Alarm berbunyi. Aku terbangun dalam keadaan setengah sadar, menguap. Satu jam lagi matahari terbit, aku harus bersiap-siap. Senin ini, tidak ada jam pelajaran. Seluruh kelas memakai seragam olahraga, kegiatan class meeting dalam satu minggu ini di sekolah sebelum liburan panjang.
Ketika aku membuka pintu, sudah banyak siswa di lorong dengan membawa ransel masing-masing. Aku berjalan menuruni tangga, mengikuti arus teman-teman yang lain menuju aula makan. Sesekali teman sekelasku menyapa, aku tersenyum sebagai jawaban. Seperti biasa, ruang aula selalu sudah ramai saat aku datang. Aku langsung mengikuti antrean mengambil makanan.
"Hai, Ana!" Seorang teman sekelas menyapa, ia mendapat barisan antrean di belakangku.
"Kemarin mama kamu jemput, ya?" teman kelasku bertanya.
Aku menggeleng, "Memangnya kenapa?" Aku maju selangkah, seluruh antrean maju selangkah.
"Kemarin kamar kamu kosong padahal aku mau ajak ke perpus. Mamaku tidak jemput kemarin, jadi aku pikir ngerjain tugas bareng kamu bakal seru," teman kelasku menjelaskan. Saat dia bilang kamarku kosong, ada kilat kecewa disana. Aku tahu kemarin dia merasa kesepian. Orangtuanya memang tidak seperti orangtua Aby dan Ares yang selalu rutin menjemput setiap minggu. Teman kelasku ini memang sering datang ke kamarku kalau orangtuanya tidak datang menjemput. "Omong-omong Kemarin kamu kemana?"
Rasanya aku enggan menjawab, tapi ini demi kesopanan aku menjawab seadanya, menyebutkan rumah sakit saja tanpa embel-embel menemani June.
"Waahh, berarti berita itu benar, dong?" suara teman kelasku mendadak terdengar antusias dengan ekspresi wajah yang dibuat heboh. Itu membuat beberapa pasang mata melirik kami, termasuk Tamara dan teman-temannya yang duduk beberapa meja tak jauh dari antrean.
Antrean maju beberapa langkah.
Aku tidak tahu berita apa yang dimaksud oleh teman kelasku. "Ada berita apa tentang aku?"
Kali ini teman kelasku tidak langsung menjawab, ia malah tersenyum dengan tampang aneh dihadapanku seolah sedang menggoda bercampur ekspresi tidak percaya seolah aku berbohong. "Kemarin kalian berdua ke rumah sakit, kan?" teman kelasku sekarang menaik-turunkan alisnya, membuatnya terlihat semakin aneh dimataku. "Ada teman yang melihat kalian disana."
Kakiku yang hendak melangkah tiba-tiba saja terhenti, berbalik. "Jangan menyebar gosip yang tidak-tidak. Aku pergi sama dia karena dia belum tahu rumah sakit terdekat dari sini." Untuk kalimat terakhir, aku akui memang aku berbohong. Tapi tidak salah, kan, berbohong untuk kebaikan?
"Iya, sih. Dia masih baru disini."
Antrean menyisakan beberapa orang lagi. Kami maju setiap orang yang paling depan selesai mendapat makanan.
"Eh, tapi kata temanku, kemarin pantai pasir putih dengan Batu karang itu tutup." Teman kelasku kembali dengan topik berbeda, tapi kali ini menarik minatku sampai aku berbalik untuk sepenuhnya menghadap dia. "Katanya ada orang kaya yang menyewa seluruh pantai seharian!"
Aku hampir saja tersedak oleh ludahku sendiri setelah mendengarnya. "Pantai terdekat dari kota, bukan?" Pertanyaan ini hanya untuk memastikan, apakah benar itu June yang melakukannya?
Teman kelasku mengangguk.
"Heh, kalian! Cepat maju!" seruan terdengar dari barisan belakang.
Aku meminta maaf, buru-buru mengambil peralatan makan dan menerima lauk dan menu lainnya yang diambilkan oleh petugas. Baru saja aku duduk di salah satu kursi kosong, seseorang menepuk pundakku.
"Hei, Iliana! Tadi kenapa?" Ares, dia duduk di sebelahku dengan nampan makanannya. Tidak terlihat Aby di manapun.
Aku menggeleng, tidak apa-apa. "Aby di mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ILY, Iliana
Romansa(vote dari kalian buat aku semangat menulis) Kenyataannya, dia berbohong. Tapi aku tahu itu bukan salahnya. Karena nyatanya, aku hanyalah salah satu figuran dalam hidupnya.~ Namaku, Iliana. Aku sama seperti kalian yang menggemari seseorang terkenal...
