Bagian 33

7 1 0
                                        

Yash! Hari ini update 2 bab (bg 32 & bg 33) Semoga ini bisa menebus kemalesan aki yg updatenya lama hehe :D

==========

Waktu sudah hampir petang. Dokter Dian baru saja selesai memasang alat transfusi darah di tubuh June. Satu infus lagi dipasang di lengannya, menyalurkan darah untuk masuk ke dalam tubuhnya.

Ia masih setia berdiri di sana sampai setengah jam kemudian sambil sesekali mengecek alat tersebut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ia masih setia berdiri di sana sampai setengah jam kemudian sambil sesekali mengecek alat tersebut.

“Kondisinya buruk,” Dokter Dian berbalik, mendekat untuk duduk di sebelahku. “Tapi aku harap dia akan segera baik-baik saja.”

Aku mengucap terima kasih. Kata yang sebelumnya tidak pernah aku ucapkan dengan penuh harap seperti saat ini. Kalau ada yang bisa aku lakukan dari sekedar mengucap kata tersebut, maka aku pasti akan melakukannya untuk menebusnya.

“Aku harap dia melewati masa kritisnya malam ini.” Dokter Dian menghela napas, menoleh ke arah June. “Dan kamu,” Katanya padaku. “Seharusnya kamu istirahat. Jangan sampai kamu juga jatuh sakit karena terus menunggunya hingga siuman. Anak itu bisa saja besok atau lusa baru sadar.”

Aku mengangguk. Tubuhku memang terasa lelah, dan aku bahkan lupa kapan waktu terakhir kali aku makan.

Sekarang setidaknya aku bisa lega setelah memastikan June mendapat penanganan yang dia butuhkan. Dokter Dian sudah melakukan usaha terbaiknya. Kini hanya perlu menunggu June untuk berjuang melawan rasa sakitnya dan membuka matanya.

Aku harap dia akan segera baik-baik saja. Aku ingin melihat matanya menatap mataku.

“Ngomong-ngomong, sepertinya aku ingat siapa kamu.” Dokter Dian membuka topik pembicaraan.

Aku menoleh, kini sepenuhnya memperhatikan Dokter paruh baya itu.

“Ya, anak itu pernah mengajak kamu saat mendonor darah. Aku lupa kapan persisnya karena anak itu rutin mendonor darahnya setiap bulan,” ia diam sejenak untuk tertawa pelan.

Itu membuatku kebingungan sendiri. Apa yang lucu sampai Dokter Dian tertawa seperti itu? Lagipula, saat di rumah sakit tadi juga aku sudah bilang begitu, kan? Aku pernah menemaninya. Sepertinya dokter ini sudah mulai jadi pelupa.

“Anak itu sebenarnya benci ketika darahnya dihisap katanya. Tapi dia bilang tidak bisa hidup tenang tanpa tabungan. Dalam hal ini, tabungan yang dia maksud adalah darahnya sendiri,” ia melanjutkan, menoleh padaku. “Kamu tahu, kan, golongan darahnya spesial? Makanya kamu mencari aku sampai ke rumah sakit.”

“Aku juga baru tahu kalau dia salah satu dari orang yang bergolongan golden blood.” Aku menjawab pelan.

Tidak, sebenarnya aku tahu sejak saat itu. Tapi aku belum memahami maksudnya karena atensiku sudah teralih pada Tamara dan Rania. Kemudian dengan segala kejadian buruk yang menimpaku pada hari-hati setelahnya, ternyata aku melupakannya.

ILY, IlianaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang