10. Teror

11.2K 1.5K 253
                                        

Belum selesai sebenernya nulis part ini, tapi gak papa di-up dulu.

Nanti sore/malem update lagi yaaa, kalo sampe 200-250 komen xixi

🤼🤼

"Dasar Hans otaknya di selangkangan!"

Salsa mendengar gerutuan Mira yang penuh emosi. Ia menumpukan dua siku di meja untuk menyangga kepalanya. Terasa pusing. Meski Hans sudah pergi, lalu disusul Albert, tetap saja ia tidak bisa tenang.

"Dia rendahin lo tau, Sal. Nggak lo laporin?"

"Gue udah biasa direndahin," gumam Salsa. Ia menatap kekagetan dalam pandangan Mira padanya.

"Lo ... bisa setenang ini?" Mira sungguh takjub meski belum tahu detail maksud dari kalimat biasa direndahin.

Tidak ada yang tahu sesakit apa pernah Salsa lalui hingga bisa setenang sekarang. Ia pikir semua baik-baik saja. Mengingat masa lalu memang sakit, tapi ia coba menerima semua luka dengan lapang dada. Tapi bertemu Albert kembali ternyata tidak semudah itu.

"Mir," panggil Salsa pelan. Tatapannya sudah mengabur. Ia menahan kerjapannya agar air matanya tidak keluar. "Albert itu ...." Salsa belum sanggup melanjutkan.

Selanjutnya hanya ada hening di seisi ruangan Salsa. Ia hela napas dengan berat, seolah menunjukkan bahwa mengucapkan satu kenyataan pada Mira adalah hal yang menguras tenaga. Mira memang pernah ia ceritakan perihal cinta SMA-nya yang kandas, akibat ditinggalkan dengan kejam dan menyakitkan. Namun Mira tidak tahu sejauh apa arti kejam yang ia maksud.

"Albert ... pacar pertama gue. Dia ...," Salsa memejam sebentar. "Lo tau maksud gue."

Mira masih diam, menatapi kepala Salsa yang kini tertunduk di meja. Ia bahkan bisa melihat lengan Salsa yang digunakan untuk menumpu kepala, kini basah karena air mata.

"Gue coba biasa aja ketemu dia, padahal nggak bisa," gumam Salsa. Ia memejamkan mata agar Mira tidak tahu sebesar apa ia menyimpan kesakitannya sendiri. "Hati gue sakit. Bukan karena gue masih cinta sama dia. Sembilan tahun udah bikin rasa sayang gue hilang, tapi kenapa sakitnya tetep ada ya, Mir? Lo tau nggak gimana cara nyembuhinnya?"

Sekarang Mira mengerti. Salsa bukan tenang seperti yang orang lain lihat. Salsa hanya mencoba menerima kehadiran Albert kembali, sebagai teman biasa. Salsa pasti berpikir sembilan tahun sudah membuat semua luka sembuh, tapi ternyata tidak.

"Tentang Hans yang semalem hampir ...." Salsa menarik satu tangannya ke samping tubuh. Ia masih gemetar mengingat itu. "Jujur, liat dia bikin gue takut. Tapi gue pikir lagi, kenapa gue harus takut kalo di masa lalu aja gue pernah diperlakukan lebih parah dari itu?"

"Sal ...." Mira terkejut luar biasa. Cerita tentang Hans yang bilang ingin mencicip secara paksa saja terdengar sangat berengsek, tapi Salsa bilang Albert melakukan lebih dari itu? Artinya Albert seberengsek itu?

"Albert emang berengsek," suara Salsa tersendat di akhir. Ia tidak lagi menahan air mata, dan kini isakannya terdengar. "Bukan berengsek yang kayak Hans, bukan. Dia nggak pernah maksa gue sekasar cara Hans. Tapi cara dia ninggalin gue di saat keadaan gue sama nyokap lagi jatuh-jatuhnya, saat gue pikir cuma dia tujuan gue lari, dia malah pergi. Jauh banget."

Mira menumpukan tangannya di bahu Salsa, mengusap pelan. Berusaha membuat Salsa tahu bahwa ia masih mendengarkan.

"Dia pamit, cuma buat bilang kalo dia akan terus sayang sama gue. Nggak ada penjelasan apa-apa. Padahal kalo dia bilang minta gue nunggu ... gue pasti akan nunggu."

Terjebak Ex ZoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang