanya untuk kamar pengantin. Cukup sering Salsa mengiyakan permintaan semacam itu karena masih sanggup ia handle. Salsa tinggal membawa beberapa dekorator dan florist untuk memenuhi panggilan klien.
Tapi beberapa email yang masuk ini lebih besar dari penata bunga hotel. Adalah perusahaan event bahkan wedding organizer ternama menawarkan kerja sama dekorasi serta penataan bunga. Bukan di situ masalahnya. Tapi ... Bee Florist bahkan belum sebesar itu. Ia membutuhkan manajemen yang lebih baik serta florist dalam jumlah yang cukup banyak dengan kualitas yang perlu diperbaiki. Bukan ia meragukan karyawannya sekarang. Tapi ia harus merekrut yang lebih berpengalaman, serta membuat karyawan yang sekarang bersamanya meningkatkan skill serta kreativitas.
"Lo pertimbangin buat gabung sama perusahaan event organizer, Sal?" Kali ini Mira bertanya serius. Ia tidak sengaja menoleh, dan ada "Subjek" besar-besar di email, jelas-jelas dari perusahaan ternama yang ia kenal betul.
"Gue pernah nolak kesempatan ini beberapa kali," gumam Salsa. Makin pusing rasanya.
"Sekarang ...?"
"Gue pengin pertimbangin."
"Oke. Masalahnya?" Mira mencoba mengikuti alur pikiran bosnya. Salsa tidak biasanya sebingung ini mengambil keputusan. Ia kenal Salsa yang cepat tanggap, tidak goyah dengan apa pun, apalagi untuk sekadar ambil keputusan yang dimau. Kalau Salsa ingin, kenapa harus sebingung ini?
Saat itu juga terdengar denting lagi, tanda ada pembeli masuk.
Gerakan kepala Salsa yang terlalu cepat menoleh ke pintu justru membuat Mira curiga. Apalagi saat Salsa menggeram lagi menyadari bahwa orang yang muncul sama sekali bukan yang ditunggunya.
"Oh, gue ngerti masalahnya bukan di kerja sama." Mira terkekeh. "Lo harus ketemu makhluk Mars dulu biar tenang itu pikiran."
"Nggak." Salsa menyangkal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak Ex Zone
RomansaBertemu kembali dengan mantan setelah 9 tahun berpisah tidak pernah ada di bayangan Salsa, seorang pemilik Bee Florist. Mencoba move on dan menjalin hubungan dengan 3 lelaki berturut-turut nyatanya tidak berhasil membuatnya menata hati dengan benar...
