Cukup cepat pergerakannya ya 😭
🤼♂️🤼♂️
"Kalau ada apa-apa bilang sama Om dan Tante. Kamu nggak boleh disakiti oleh siapa pun."
Dan siapa sangka, penyebab luka terbesar adalah anak mereka. Salsa meringis pelan mendapati mamanya Albert menatapnya dengan pandangan sayu. Namun ia sadar ada rasa bersalah pekat yang terselip dalam sorot mata biru yang mulai dilapisi selaput bening.
Ditahannya kuat-kuat juga air mata. Salsa sanggup membalas tatapan itu ke mamanya Albert meski sama saja melukai hatinya. Tapi jika ke Albert, entah kenapa ia tidak bisa.
Sekali Salsa lakukan, ada banyak kenangan yang bermunculan. Salsa terlalu lemah dengan perasaannya sendiri. Jadi itu bentuk antisipasi.
"Salsa ... apa kabar?"
Tidak hanya Salsa, dua orang lainnya di sana juga terkejut mendengar pertanyaan yang diakhiri dengan tangis. Ia menggeleng mencoba menenangkan. Tangannya terangkat mengusap wajah yang sudah terdapat kerutan. Albert sangat berengsek kalau sampai jadi alasan kenapa wanita ini menangis. Salsa makin membenci Albert kalau sampai benar kenyataannya begitu.
"Tante, aku baik-baik aja kok." Salsa mengulas senyum, berusaha membuat wanita di hadapannya ini meredakan air mata.
"Iya, Tante cuma kangen."
Salsa tertawa pelan, terdengar sumbang, menggantung. Karena percuma juga, air matanya sudah menetes beberapa. Ia kembali melingkarkan tangannya untuk memeluk. "Aku juga kangen Tante."
Andaikan kelakuan Albert tidak membuat hubungan mereka seperti sekarang ini, mungkin Salsa sudah sangat bersyukur punya mertua yang sangat baik dan menyayanginya sejak ia masih berusia belasan tahun.
Tapi siapa yang tahu bahwa takdir mereka berbeda. Albert memilih jalan untuk meninggalkannya dan Salsa tidak akan mau menerima orang yang dengan mudah memilih pergi.
"Tante nemenin Albert ke sini. Katanya sudah janji mau ke rumah kamu. Tadi jahitannya sempat terbuka jadi Tante agak khawatir dan harus pantau dia terus makanya ikut," ucap mamanya Albert panjang lebar dengan logat luar yang masih sedikit tersisa, tapi tidak terlalu kentara.
Salsa beralih memperhatikan Albert yang duduk di seberangnya. "Lukanya makin parah?" tanyanya.
Albert mengerjap. Ia tidak tahu itu memang benar khawatir atau formalitas di depan mamanya. Tapi ia tetap menjawab. "Enggak."
Salsa belum mengalihkan pandangannya dari tangan kanan Albert yang terkulai di samping tubuh. Beberapa saat ia memastikan ucapan lelaki itu sebelum kembali terfokus ke wanita di sampingnya. Ia bisa tahu raut lega, bahagia, tapi juga seperti ada kata yang ingin diucapkan dan tidak kunjung terlontar.
Setahu Salsa, mamanya Albert bukan tipe orang tua yang terlalu memaksakan kehendak. Jadi pasti mengerti pilihannya dan Albert yang berjalan ke arah berbeda.
"Oh iya, Albert katanya belum makan?" Widya memecah keheningan. "Kalau Tante masakin nasi goreng kesukaan kamu kayaknya terlalu lama ya. Kamu belum minum obat juga kata Mama kamu."
Albert sudah menolak ini berulang kali tapi keharusan minum obat memang tidak bisa diabaikan. Jadi ia pasrah saja saat dihidangkan nasi dengan sayur dan lauk rumahan yang dulu juga kerap dirasakannya kalau ke sini. Sangat berbeda saat di rumahnya di mana ada personal chef dengan menu mewah dan kebarat-baratan. Bukan Albert tidak suka, tapi sejak merasakan masakan di rumah Salsa pertama kali dulu, ia menemukan hal baru yang membuatnya nyaman.
"Mama suapin." Valencia baru akan beranjak saat Albert menggeleng.
"Salsa mau bantu kok, Ma," jawab Albert sembari tersenyum ke Salsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak Ex Zone
RomanceBertemu kembali dengan mantan setelah 9 tahun berpisah tidak pernah ada di bayangan Salsa, seorang pemilik Bee Florist. Mencoba move on dan menjalin hubungan dengan 3 lelaki berturut-turut nyatanya tidak berhasil membuatnya menata hati dengan benar...
